Dari 2.000 Meter ke 30 Hektare: Kisah Rosita dan Hutan Organik yang Tumbuh dari Keteguhan
Rosita Istiawan, pemilik 30 hektare hutan organik di Mega Mendung, Bogor. (Dok. Godrej)
20:49
14 Februari 2026

Dari 2.000 Meter ke 30 Hektare: Kisah Rosita dan Hutan Organik yang Tumbuh dari Keteguhan

Baca 10 detik
  • Rosita Istiawan mengembangkan Hutan Organik seluas 30 hektare di Mega Mendung, Bogor, dari lahan awal 2.000 meter persegi.
  • Konsistensi Rosita menekankan prinsip "tanam rawat" daripada sekadar menanam tanpa pemeliharaan berkelanjutan.
  • Gerakan Rosita melibatkan 20 kelompok tani perempuan yang berhasil memperbaiki kualitas air dan udara lingkungan sekitar.

Di tengah kabar tentang banjir, longsor, dan udara yang kian tak ramah, Rosita Istiawan memilih satu hal sederhana: menanam.

Bukan dengan ambisi besar sejak awal. Bukan pula dengan lahan luas yang langsung terbentang. Semuanya dimulai dari 2.000 meter persegi—ruang kecil yang ia rawat perlahan, hingga hari ini tumbuh menjadi lebih dari 30 hektare Hutan Organik di kawasan Mega Mendung, Bogor.

“Dari 2.000 meter sampai 30 hektare itu tidak sekaligus, mencicil,” ujarnya.

“Alhamdulillah, sampai sekarang pohon endemik Indonesia terkumpul di sana. Meranti seluruh Indonesia, dan 44.000 pohon yang sudah kita tanam," katanya saat ditemui di Halim, Jakarta Timur.

Tanam, Rawat, Jangan Tanam Tinggal

Bagi Rosita, menanam pohon bukan kegiatan seremonial. Ia sering mengingatkan satu pesan sederhana namun tegas: tanam rawat, jangan tanam tinggal.

“Di Indonesia ini, penghijauan apapun, kebanyakan tanam tinggal. Ayo kita sama-sama, kalau tanaman, kita tanam rawat. Itu pasti berhasil,” katanya.

Ia percaya, perubahan lingkungan tidak cukup hanya dengan niat baik atau unggahan di media sosial. Butuh komitmen. Butuh ketelatenan. Butuh kesediaan untuk kembali melihat, menyiram, merawat, dan menjaga.

Hutan organik yang ia bangun kini melibatkan 20 kelompok tani dengan anggota 20–30 orang di setiap kelompoknya, sebagian besar perempuan. Dari tangan-tangan perempuan inilah gerakan itu membesar—mengalir ke keluarga, lalu ke komunitas.

“Perubahan tumbuh ketika perempuan diberi ruang dan kepercayaan untuk bergerak bersama komunitasnya,” ujar Rosita.

Tantangan Terbesar: Manusia

Namun perjalanan 25 tahun menjaga hutan tidak selalu mulus. Ketika ditanya apa “hama” terbesar dalam membangun hutan, jawabannya mengejutkan.

“Kalau membuat hutan, orang bilang hamanya apa sih? Hamanya adalah manusia,” ucapnya lugas.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan serangga atau cuaca, melainkan pola pikir. “Orang itu kebanyakan tidak mau menanam, maunya menebang.”

Ada yang mendukung, ada pula yang tak setuju ketika ia memilih membangun hutan. Tapi Rosita tetap bertahan. Sebab ia melihat langsung dampaknya bagi warga sekitar—air lebih bersih, udara lebih sejuk, dan ruang hidup yang lebih layak.

“Buat warga bahagianya sekali, mereka sekarang kebagian air dan udara yang segar.”

Dari Keprihatinan Menjadi Gerakan

Rosita tak menutup mata terhadap kondisi Indonesia hari ini. Bencana datang silih berganti. Suhu makin panas. Udara makin tak sehat.

“Mungkin dari bencana ini, keprihatinan kita jangan hanya perhatian saja,” katanya.

“Ayo kita sama-sama, Indonesia akan kembali lagi jadi paru-parunya dunia. Supaya hijau lagi," ajaknya.

Semangat inilah yang kemudian mendapat dukungan dari Godrej Consumer Products Indonesia (GCPI) melalui inisiatif Rooted in Purpose: Women Shaping Climate Outcomes. Program ini menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai penggerak aksi iklim berbasis komunitas.

Head of Corporate Communications, Sustainability & Culture GCPI, Wahyu Radita, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya isu sosial, melainkan strategi keberlanjutan.

“Ketika perempuan diberdayakan, dampaknya tidak berhenti pada satu aksi, tetapi meluas ke keluarga, komunitas, dan generasi berikutnya,” ujarnya.

Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari keberanian satu orang yang konsisten melangkah.

Harapan 10 Tahun ke Depan

Rosita kini bermimpi lebih jauh. Ia ingin hutan organik tak hanya ada di Mega Mendung.

“Mudah-mudahan hutan organik cuma ada di Megamendung, di mana-mana ada hutan organik yang lain,” katanya penuh harap. “Sepuluh tahun lagi, dibilang banyak hutan organik yang lain. Yang penting Indonesia jadi hijau.”

Baginya, kunci masa depan bukan hanya pada masyarakat, tetapi juga pada kebijakan yang tegas dan keberpihakan pada lingkungan. Namun di atas segalanya, ia percaya perubahan selalu bisa dimulai dari satu tindakan kecil.

Editor: Vania Rossa

Tag:  #dari #2000 #meter #hektare #kisah #rosita #hutan #organik #yang #tumbuh #dari #keteguhan

KOMENTAR