Psikolog Jelaskan Mengapa Banyak Orang Mudah Terjebak Love Scam
Penipuan bermodus asmara atau love scam terus efektif menjaring korban baru. Meski kasusnya terus terungkap, tetapi tetap banyak orang yang masuk perangkap penipuan.
Kasus penipuan bermodus love scam kembali menjadi perhatian setelah aparat Imigrasi Indonesia membongkar jaringan penipuan internasional yang beroperasi dari Jakarta.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa kejahatan digital tidak selalu bermula dari tipu daya finansial, melainkan dari relasi emosional yang dibangun secara perlahan dan tampak meyakinkan.
Psikolog Mellyana Setyowati, M.Psi. menjelaskan bahwa love scamming merupakan bentuk kejahatan yang memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi sekaligus kerentanan psikologis manusia.
Baca juga: Terjebak Cinta Palsu: 3.494 Korban Love Scam Rugi Rp 49,19 Miliar
Penipun ini bukan sekadar kejahatan siber biasa tetapi menyusup ke ruang paling personal manusia dengan rasa cinta, harapan, dan kebutuhan untuk dicintai.
“Love scam merupakan tindak pidana penipuan uang dengan menggunakan teknologi komunikasi massa di era teknologi informasi digital yang sedang marak,” kata psikolog yang biasa disapa Melly merujuk pada kajian Solihin & Zuhri (2024).
Cinta yang Dibangun Secara Semu
Menurutnya, love scam tidak hanya bertujuan mengambil uang korban, tetapi membangun relasi emosional yang tampak nyata.
“Ini merupakan bentuk kejahatan digital yang tidak hanya berorientasi pada penipuan finansial, tetapi juga memanfaatkan unsur emosional dan afektif korban melalui relasi romantis yang dibangun secara virtual,” ujar psikolog dari RS Kemenkes Surabaya ini.
Pelaku secara perlahan menciptakan ikatan emosional yang menyerupai cinta dan keintiman. Inilah yang membuat love scam terasa jauh lebih personal dan menyakitkan dibandingkan penipuan daring lainnya.
“Unsur ‘love’ inilah yang membedakan love scam dari bentuk penipuan lain seperti investasi bodong, phishing, atau penipuan jual beli daring yang umumnya hanya berfokus pada aspek ekonomi,” sambungnya.
Baca juga: Dikasih Janji, Diambil Uangnya : Apa yang KUHAP Bisa Lakukan Untuk Korban Love Scam?
Ilustrasi kesepian.
Emosional yang Sering Dimanfaatkan
Dari sudut pandang psikologi, korban love scam sering kali berada dalam kondisi emosional yang rapuh.
Kebutuhan akan kasih sayang, perhatian, dan keterikatan merupakan kebutuhan dasar manusia. Orang yang sedang merasa kesepian, kurang diperhatikan, baru putus hubungan, janda atau duda, hingga mereka yang mengalami kekosongan emosional, cenderung lebih mudah terjebak.
"Perhatian intens dari pelaku memicu pelepasan dopamin dan oksitosin, hormon yang berperan dalam rasa senang dan keterikatan. Akibatnya, muncul sensasi jatuh cinta cepat, meski relasi tersebut belum realistis. Dalam kondisi ini, kemampuan berpikir objektif menjadi menurun," tutur alumni Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.
Baca juga: Modus Baru Penipuan Love Scam, Begini Skemanya
Selain faktor emosional, korban juga kerap terjebak dalam bias kognitif atau kesalahan cara berpikir. Korban hanya melihat bukti yang mendukung harapan cintanya (confirmation bias) dan meyakini bahwa dirinya tidak mungkin tertipu (optimism bias).
Ada pula kondisi sunk cost fallacy, ketika korban tetap bertahan karena sudah terlanjur menginvestasikan emosi dan uang. Halo effect membuat pelaku yang tampak baik dan menarik dianggap otomatis bisa dipercaya.
"Manipulasi dilakukan secara bertahap hingga korban merasa tidak enak menolak, takut kehilangan hubungan, dan semakin terikat secara emosional," kata Melly.
Apalagi kerentanan semakin besar pada individu dengan harga diri rendah, riwayat trauma relasi, atau ketakutan ditinggalkan.
"Dalam kondisi ini, perhatian pelaku dianggap sebagai kesempatan langka. Ketakutan kehilangan satu-satunya sumber kasih sayang membuat korban mengabaikan tanda bahaya yang sebenarnya sudah muncul," imbuhnya.
Baca juga: Hati-hati, Sikap Tidak Enakan Rentan Jadi Sasaran Pelaku Love Scam
Selain itu pelaku love scam juga lihai menjual fantasi cinta ideal. Hubungan jarak jauh yang intens, janji menikah cepat, serta kisah hidup dramatis membuat korban terjebak dalam lingkaran fantasi asmara.
Dalam kondisi ini, korban lebih mempercayai cerita dan imajinasi ketimbang fakta nyata yang bisa diverifikasi.
Ilustrasi pasangan yang berpisah.
Ia menjelaskan bahwa pelaku secara sadar memanfaatkan berbagai emosi korban. Kesepian dimanfaatkan melalui perhatian intens dan pesan rutin. Harapan akan masa depan bahagia dijual lewat janji pernikahan dan hidup bersama.
Rasa aman palsu dibangun melalui konsistensi komunikasi dan cerita hidup yang tampak meyakinkan.
Empati korban disentuh ketika pelaku mengaku sakit, kesulitan finansial, atau berada dalam kondisi darurat.
"Tak jarang pelaku menciptakan rasa takut kehilangan dengan menghilang sementara atau mengancam mengakhiri hubungan. Pujian berlebihan dan komitmen instan (love bombing) menciptakan ketergantungan emosional yang menyerupai kecanduan," ujar Melly.
"Ketika korban mulai ragu, pelaku justru menanamkan rasa malu dan takut dinilai agar korban enggan bercerita ke orang lain," pungkasnya.
Baca juga: 5 Pertengkaran yang Cuma Dialami oleh Hubungan Toxic, Pernah Mengalaminya?
Tag: #psikolog #jelaskan #mengapa #banyak #orang #mudah #terjebak #love #scam