Penyakit Jantung Bawaan Sering Tak Terdeteksi, PERKI Gelar Skrining Nasional 
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bersama GE HealthCare menggelar skrining Penyakit Jantung Bawaan gratis secara berseri di 27 kota di Indonesia pada 23 Januari hingga 14 Februari 2026. Kegiatan ini menyasar siswa Sekolah Dasar. (KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai)
22:18
14 Februari 2026

Penyakit Jantung Bawaan Sering Tak Terdeteksi, PERKI Gelar Skrining Nasional 

– Penyakit jantung bawaan (PJB) masih menjadi salah satu penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada tahun pertama kehidupan. 

Kelainan ini bahkan tercatat sebagai kelainan bawaan yang paling banyak ditemukan pada bayi baru lahir, dengan prevalensi sekitar 9–10 per 1.000 kelahiran hidup.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmidzi, M.Epid, menyampaikan bahwa deteksi dini menjadi kunci untuk menekan risiko komplikasi dan kematian akibat kondisi tersebut.

Baca juga: Penyakit Jantung Bisa Terjadi Sejak Lahir pada Anak, Ini Penjelasan Dokter

“PJB telah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada satu tahun pertama kehidupan,” ujarnya saat menghadiri skrining PJB di SDN 03 Makasar, Jakarta Timur, Kamis (12/2/2026). 

Ia menambahkan, sejak 2025 skrining PJB telah menjadi bagian dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG). 

Menurutnya, kegiatan deteksi dini ini sejalan dengan arah kebijakan kesehatan nasional yang menekankan upaya promotif dan preventif.

Baca juga: 6 Faktor Risiko Penyakit Jantung Bawaan, Waspadai Sejak Kehamilan

Skrining Serentak di 27 Kota

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bersama GE HealthCare menggelar skrining PJB gratis secara berseri di 27 kota di Indonesia pada 23 Januari hingga 14 Februari 2026. Kegiatan ini menyasar siswa Sekolah Dasar. 

Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, Dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K), FIHA, mengatakan selama ini Indonesia belum memiliki gambaran utuh mengenai prevalensi PJB pada anak karena keterbatasan data nasional.

“Melalui skrining, PERKI tidak hanya berupaya menemukan kasus PJB lebih dini, tetapi juga mengumpulkan data awal yang sangat penting sebagai fondasi menuju registri PJB yang lebih kuat dan berkelanjutan,” jelasnya dalam kesempatan yang sama.

Menurut dr. Oktavia, skrining massal ini menjadi salah satu upaya menyaring kasus lebih awal agar tatalaksana dapat dilakukan lebih cepat sehingga meningkatkan kualitas hidup anak-anak dengan PJB.

Selain deteksi dini melalui skrining, masyarakat juga bisa mengenali gejala PJB sejak awal.

Baca juga: Upaya Menurunkan Risiko Penyakit Jantung Bawaan Sejak Kehamilan

Gejala PJB Bisa Berbeda, Ini Tanda-tandanya

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bersama GE HealthCare menggelar skrining Penyakit Jantung Bawaan gratis secara berseri di 27 kota di Indonesia pada 23 Januari hingga 14 Februari 2026. Kegiatan ini menyasar siswa Sekolah Dasar. KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bersama GE HealthCare menggelar skrining Penyakit Jantung Bawaan gratis secara berseri di 27 kota di Indonesia pada 23 Januari hingga 14 Februari 2026. Kegiatan ini menyasar siswa Sekolah Dasar. 

Adapun dr. Oktavia menyebut bahwa gejala PJB dapat berbeda-beda, tergantung usia dan jenis kelainannya. 

Secara umum, PJB dibagi dalam dua kelompok besar, yakni kelainan yang menyebabkan anak tampak “biru” dan yang tidak biru.

Dr. Oktavia menjelaskan, pada kelompok yang biru, tanda paling mudah dikenali adalah perubahan warna kebiruan pada sekitar mulut, lidah, atau wajah akibat kekurangan oksigen (hipoksia). 

Dalam kondisi yang berlangsung lama, ujung jari dapat membulat yang dikenal sebagai jari tabung atau clubbing finger.

Baca juga: Kenali Penyakit Jantung Bawaan yang Diidap 50 Ribu Bayi Indonesia

Dalam kondisi berat, bayi bisa mengalami napas cepat, makin biru, hingga penurunan kesadaran dan kejang. 

“Itu yang namanya kita sebut spell hipoksia. Itu satu tanda kegawatan,” jelas dr. Oktavia.

Pada anak yang usianya lebih besar, salah satu tanda khas adalah kebiasaan jongkok (squatting) setelah berjalan atau bermain sebentar.

Sementara pada PJB yang tidak biru dan menyebabkan aliran darah ke paru-paru berlebihan, gejala lebih mengarah pada gagal jantung. 

Baca juga: Bagaimana Modifikasi Gaya Hidup Menurunkan Risiko Penyakit Jantung

Pada bayi, sesak napas bisa dikenali dari napas cepat dan cuping hidung kembang-kempis. Bayi juga dapat menyusu terputus-putus dan mudah lelah.

“Bayi itu biasanya kalau lapar cepat menyusunya. Ini dia terputus-putus, sering tersedak,” ujar dr. Oktavia.

Selain itu, gangguan tumbuh kembang juga perlu diwaspadai. Pertumbuhan berat badan bisa tidak optimal, dan perkembangan kemampuan motorik anak dapat terhambat.

Kondisi ini kerap disangka sebagai infeksi paru kronis, padahal bisa jadi merupakan tanda penyakit jantung bawaan yang belum terdiagnosis.

Tag:  #penyakit #jantung #bawaan #sering #terdeteksi #perki #gelar #skrining #nasional

KOMENTAR