Saat Dunia Terasa Cepat, Penting untuk Memiliki “Pit Stop” bagi Jiwa
Ilustrasi stres.(Google Gemini AI)
07:40
16 Februari 2026

Saat Dunia Terasa Cepat, Penting untuk Memiliki “Pit Stop” bagi Jiwa

- Memasuki bulan Ramadhan, banyak orang berharap menemukan kembali ketenangan yang terasa hilang di tengah ritme hidup modern.

Kesibukan kerja, target pribadi, dan tekanan sosial membuat hari-hari berjalan cepat tanpa jeda. Tak sedikit yang menyimpulkan bahwa dunia yang bergerak semakin cepat adalah penyebab utama kecemasan dan hilangnya rasa tenang.

“Kita punya masalah dengan anxiety (kecemasan) dan kecepatan hidup. Hidup yang begitu cepat, maka orang akan bekerja dengan tertekan, lalu akan terkena anxiety.”

Hal tersebut dikatakan oleh pendakwah Muhammad Nuzul Dzikri dalam Wardah Ramadhan Gathering bertajuk “Tenang, Kuatkan Langkahmu” di Hotel Fairmont Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Baca juga: Bukan Sekadar Materi, Inilah 6 Bentuk Nafkah Batin yang Menjaga Keharmonisan Pernikahan

Kecepatan hidup bukan biang masalah

Menurut Nuzul, tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan saat ini memang bergerak sangat cepat. Akan tetapi, kecepatan hidup bukanlah “pembunuh” rasa tenang.

“Pembunuh rasa tenang kita adalah ketika kita tidak punya ruang hening antara kita dengan Allah SWT di saat tekanan datang, di saat kerjaan sedang padat-padatnya. Kita tidak punya oasis di tengah gurun pasir,” jelas Nuzul.

Padahal, kehidupan diciptakan untuk dinikmati, meskipun dihadapkan pada tekanan. Menurut dia, ini tentang bagaimana seseorang menjalankan setiap takdir dengan sebaik-baiknya.

Tekanan akibat target pribadi

Ia menuturkan, banyak tekanan muncul dari target yang dibuat sendiri, bahkan seolah-olah lebih kuat daripada takdir Tuhan.

“Yang membuat kita tertekan bukan kecepatan. Yang membuat kita tertekan adalah target-target yang kita buat sendiri, dan bahkan kita anggap itu lebih kuat dari takdir Allah SWT,” ujar Nuzul.

Baca juga: Pakai Produk Kecantikan, Pahami Batas Merawat Diri dan Obsesi

Ketika realitas tidak sesuai dengan harapan, kekecewaan pun muncul. Ketika Allah SWT memberi takdir yang berbeda, yang membuat hidup terasa cepat sampa diri tertekan, kita menjadi “hancur” dan menyalahkan kehidupan.

Nuzul menuturkan, di sinilah Ramadhan seharusnya menjadi momentum evaluasi. Bulan ini menghadirkan kesempatan untuk menata ulang orientasi hidup, dan menempatkan takdir sebagai bagian dari perjalanan, bukan ancaman.

Belajar dari sistem "Pit Stop" Formula 1

Nuzul mengatakan, yang menjadi persoalan di tengah hidup yang terasa begitu cepat ini, adalah hilangnya “ruang hening” di tengah tekanan.

Baca juga: Duduk Diam dalam Kebosanan, Cara Baru Gen Z Perbaiki Fokus

Pebalap Manor Racing asal Indonesia, Rio Haryanto, melakukan pit stop saat menjalani balapan GP China di Sirkuit Internasional Shanghai, Minggu (17/4/2016).MANOR RACING Pebalap Manor Racing asal Indonesia, Rio Haryanto, melakukan pit stop saat menjalani balapan GP China di Sirkuit Internasional Shanghai, Minggu (17/4/2016).

Berkaitan dengan bulan suci Ramadhan, ruang hening inilah yang seharusnya dihidupkan kembali.

Sebab, bulan suci bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetap juga waktu untuk menurunkan tensi kehidupan. Ia menyebutnya setara dengan pit stop pada pertandingan Formula 1.

Baca juga: Lelah Ikuti Standar Kecantikan, Cobalah Jeda dari Media Sosial

Dalam balapan, mobil yang sedang melaju kencang tetap harus berhenti untuk mengisi bahan bakar dan mengganti ban.

Meskipun balapan terasa mengasyikkan, kunjungan ke pit stop tetap harus dilakukan guna menjaga kondisi kendaraan tetap dalam keadaan yang optimal.

Sama halnya dengan Formula 1, kehidupan manusia tidak bisa dijalani tanpa jeda.

“Hidup tidak bisa demikian. Kalau tidak ambil pit stop, hidup akan hancur,” tegas Nuzul.

“Tidak ada yang salah dengan kecepatan. Yang salah adalah kita tidak punya formula untuk menghadapi kecepatan. Kita memilih untuk masuk ke dalam kecepatan kehidupan, tapi kita harus punya waktu suci antara kita dan Allah SWT,” sambung dia.

Baca juga: Sudah Tidur Cukup tapi Masih Lelah? Ternyata Tubuh Butuh 7 Jenis Istirahat Ini

Ramadhan sebagai waktu menurunkan tensi hidup

Ilustrasi bulan Ramadhan.Google Gemini AI Ilustrasi bulan Ramadhan.

Ramadhan adalah pit stop tahunan yang disediakan bagi umat Islam. Momen ini adalah waktu bagi umat Muslim untuk menurunkan tensi kehidupan.

Terutama pada malam Lailatur Qadar, Nuzul menyarankan agar manusia memaksimalkan momen tersebut untuk menenangkan diri dan beristirahat sejenak dari sibuknya dunia.

Baca juga: Sering Diabaikan, Istirahat Penting untuk Menjaga Performa Olahraga

“Kita kalau mau tenang harus punya pit stop. Tidak bisa hanya dengan narasi, dengan permainan kata, lalu tenang. Itu mustahil. Manusia tidak demikian,” ujar dia.

Nuzul juga menyoroti kecenderungan sebagian umat Muslim yang mencari pelarian di ruang digital, alih-alih membangun koneksi spiritual.

Misalnya dengan curhat dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau mencari validasi di media sosial.

Pentingnya memanfaatkan waktu suci

Islam memiliki banyak pit stop yang bisa dilakukan setiap hari dan setiap tahun, yaitu kegiatan shalat lima waktu, dzikir pagi dan petang, bulan Ramadhan, umrah, dan haji.

Akan tetapi, masih banyak umat Muslim yang tidak memanfaatkannya.

Baca juga: Meditasi, Teknik Self-healing yang Bisa Dilakukan Meski Saat Sibuk

Ilustrasi shalatShutterstock/Gatot Adri Ilustrasi shalat

“Agama kita kaya akan ini (pit stop), tapi kita tidak amalin. Ramadhan justru tambah sibuk, urus sana sini. Jangan salahkan siapa-siapa ketika termakan dengan kecepatan dunia karena tidak ada pit stop,” tutur Nuzul.

“Justru sebaliknya, ketika tensi lagi tinggi-tingginya, dan masalah lagi besar-besarnya, yang ‘menang’ adalah yang mengambil pit stop. Kecepatan hidup tidak ada artinya, dan tidak bisa merenggut ketenangan,” ucap dia.

Ramadhan menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang terus berlari, manusia tetap membutuhkan jeda untuk kembali menenangkan hati.

Baca juga: Silent Walking, Tren Jalan Kaki Tanpa Musik yang Bikin Pikiran Lebih Tenang

Tag:  #saat #dunia #terasa #cepat #penting #untuk #memiliki #stop #bagi #jiwa

KOMENTAR