Mengenal Hidden Hunger, Anak Terlihat Gemuk tapi Kurang Nutrisi
– Anak yang terlihat gemuk, aktif, dan mau makan sering kali dianggap sehat oleh orangtua. Selama berat badan normal dan anak tidak tampak sakit, banyak yang beranggapan kebutuhan gizinya sudah terpenuhi.
Padahal, anak gemuk belum tentu sehat. Dalam sejumlah kasus, anak justru mengalami hidden hunger atau kelaparan tersembunyi, yaitu kondisi kekurangan mikronutrien penting meski secara fisik tampak sehat.
Dokter Spesialis Anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH menjelaskan, hidden hunger kerap tidak disadari karena selama ini banyak orangtua mengidentikkan anak gemuk sebagai tanda sehat.
Baca juga: Mengenal Mielinisasi, Proses Penting dalam Tumbuh Kembang Otak Anak
“Banyak orangtua yang menganggap gemuk itu sehat atau yang penting anaknya mau makan. Padahal, data di Indonesia menunjukkan sekitar satu dari dua anak kekurangan setidaknya satu zat gizi penting,” ujarnya dalam acara live podcast Expert Boos by Tentang Anak di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026).
Menurut dr. Mesty, prinsip “yang penting anak mau makan” pun sering diterapkan tanpa mempertimbangkan kualitas asupan gizinya.
Hidden Hunger Tak Selalu Terlihat dari Fisik
Dalam kondisi hidden hunger, anak tidak mendapatkan cukup zat gizi penting seperti vitamin dan mineral meski asupan makan terlihat cukup. Akibatnya, anak bisa tumbuh dengan berat badan normal atau berlebih, tetapi tetap berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang.
Ia menambahkan, kekurangan yang paling sering ditemukan pada anak adalah vitamin D dan zat besi. Kedua zat gizi ini berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh, mendukung pertumbuhan optimal, serta menunjang perkembangan otak anak.
Menariknya, tidak sedikit anak yang secara fisik tampak sehat dan memiliki berat badan berlebih, tetapi setelah dilakukan pemeriksaan justru mengalami defisiensi zat besi.
“Banyak pasien saya yang gemuk-gemuk dan terlihat sehat, tetapi ketika dicek, kadar zat besinya rendah,” jelasnya.
Baca juga: Mengenal Multilearning, Teknik Stimulasi Otak Anak agar Tumbuh Cerdas dan Kreatif
Pengaruh Hidden Hunger terhadap Perkembangan Otak
Dokter Spesialis Anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH dalam acara live podcast Expert Boos by Tentang Anak di Pondok Indah Mall 1, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026).
Kekurangan mikronutrien seperti zat besi, vitamin D, dan zinc memiliki kaitan erat dengan pembentukan jaringan saraf otak. Zat-zat tersebut berperan penting dalam proses belajar, konsentrasi, serta kemampuan berpikir anak.
Namun, berbeda dengan kekurangan energi yang biasanya tampak dari berat badan, defisiensi mikronutrien sering kali tidak menunjukkan tanda fisik yang jelas.
“Kalau anak kurang makan, berat badannya bisa turun. Kalau anak kurang mikronutrien, dari fisiknya itu tidak kelihatan, tapi dari kecerdasannya,” kata dr. Mesty.
Karena tidak tampak secara kasat mata, hidden hunger kerap tidak disadari hingga dampaknya baru terasa di kemudian hari.
Baca juga: Bentuk Kaki X dan O pada Anak, Kapan Orangtua Harus Waspada?
Dampak Jangka Panjang terhadap Tumbuh Kembang
Adapun dr. Mesty menegaskan bahwa hidden hunger merupakan kondisi yang perlu diwaspadai.
Kekurangan mikronutrien dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas tumbuh kembang anak, terutama pada periode awal kehidupan.
Ia menjelaskan bahwa kecerdasan anak pada dua tahun pertama kehidupan tidak semata ditentukan oleh faktor genetik. Nutrisi dan stimulasi justru memegang peran yang jauh lebih besar.
Baca juga: Meme Anomali dan Brainrot TikTok Bisa Bahayakan Otak Anak? Ini Kata Ahli
“Kecerdasan di awal kehidupan bukan karena genetik, tetapi dari nutrisi dan stimulasi,” ujarnya.
Oleh sebab itu, dr. Mesty menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak sejak dini merupakan investasi jangka panjang.
Anak-anak yang mendapatkan asupan gizi optimal memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi individu yang mampu berpikir kritis dan menyelesaikan masalah pada masa mendatang.
Tag: #mengenal #hidden #hunger #anak #terlihat #gemuk #tapi #kurang #nutrisi