Ekonom Nilai Keputusan MSCI dan Moody's Bukan Berakar dari Fundamental Ekonomi RI
Ilustrasi ekonomi.(canva.com)
22:24
14 Februari 2026

Ekonom Nilai Keputusan MSCI dan Moody's Bukan Berakar dari Fundamental Ekonomi RI

- Penilaian dari Moody’s Ratings dan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap Indonesia dinilai tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi, melainkan meningkatnya perhatian terhadap kepastian kebijakan pemerintah.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufiqurrahman mengatakan, penilaian dari kedua lembaga internasional itu tidak mencerminkan persepsi negatif pada fundamental ekonomi.

Mengingat ekonomi nasional masih relatif stabil dimana pada 2025 pertumbuhannya sekitar 5,11 persen. Kemudian inflasi juga masih dalam kisaran target 1,5-3,5 persen dan defisit fiskal terjaga di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Baca juga: Gaet Investor Asing, Danantara Kejar Pemeringkatan dari S&P dan Moodys

Menurutnya, penilaian dari kedua lembaga internasional itu sama-sama menyoroti kebijakan dan tata kelola Indonesia.

"Kedua lembaga tersebut pada dasarnya memberi sinyal yang sama yakni masalahnya bukan angka makro, melainkan kepastian kebijakan dan tata kelola. Moody’s menilai kredibilitas fiskal dan kelembagaan, sementara MSCI menilai investability pasar," ujarnya kepada Kompas.com, dikutip Sabtu (14/2/2026).

Oleh karenanya, tanpa pembenahan pada aspek tersebut, tekanan terhadap pasar keuangan berpotensi berlanjut meski indikator makroekonomi tetap terlihat stabil di permukaan.

"Selama pemerintah mampu memperjelas arah pembiayaan program prioritas, menjaga disiplin fiskal, dan konsistensi regulasi, risk premium akan turun kembali, arus modal masuk, dan tekanan ke rupiah, pasar saham, serta pembiayaan perbankan akan mereda," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, perubahan outlook Moody’s menjadi indikator adanya kebijakan ekonomi yang tidak berhasil diimplementasikan.

"Kalau Moody's percaya ekonomi tumbuh 5,1 persen di 2025, harusnya kan tidak ada perubahan outlook. Artinya ada yang salah," kata Bhima kepada Kompas.com.

Menurutnya, jika peringatan tersebut tidak ditindaklanjuti, risiko penurunan peringkat berpotensi terjadi. Konsekuensinya, kreditur akan meminta imbal hasil lebih tinggi.

Hal ini dapat dilihat dalam periode sebulan terakhir, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke level 6,41 persen.

"Risiko naik, beban bunga ikut naik. Tandanya investor agak hati hati beli aset indonesia," katanya.

Bhima menambahkan, ketidakpastian kebijakan termasuk isu pengalihan izin perusahaan swasta ke Danantara dapat memicu keraguan investor.

Oleh karenanya, Bhima mengingatkan, investasi jangka panjang bernilai besar bisa batal masuk bila pelaku usaha menilai risiko regulasi terlalu tinggi.

"Bayangkan kalau ada Rp 10 triliun investasi jangka 20 tahun bisa pergi karena takut," tukasnya.

Tag:  #ekonom #nilai #keputusan #msci #moodys #bukan #berakar #dari #fundamental #ekonomi

KOMENTAR