Budaya Victim Blaming, Mengapa Korban Pelecehan Seksual Justru Disalahkan?
Ilustrasi pelecehan seksual.(Freepik)
22:35
14 Februari 2026

Budaya Victim Blaming, Mengapa Korban Pelecehan Seksual Justru Disalahkan?

– Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama pemilik brand Thanksinsomnia, Mohan Hazian sempat dikaitkan dengan budaya victim blaming.

Alih-alih mendapat empati, korban justru kerap dipertanyakan ketika berani bersuara atas pengalaman traumatis yang dialaminya.

Kasus ini menjadi viral setelah korban, yang merupakan talent untuk pemotretan produk, mengungkap dugaan pelecehan yang dialaminya. Mohan Hazian sendiri telah menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut.

Baca juga: Saat Heboh Kasus Pelecehan Seksual, Mengapa Public Figure Lebih Dipercaya?

Victim blaming dan tekanan norma sosial

Sosiolog dan Dosen Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir menilai, praktik victim blaming tidak bisa dilepaskan dari nilai patriarki yang masih kuat di masyarakat.

Victim blaming diperkuat dengan adanya nilai dan norma patriarki di masyarakat. Hal ini sangat menekan struktur sosial yang ada, sehingga perempuan dituntut untuk berpakaian yang sopan, berkata halus, dan tidak keluar malam-malam,” ungkap Sry saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (11/2/2026).

Ia menjelaskan, ketika perempuan dianggap tidak memenuhi standar tersebut, kesalahan kerap dialihkan kepada individu.

Perempuan dipertanyakan mengapa berpakaian tertentu atau berada di luar rumah, sehingga persoalan bergeser dari sistem yang menekan menjadi seolah-olah risiko pribadi.

“Kita harus menyadari bahwa perjalanan panjang dari secara penindasan perempuan ini. Perempuan itu ditindas dari segi kontrol sosial, politik hingga kelas sosial sejak dulu,” kata Sry.

Patriarki dan cara pandang gender

Lebih lanjut, Sry menyebut budaya patriarki turut membentuk relasi kuasa yang timpang.

“Budaya patriarki juga memunculkan pemisahan tugas-tugas perempuan dan laki-laki. Rasanya perilaku perempuan itu ada di kontrol laki-laki,” ujarnya.

Cara pandang inilah yang kemudian membuat korban kekerasan seksual sulit mendapatkan keadilan sosial.

Baca juga: Kasus Dugaan Pelecehan Mohan Hazian, Mengapa Korban Baru Berani Speak Up Setelah Berbulan-bulan?

Menurut Sry, perubahan harus dimulai dengan menanamkan cara pandang masyarakat terhadap kesetaraan gender. Ia juga menyoroti peran media sosial yang kerap memperburuk situasi korban.

Victim blaming ini semakin marak terjadi karena adanya media sosial. Niatnya korban untuk berani bersuara, ternyata berbalik jadi mendapatkan intimidasi dari para netizen,” tutur Sry.

Trauma korban dan luka psikologis

Dari sisi psikologis, Psikolog Klinis Jessica Rosdiana Tobing menegaskan, trauma akibat pelecehan seksual tidak hilang begitu saja.

Menurutnya, ingatan tentang kejadian akan selalu ada, meski dapat dipulihkan seiring waktu dan proses yang tepat. Jessica menilai budaya victim blaming justru memperberat beban korban.

“Budaya victim blaming membuat korban pelecehan seksual percaya bahwa apa yang dia alami disebabkan karena dirinya sendiri. Korban jadi menyalahkan cara berpakaian dan perilakunya,” jelasnya.

Dalam kondisi tersebut, korban sering terjebak dalam rasa bersalah yang tidak semestinya.

Membangun narasi yang lebih sehat

Jessica menegaskan, penting untuk mengubah narasi yang berkembang di masyarakat.

Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak memperparah kondisi trauma korban dan membuka ruang aman untuk para korban bersuara. Dengan demikian, harapannya pelaku menjadi jera dan tidak mengulanginya lagi.

“Perlu diingat bahwa pelecehan seksual bukanlah salah korban. Dengan berbagai macam konteks memang sangat sulit untuk tidak menyalahkan diri sendiri,” katanya.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa pemulihan terhadap korban tetap memungkinkan. Meski peristiwa tersebut tidak bisa dilupakan, tapi korban bisa melihat kembali dengan cara yang berbeda ketika sudah pulih.

“Namun, dengan mengubah narasi tersebut, korban jadi membangun narasi yang lebih sehat dan perlahan pulih. Semuanya perlu waktu yang tak sebentar dan bantuan profesional,” ujar Jessica.

Kasus dugaan pelecehan ini menjadi pengingat bahwa empati, dukungan, dan perubahan cara pandang adalah kunci agar korban tidak harus menghadapi luka berlapis saat berani bersuara.

Baca juga: 5 Cara Menyembuhkan Trauma Pasca Pelecehan Seksual seperti Kasus Mohan Hazian

Tag:  #budaya #victim #blaming #mengapa #korban #pelecehan #seksual #justru #disalahkan

KOMENTAR