Pedagang Pasar Bilang Harga MinyaKita Tak Pernah Rp 15.700/Liter
Penjual di Kota Makassar mematok harga Minyakita di pasaran jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]
22:39
20 Februari 2026

Pedagang Pasar Bilang Harga MinyaKita Tak Pernah Rp 15.700/Liter

Baca 10 detik
  • IKAPPI melaporkan harga MinyaKita di Jabodetabek tetap di atas HET Rp15.700, bahkan mencapai Rp17.000 menjelang Ramadan 2026.
  • Mendag mengakui harga MinyaKita rata-rata Rp16.020 (di atas HET) berdasarkan data SP2KP, meski sudah ada penurunan.
  • Persoalan distribusi dan pengawasan belum optimal menekan harga MinyaKita dan telur ayam ras di tingkat pasar tradisional.

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menyatakan harga minyak goreng subsidi MinyaKita di wilayah Jabodetabek masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET). Bahkan hingga awal ramadan, angkanya terus naik melebihi batas yang ditetapkan.

Sekretaris Jenderal IKAPPI, Reynaldi Sarijowan, mengatakan hasil pantauan pedagang menunjukkan harga MinyaKita belum pernah menyentuh batas harga resmi yang ditetapkan pemerintah. Ia menilai kondisi ini sudah berlangsung cukup lama di pasar tradisional.

"MinyaKita yang enggak pernah menyentuh HET, di atas HET, di atas Rp 15.700 harganya. Sudah mencapai Rp 17.000 bahkan hari ini," kata Reynaldi kepada Suara.com seperti dikutip Jumat (20/2/2026).

Minyak goreng Minyakita yang dijualkan di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis (20/3/2025). ANTARA/Luthfia Miranda Putri. PerbesarMinyak goreng Minyakita yang dijualkan di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis (20/3/2025). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.

Ia menjelaskan, harga di atas HET menunjukkan persoalan distribusi dan tata niaga minyak goreng subsidi masih terjadi di lapangan. Menurutnya, pengawasan yang dilakukan pemerintah belum sepenuhnya mampu menekan harga di tingkat pasar.

Reynaldi juga menyinggung upaya pemantauan pasar yang dilakukan pemerintah sejak awal tahun. Ia menyebut program pengawasan harga belum menghasilkan perubahan signifikan di tingkat pedagang.

"Ada pasar pantauan-lah per Januari oleh Kementerian Perdagangan untuk memonitoring Minyakita agar bisa di bawah HET. Faktanya ternyata masih di atas HET," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengklaim harga pangan dan kebutuhan pokok nasional masih relatif terkendali menjelang Ramadan 2026. Meski begitu, ia mengakui masih ada beberapa komoditas yang dijual di atas harga eceran tertinggi (HET), terutama minyak goreng rakyat (Minyakita) dan telur ayam.

Budi mengatakan, pemantauan harga dilakukan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) milik Kementerian Perdagangan. Dari data tersebut, ia menilai kondisi harga nasional masih dalam batas wajar.

"Ini saya cek di SP2KP, berdasarkan data yang kami punya di SP2KP, yang harganya ter-update setiap saat, kalau kita lihat harga [pangan dan kebutuhan pokok] rata-rata nasional memang bagus," ucapnya di kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Rabu (18/2/2026).

Namun, ia menyoroti harga Minyakita yang masih berada di atas HET. Berdasarkan data SP2KP, minyak goreng program pemerintah itu saat ini dijual sekitar Rp 16.020 per liter, sedangkan HET ditetapkan Rp 15.700.

"Ada memang yang di atas HET, misalnya MinyakKita. Hari ini harganya Rp 16.020, padahal HET-nya Rp 15.700," urainya.

Meski masih melampaui batas, Budi menekankan harga MinyaKita sebenarnya sudah turun setelah intervensi pemerintah. Sebelum aturan baru diterbitkan, harga rata-rata bahkan sempat menyentuh sekitar Rp 16.800 per liter.

"Namun, kemarin sebelum keluar peraturan menteri, rata-rata harganya Rp16.800, jadi sekarang sudah mengalami penurunan," imbuh dia.

Selain minyak goreng, telur ayam ras juga masih dijual di atas HET. Saat ini harga telur disebut berada di kisaran Rp 30.750 per kilogram, sedangkan HET ditetapkan Rp 30.000.

Di luar dua komoditas tersebut, Budi mengklaim sebagian besar harga pangan masih berada di ambang normal. Ia mencontohkan harga daging sapi yang saat ini sekitar Rp 133.618 per kilogram, masih di bawah HET sebesar Rp 140.000.

Komoditas lain seperti bawang putih juga disebut relatif aman. Berdasarkan data SP2KP, harga rata-rata nasional bawang putih berada di Rp 36.875 per kilogram, lebih rendah dibanding HET Rp 38.000.

"Kemudian bawang putih, harga rata-rata nasionalnya Rp 36.875, sedangkan HET-nya Rp 38.000," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Budi mendorong masyarakat ikut memantau harga pangan melalui sistem SP2KP yang terbuka untuk publik. Ia menilai transparansi data menjadi penting agar kondisi pasar bisa dipantau bersama.

"Jadi, nanti teman-teman media bisa cek sendiri di data SP2KP, karena itu terbuka untuk siapa saja, untuk masyarakat umum," lanjut Budi.

Editor: Achmad Fauzi

Tag:  #pedagang #pasar #bilang #harga #minyakita #pernah #15700liter

KOMENTAR