Pengalaman Berkonsultasi dengan Psikolog untuk Memulihkan Diri
- Berkonsultasi dengan psikolog bukanlah tanda lemah, tetapi bentuk self-care yang berani. Sama seperti merawat tubuh yang sakit, kesehatan mental juga butuh dipulihkan.
Duduk berhadapan dengan seorang psikolog untuk pertama kalinya bukan perkara mudah. Ada rasa canggung, bingung, sekaligus ragu tentang apa yang seharusnya dibagikan. Namun, justru dari kebingungan itulah pengalaman konsultasi psikolog dimulai.
Momen ketika kata-kata terasa sulit dirangkai, perlahan menyadarkan bahwa mengenali diri sendiri sering kali menjadi langkah paling awal dalam proses pemulihan.
Pengalaman ini penulis rasakan saat mencoba layanan konsultasi psikolog yang disediakan oleh Tentrem bersama Kompas Gramedia.
Baca juga: Bukan Sekadar Iseng, Punya Hobi Justru Bermanfaat untuk Kesehatan Mental dan Fisik
Sebelum sesi berlangsung, penulis terlebih dahulu diminta mengisi data diri serta membuat janji temu. Dalam formulir tersebut, terdapat kolom khusus untuk menuliskan isu atau permasalahan yang ingin dibahas bersama psikolog.
Setiap sesi dilakukan per orang agar proses konseling berjalan lebih optimal dan personal.
Pengalaman konsultasi psikolog langsung
Memasuki ruang konsultasi yang tenang
Gambaran sesi konsultasi langsung bersama dengan psikolog di Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).
Penulis mendapatkan sesi bersama Shabrina Audinia, M. Psi., seorang psikolog klinis dewasa. Konsultasi dimulai dengan perkenalan singkat, dilanjutkan dengan pertanyaan ringan tentang kondisi perasaan hari itu.
“Dari 1 sampai 10, kira-kira berapa angka yang menggambarkan ketidaknyamanan perasaan kamu hari ini? 1 yang paling nyaman dan 10 yang paling tidak nyaman,” ucap Audi saat ditemui Kompas.com, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).
Sejak awal, psikolog menegaskan bahwa seluruh isi sesi dijamin kerahasiaannya, sehingga pasien dapat berbicara dengan aman dan jujur.
Baca juga: Tak Sekadar Curhat, Ini Manfaat Journaling bagi Kesehatan Mental
Ruang aman untuk bercerita
Pertanyaan tersebut menjadi pembuka untuk menggali perasaan yang selama ini mengganjal. Psikolog kemudian menanyakan alasan penulis ingin berkonsultasi serta masalah apa yang dirasakan.
Dalam sesi ini, penulis diberikan kebebasan penuh untuk menceritakan perasaan, mulai dari trauma, rasa takut, hingga persoalan interpersonal dan intrapersonal yang sedang dihadapi atau yang selama ini terpendam.
Sepanjang sesi, psikolog mendengarkan secara aktif dan mengajukan pertanyaan lanjutan untuk memahami detail cerita yang menjadi pusat ketidaknyamanan.
Tidak ada interupsi berlebihan, hanya jeda-jeda reflektif yang membantu penulis menyadari emosi yang muncul.
Jika emosi memuncak, menangis bukanlah hal yang dilarang. Di dalam ruangan juga telah disediakan tisu dan air minum.
Psikolog juga kerap menyampaikan kalimat-kalimat yang menenangkan, membuat kita merasa lebih diterima dan tidak dihakimi.
“Jika dirasa ada bagian cerita yang kurang nyaman untuk diceritakan, sampaikan saja. Tidak ada paksaan dan sesi ini tidak akan membuat perasaan tidak nyaman itu semakin parah,” ujar Audi.
Baca juga: 6 Kebiasaan Sederhana yang Bantu Menjaga Kesehatan Mental
Menemukan akar masalah secara bertahap
Tak hanya menjadi tempat mencurahkan isi hati, sesi konseling juga diarahkan untuk menemukan akar permasalahan secara bertahap.
Psikolog membantu pasien menelusuri pola emosi dan pengalaman yang membentuk perasaan saat ini.
Sekitar satu jam sesi berlangsung. Di akhir pertemuan, penulis diajak melakukan meditasi singkat untuk bertemu dengan versi diri yang lain, termasuk versi diri saat masih kecil bagi mereka yang memiliki trauma masa lalu.
Namun, Audi menegaskan bahwa penanganan setiap orang akan berbeda, tergantung pada isu dan kebutuhan masing-masing.
Sebelum sesi berakhir, penulis diajak mereview kembali proses konseling dan meditasi yang telah dijalani.
Psikolog juga kembali menanyakan kondisi perasaan setelah sesi berlangsung. Dari pengalaman ini, penulis dianjurkan menulis jurnal harian sebagai sarana menyalurkan emosi dan pikiran.
Baca juga: 3 Tips Mulai Menulis Jurnal Bersyukur, Pilih Cara yang Tepat
Diarahkan untuk konsultasi lanjutan
Sebagai tindak lanjut, psikolog menyarankan sesi lanjutan satu minggu setelah pertemuan pertama. Jurnal tersebut nantinya akan dievaluasi bersama, sebagai bagian dari proses pemulihan trauma atau penyelesaian isu personal secara bertahap.
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa datang ke psikolog bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Setiap orang memiliki luka, kebingungan, dan beban emosional yang kerap dipendam sendirian. Melalui ruang konsultasi yang aman dan tanpa penghakiman, proses memahami diri dan memulihkan perasaan dapat dimulai secara perlahan. Tak perlu menunggu hingga semuanya terasa terlalu berat.
Baca juga: Psikolog Klinis di Puskesmas jadi Penolong Awal Masalah Mental
Tag: #pengalaman #berkonsultasi #dengan #psikolog #untuk #memulihkan #diri