Ramadan Tanpa Drama, Ini Cara Mengenalkan Puasa pada Anak Menurut Psikolog
Puasa anak tak harus penuh dan tanpa paksaan. Psikolog jelaskan cara mengenalkan puasa sesuai usia agar Ramadan terasa menyenangkan. (dok. freepik)
17:05
29 Januari 2026

Ramadan Tanpa Drama, Ini Cara Mengenalkan Puasa pada Anak Menurut Psikolog

Menjelang bulan Ramadan, banyak orang tua berharap anak mulai belajar berpuasa.

Namun, tidak jarang proses ini justru diwarnai drama, mulai dari anak rewel, menolak sahur, hingga merasa tertekan karena belum mampu menahan lapar seharian penuh.

Psikolog klinis anak dan remaja dari Universitas Padjadjaran, Mariska Johana H, M.Psi., mengingatkan bahwa pengenalan puasa pada anak sebaiknya tidak dipahami sebagai kewajiban instan.

Puasa adalah proses perkembangan yang perlu disesuaikan dengan tahap usia dan kesiapan anak, agar pengalaman Ramadan terasa aman, hangat, dan bermakna.

“Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan. Ketiga aspek ini saling terkait dan perlu dijelaskan secara bertahap sesuai usia anak,” kata Mariska dikutip dari ANTARA, Kamis (29/1/2026).

Cara mengenalkan puasa sesuai usia anak

  • Usia prasekolah (3–6 tahun)

Pada tahap ini, anak masih berpikir konkret dan sangat dipengaruhi pengalaman emosional. Puasa tidak perlu dilakukan penuh.

Anak dapat diajak “latihan puasa” selama beberapa jam sebagai bentuk belajar menunggu dan bersabar.

Orang tua bisa membantu anak mengenali rasa lapar sebagai sensasi yang datang dan pergi, serta menjelaskan bahwa usaha mencoba berpuasa adalah perbuatan baik.

Nilai spiritual dikenalkan dengan bahasa sederhana, misalnya bahwa Allah menyukai anak yang mau belajar sabar.

Fokus utama di usia ini adalah menciptakan pengalaman puasa yang aman dan positif, bukan target durasi.

Baca juga: 5 Tips Persiapan Kesehatan dan Mental Selama Bulan Puasa

Ilustrasi Kapan Libur Awal Puasa Anak Sekolah 2026? Ini Jadwalnyacanva.com Ilustrasi Kapan Libur Awal Puasa Anak Sekolah 2026? Ini Jadwalnya

  • Usia sekolah awal (7–9 tahun)

Anak mulai memahami hubungan sebab dan akibat. Puasa dapat dijelaskan sebagai latihan mengendalikan diri sekaligus ibadah yang bernilai pahala.

“Anak diajak melihat bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki sikap, dan memperbanyak kebaikan,” ujar Mariska.

Di tahap ini, orang tua bisa mengaitkan puasa dengan perilaku konkret, seperti bersikap sabar, membantu orang lain, dan berbagi.

Manfaat puasa bagi tubuh, seperti membantu mengatur pola makan, juga mulai dapat dikenalkan secara sederhana.

  • Usia sekolah akhir hingga remaja awal (10–12 tahun ke atas)

Anak sudah mampu berpikir lebih reflektif. Puasa dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, kesadaran diri, dan tanggung jawab pribadi.

Anak dapat diajak berdiskusi tentang makna puasa secara lebih utuh, menjaga perilaku, mengelola emosi, serta membangun kedekatan spiritual.

Pada tahap ini, puasa juga dapat dipahami sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan kebiasaan merawat diri.

Peran orangtua dalam mendampingi anak

Mariska menekankan pentingnya peran aktif orang tua selama proses belajar puasa.

Orangtua dapat mengajak anak menonton video atau film edukatif tentang Ramadan yang sesuai usia, lalu mendiskusikannya bersama.

Selain itu, anak bisa dilibatkan dalam kegiatan keagamaan yang ramah anak, seperti dongeng Islami, kajian singkat di masjid, atau kegiatan keluarga di rumah.

Orangtua perlu mendampingi dan membantu menerjemahkan pesan agar tidak terasa berat atau membingungkan.

Aktivitas ini membantu anak memahami bahwa puasa bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga mengisi waktu dengan nilai dan kebaikan.

Baca juga: Sering Sembelit Saat Puasa? Ini Tips Mencegahnya

Bolehkah anak boleh diberi hadiah?

Menurut Mariska, reward dapat digunakan sebagai strategi perkembangan, terutama pada usia dini, namun perlu diterapkan dengan bijak.

Pada anak prasekolah, reward konkret seperti stiker atau aktivitas menyenangkan bersama keluarga masih relevan. Yang terpenting, reward diberikan atas usaha, bukan semata-mata hasil.

Memasuki usia sekolah, reward sebaiknya mulai dikurangi dan tidak bersifat transaksional.

Apresiasi lebih difokuskan pada sikap positif, seperti kesabaran dan kepedulian terhadap orang lain.

Pada usia yang lebih besar, penguatan sebaiknya bergeser ke dialog dan refleksi, agar anak membangun motivasi intrinsik dan rasa bangga terhadap dirinya sendiri.

“Dengan pendekatan ini, reward tidak merusak makna ibadah, tetapi menjadi jembatan awal yang membantu anak belajar dan tumbuh,” kata Mariska.

Tag:  #ramadan #tanpa #drama #cara #mengenalkan #puasa #pada #anak #menurut #psikolog

KOMENTAR