Jika Anak Sudah Dewasa Hanya Berkunjung Saat Liburan dan Pulang Lebih Awal, Terdapat 7 Momen yang Mungkin Tidak Anda Ingat Menurut Psikologi
Ketika anak-anak tumbuh dewasa, hidup mereka perlahan bergerak menjauh dari rumah. Mereka memiliki pekerjaan, pasangan, tanggung jawab, dan lingkaran sosial sendiri. Namun bagi banyak orang tua, ada rasa perih yang sulit dijelaskan ketika anak-anak hanya pulang saat liburan—dan bahkan selalu pulang sehari lebih awal.
Sebagai orang tua, wajar jika muncul pertanyaan: Apakah mereka tidak betah? Apakah ada yang salah? Apakah saya melakukan sesuatu?
Menurut psikologi, dinamika ini sering kali bukan tentang kurangnya cinta. Hubungan orang tua dan anak dewasa sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu—termasuk momen-momen kecil yang mungkin tidak lagi Anda ingat, tetapi masih membekas di benak mereka.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat 7 momen yang mungkin tidak Anda sadari, tetapi bisa memengaruhi bagaimana anak dewasa merasa ketika kembali ke rumah.
1. Momen Ketika Perasaan Mereka Dianggap Berlebihan
Dalam proses tumbuh kembang, anak sering kali belajar memahami emosinya melalui respons orang tua. Jika dulu mereka pernah mendengar kalimat seperti:
“Ah, cuma begitu saja kok nangis.”
“Kamu terlalu sensitif.”
“Sudah, jangan lebay.”
Mungkin bagi orang tua itu hanyalah respons spontan. Namun bagi anak, itu bisa menjadi sinyal bahwa perasaan mereka tidak sepenuhnya diterima.
Menurut teori validasi emosi dalam psikologi, anak yang merasa emosinya sering diabaikan cenderung menjaga jarak secara emosional ketika dewasa. Mereka mungkin tetap datang saat liburan, tetapi membatasi durasi tinggal demi menjaga kenyamanan emosional mereka.
2. Momen Perbandingan dengan Saudara atau Anak Lain
Kalimat seperti:
“Kakakmu dulu tidak begitu.”
“Lihat si A, dia bisa lebih rajin.”
“Kenapa kamu tidak seperti…?”
Perbandingan sering dimaksudkan sebagai motivasi. Namun dalam psikologi perkembangan, perbandingan yang berulang dapat menanamkan rasa tidak cukup baik.
Ketika dewasa, anak mungkin masih mencintai orang tuanya, tetapi merasa dirinya “kembali menjadi anak yang tidak cukup baik” setiap kali pulang ke rumah. Untuk menghindari perasaan itu, mereka memilih pulang lebih cepat.
3. Momen Ketika Privasi Tidak Dihormati
Bagi orang tua, kamar anak mungkin selalu dianggap bagian dari rumah yang bebas dimasuki. Namun ketika anak beranjak remaja dan dewasa, kebutuhan akan privasi menjadi bagian penting dari pembentukan identitas.
Jika dulu privasi mereka sering dilanggar—membuka pesan, membaca buku harian, masuk kamar tanpa izin—mereka mungkin tumbuh dengan perasaan bahwa rumah bukan tempat yang sepenuhnya aman secara personal.
Akibatnya, saat dewasa, mereka lebih nyaman tinggal sebentar saja.
4. Momen Ketika Keputusan Mereka Diremehkan
Anak dewasa ingin diakui sebagai individu yang mampu mengambil keputusan sendiri. Namun jika setiap kali pulang mereka masih mendengar:
“Kamu seharusnya begini.”
“Kenapa pilih kerja itu?”
“Mama lebih tahu yang terbaik.”
Mereka bisa merasa kembali ke pola lama di mana suara mereka kurang dihargai.
Psikologi otonomi menyebutkan bahwa kebutuhan untuk dihargai sebagai individu mandiri adalah fundamental pada masa dewasa. Ketika kebutuhan ini terganggu, seseorang cenderung membatasi interaksi yang membuatnya merasa kecil kembali.
5. Momen Konflik yang Tidak Pernah Diselesaikan
Setiap keluarga pasti pernah mengalami konflik. Namun tidak semua konflik benar-benar selesai—beberapa hanya “dilupakan” tanpa pernah dibicarakan secara terbuka.
Bagi orang tua, mungkin itu sudah lewat.
Bagi anak, itu mungkin masih menjadi luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Menurut psikologi hubungan keluarga, konflik yang tidak terselesaikan sering berubah menjadi jarak emosional jangka panjang. Anak mungkin tetap datang karena rasa tanggung jawab atau cinta, tetapi menjaga jarak waktu sebagai bentuk perlindungan diri.
6. Momen Ketika Mereka Tidak Merasa Didengar
Komunikasi dua arah adalah fondasi hubungan yang sehat. Jika dulu mereka sering merasa nasihat datang lebih banyak daripada pertanyaan, atau kritik lebih banyak daripada empati, mereka bisa tumbuh dengan perasaan bahwa rumah adalah tempat untuk dinilai, bukan didengar.
Ketika dewasa, mereka mungkin sudah memiliki lingkungan yang memberi mereka ruang untuk didengarkan. Maka, ketika pulang terasa melelahkan secara emosional, mempersingkat kunjungan menjadi pilihan yang tidak disadari.
7. Momen Ketika Cinta Terasa Bersyarat
Ini adalah poin yang paling halus sekaligus paling dalam.
Jika anak merasa bahwa kasih sayang datang ketika mereka berprestasi, patuh, atau memenuhi ekspektasi tertentu, mereka mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa penerimaan harus “didapatkan.”
Sebagai orang tua, Anda mungkin selalu mencintai mereka tanpa syarat. Namun persepsi anak terbentuk dari pengalaman sehari-hari—pujian, ekspresi wajah, nada suara, reaksi terhadap kegagalan.
Ketika dewasa, mereka mungkin tetap datang saat momen penting seperti liburan, tetapi menjaga jarak untuk melindungi diri dari kemungkinan merasa “tidak cukup” lagi.
Namun, Ini Bukan Tentang Menyalahkan
Penting untuk dipahami: tidak ada orang tua yang sempurna. Setiap orang tua membesarkan anak dengan bekal pengalaman, tekanan, dan keterbatasannya sendiri.
Psikologi keluarga menekankan bahwa hubungan selalu bisa diperbaiki—bahkan di usia dewasa.
Jika Anda merasa anak-anak hanya datang sebentar dan cepat pulang, mungkin yang dibutuhkan bukanlah rasa kecewa, tetapi refleksi dan percakapan yang lembut.
Cobalah bertanya dengan tulus, bukan defensif:
“Apa yang membuatmu kurang nyaman di rumah?”
“Apa yang bisa Mama/Papa lakukan supaya kamu merasa lebih betah?”
Kadang, satu percakapan yang penuh empati bisa menyembuhkan tahun-tahun jarak emosional.
Penutup: Kedekatan Tidak Hilang, Hanya Berubah Bentuk
Anak yang pulang hanya saat liburan belum tentu menjauh karena tidak sayang. Bisa jadi mereka hanya sedang menyesuaikan jarak emosional agar tetap sehat bagi dirinya.
Hubungan orang tua dan anak dewasa bukan lagi tentang kontrol, tetapi tentang koneksi.
Dan kabar baiknya—koneksi selalu bisa dibangun kembali.
Selama masih ada keinginan untuk memahami, masih ada ruang untuk pulang… dan mungkin suatu hari, tidak lagi perlu pulang lebih awal.***
Tag: #jika #anak #sudah #dewasa #hanya #berkunjung #saat #liburan #pulang #lebih #awal #terdapat #momen #yang #mungkin #tidak #anda #ingat #menurut #psikologi