Puasa Bisa Bantu Detoks Jiwa, Psikiater Ungkap Dampaknya bagi Mental
Ilustrasi puasa. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga membantu menata ulang emosi, stres, dan pola pikir menurut penjelasan psikiater.(Freepik)
21:20
20 Februari 2026

Puasa Bisa Bantu Detoks Jiwa, Psikiater Ungkap Dampaknya bagi Mental

Puasa selama ini dikenal sebagai ibadah yang menahan makan dan minum, tetapi dalam pandangan ilmu kesehatan jiwa, puasa juga berdampak pada kondisi mental seseorang.

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa puasa dapat menjadi proses “detoksifikasi psikologis” atau penataan ulang kondisi batin.

“Detoksifikasi psikologis bukan berarti mengeluarkan racun secara fisik, tetapi menggambarkan proses penataan ulang pola pikir, emosi, dan kebiasaan mental yang selama ini mungkin terlalu penuh distraksi dan tekanan,” ujar dr. Lahargo dalam keterangan yang diterima Kompas.com pada Kamis (19/2/2025).

Menurut dia, pembatasan makan yang dilakukan dengan sadar, baik dalam puasa religius maupun intermittent fasting, dalam sejumlah penelitian dikaitkan dengan suasana hati yang lebih stabil, kontrol diri yang lebih baik, serta rasa makna hidup yang lebih kuat.

Baca juga: Puasa Bisa Picu Gula Darah Turun Drastis, Ini Peringatan Dokter untuk Pasien Diabetes

Puasa melatih regulasi emosi

Dr. Lahargo menjelaskan bahwa puasa membantu seseorang belajar mengatur emosi. Dalam ilmu psikiatri, kemampuan ini disebut regulasi emosi, yaitu kemampuan mengelola perasaan tanpa kehilangan kendali.

Saat berpuasa, seseorang tetap merasakan lapar, lelah, atau keinginan tertentu, tetapi tidak langsung menuruti dorongan tersebut.

Kondisi ini melatih bagian otak bernama prefrontal cortex yang berperan sebagai pengendali atau “rem” emosi.

Bagian otak tersebut membantu mengurangi reaksi yang terburu-buru, meningkatkan kesabaran, serta memberi waktu untuk berpikir sebelum bertindak.

“Puasa melatih hati untuk merespons dengan sadar, bukan sekadar bereaksi,” kata dr. Lahargo.

Baca juga: Tips Pola Makan Sehat Saat Puasa Ramadhan, Jangan Asal Kurangi Karbohidrat

Menguatkan makna hidup lewat spiritual coping

Ilustrasi puasa. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga membantu menata ulang emosi, stres, dan pola pikir menurut penjelasan psikiater.Freepik Ilustrasi puasa. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga membantu menata ulang emosi, stres, dan pola pikir menurut penjelasan psikiater.

Puasa biasanya disertai dengan kegiatan spiritual seperti doa, sembahyang, membaca kitab suci, dan refleksi diri.

Dalam psikologi, cara ini dikenal sebagai spiritual coping, yaitu menggunakan nilai dan keyakinan spiritual untuk menghadapi tekanan hidup.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mempraktikkan coping spiritual cenderung memiliki rasa makna hidup yang lebih kuat dan lebih mampu menerima situasi sulit dengan tenang.

“Dalam hening puasa, jiwa belajar menemukan arti di tengah keterbatasan,” ujar dr. Lahargo.

Baca juga: Sakit Diabetes Boleh Puasa? Dokter Ungkap Syarat dan Risiko yang Wajib Diwaspadai

Membantu tubuh dan pikiran mengelola stres

Puasa yang dijalani dengan sehat juga dapat membantu tubuh dan pikiran beradaptasi dengan perubahan rutinitas.

Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbaikan persepsi stres dan kesejahteraan psikologis selama periode puasa religius.

Proses ini berkaitan dengan pengaturan hormon stres dan peningkatan daya tahan mental atau resiliensi. Ruang jeda dari kebiasaan sehari-hari memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat.

“Puasa bukan sekadar menahan makan, tetapi memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat,” katanya.

Kesempatan reset mental lewat neuroplastisitas

Dari sisi biologis, puasa juga berhubungan dengan peningkatan zat di otak bernama brain-derived neurotrophic factor atau BDNF.

Zat ini berperan dalam neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak membentuk jalur baru dan beradaptasi dengan pengalaman.

Kondisi ini memberi peluang bagi seseorang untuk memperbaiki kebiasaan lama dan membangun pola pikir yang lebih sehat.

“Saat pola lama berhenti sejenak, otak menemukan ruang untuk bertumbuh,” ujar dr. Lahargo.

Baca juga: Pentingnya Cek Gula Darah Sebelum Puasa bagi Penderita Diabetes

Melatih kontrol diri dan menunda kepuasan

Pada dasarnya, puasa juga merupakan latihan nyata dalam menunda kepuasan atau delay of gratification. Kemampuan menunda dorongan ini berkaitan dengan kesehatan mental jangka panjang dan pengambilan keputusan yang lebih matang.

Latihan ini membantu mengurangi perilaku impulsif dan meningkatkan disiplin diri.

“Yang dilatih dalam puasa bukan sekadar perut, tetapi kemampuan berkata ‘cukup’,” tuturnya.

Pikiran lebih jernih dan fokus

Sebagian orang merasakan pikiran yang lebih jernih selama puasa. Kondisi ini dapat terjadi karena berkurangnya rangsangan berlebihan dan meningkatnya kesadaran diri.

Fokus menjadi lebih terarah dan prioritas hidup terasa lebih jelas.

“Ketika distraksi berkurang, pikiran menemukan arah,” kata dr. Lahargo.

Empati dan hubungan sosial menguat

Puasa juga sering diiringi kegiatan berbagi dan kebersamaan. Interaksi sosial yang hangat menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental.

Melalui kebersamaan tersebut, empati dan rasa saling peduli dapat tumbuh lebih kuat.

“Puasa tidak hanya mendekatkan diri pada Tuhan, tetapi juga pada sesama,” ujarnya.

Puasa sebagai jeda untuk menyeimbangkan jiwa

Dr. Lahargo menegaskan bahwa puasa merupakan perjalanan psikologis dan spiritual yang membantu seseorang memperlambat langkah di tengah kehidupan yang serba cepat.

Jeda ini memberi kesempatan untuk kembali memahami hal yang benar-benar penting dalam hidup.

“Puasa adalah ibadah yang memberikan jeda bagi raga untuk membersihkan yang berlebihan, sehingga jiwa kembali seimbang,” kata dr. Lahargo.

Ia berharap masyarakat dapat menjalani puasa secara sehat dan sadar, bukan hanya sebagai ritual fisik, tetapi juga sebagai cara menjaga kesehatan jiwa.

Baca juga: Pola Makan Sehat yang Dianjurkan Kemenkes agar Puasa Tetap Bertenaga

Tag:  #puasa #bisa #bantu #detoks #jiwa #psikiater #ungkap #dampaknya #bagi #mental

KOMENTAR