Kader NasDem Pindah ke PSI Rentan Kena Stempel Oportunis dan Kutu Loncat
Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli di Universitas Indonesia, Jakart Pusat, Kamis (12/7/2018).(Reza Jurnaliston)
17:08
29 Januari 2026

Kader NasDem Pindah ke PSI Rentan Kena Stempel Oportunis dan Kutu Loncat

- Peneliti senior bidang politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, mengatakan kader Partai NasDem yang memilih pindah ke PSI belum tentu mendapatkan penilaian positif dari publik.

Dia mengingatkan bahwa kader-kader tersebut berpotensi mendapat penilaian negatif dari publik, termasuk dicap oportunis hingga politikus “kutu loncat”.

“Ketika mereka yang pindah ke PSI belum tentu juga mendapat respons yang positif, alih-alih bisa negatif dengan muncul anggapan sebagian orang yang oportunis dan pragmatis dan bisa muncul stigma sebagai ‘kutu loncat’,” kata Lili saat dihubungi Kompas.com, Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Citra Nasdem Dinilai Berpotensi Memburuk Usai Kader Hijrah ke PSI

Menurut Lili, perpindahan kader atau elite partai dari satu partai ke partai lain sebenarnya adalah fenomena yang lazim dalam dinamika politik Indonesia.

“Perpindahan kader atau elite partai dari partai yang satu ke partai yang lainnya tampaknya menjadi hal yang dianggap biasa atau lumrah sehingga tidak heran bila fenomena ini orang kerap menyebutnya sebagai ‘kutu loncat’,” ujar dia.

Lili menjelaskan, terdapat banyak faktor yang mendorong migrasi kader dari satu partai ke partai lain.

Faktor tersebut antara lain kekecewaan terhadap partai sebelumnya, keinginan memperoleh posisi yang lebih baik, hingga kepentingan politik dan ekonomi.

“Ada banyak faktor migrasi kader dari satu partai ke partai lain. Bisa karena faktor kecewa terhadap partai sebelumnya, faktor untuk mendapat posisi yang lebih baik, faktor kepentingan politik dan ekonomi, faktor untuk mendapatkan perlindungan dengan patron yang baru,” kata Lili.

Baca juga: Rusdi Masse Resmi Gabung PSI Usai Tinggalkan Nasdem, Dipakaikan Jaket Oleh Kaesang

Dalam konteks NasDem, dia menilai perpindahan sejumlah kader ke PSI bisa disebabkan oleh satu atau gabungan dari berbagai faktor tersebut.

“Pindahnya beberapa kader atau pengurus Nasdem ke PSI tersebut bisa karena dari berbagai faktor-faktor di atas atau gabungan dari faktor di atas,” ujar Lili.

Dia menambahkan, peluang memperoleh posisi strategis di partai baru juga dapat menjadi alasan kuat bagi kader untuk berpindah haluan politik.

“Artinya, bisa jadi karena ada kekecewaan di Nasdem lalu pindah ke PSI karena ada kesempatan untuk mendapatkan posisi strategis dalam partai sehingga kemudian bergabung dengan PSI,” kata dia.

Di sisi lain, Lili menekankan bahwa perpindahan kader tersebut juga bisa berdampak terhadap citra partai yang ditinggalkan.

Lili mengatakan, tak menutup kemungkinan jika publik akan menganggap internal Nasdem tak solid dan bermasalah, hingga kadernya memilih hengkang.

“Dampak terhadap Nasdem pasti ada, salah satunya mendapatkan citra yang tidak baik karena beberapa kader meninggalkan Nasdem. Tentu publik menganggap bahwa Nasdem tidak solid dan sedang diterpa masalah. Persepsi ini tentu akan merusak citra partai di mata publik,” ungkap Lili.

Siapa kader NasDem yang ke PSI?

Untuk diketahui, setidaknya terdapat dua kader Nasdem yang bergabung ke PSI, yakni mantan Wakil Ketua Umum Nasdem Ahmad Ali dan mantan anggota DPRD Jakarta Fraksi Nasdem Bestari Barus.

Terbaru, Ketua DPW Partai Nasdem Sulawesi Selatan Rusi Masse juga mengundurkan diri dari partai dan bergabung ke PSI.

Menanggapi perpindahan tersebut, Wakil Ketua Umum Partai Nasdem Saan Mustopa menyatakan bahwa partainya menghormati keputusan politik masing-masing kader.

“Ya itu kan hak dan pilihan masing-masing dan tentu kita menghormati pilihan politik masing-masing,” kata Saan di Gedung DPR RI, Selasa (27/1/2026).

Baca juga: Alasan Ahmad Ali Hengkang dari Nasdem: PSI Partai Masa Depan

Dalam kesempatan itu, Saan juga menepis anggapan bahwa perpindahan kader tersebut disebabkan oleh persoalan tak mendapatkan jabatan di internal partai.

Dia mencontohkan posisi yang pernah diemban Ahmad Ali selama berkiprah di Nasdem.

“Enggak. Ya Ahmad Ali kan pernah jadi Wakil Ketua Umum, Ketua Fraksi. Jadi semua enggak ada masalah, partai enggak ada masalah dengan yang bersangkutan,” ujar Saan.

Menurut Saan, jika ada kader yang memilih jalur politik lain, hal tersebut sepenuhnya menjadi keputusan pribadi yang patut dihormati.

“Tapi kalau yang bersangkutan menentukan pilihan politik yang lain, kita hormati dan kita hargai,” kata dia.

Dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PSI Bali yang digelar di The Trans Resort Bali, Badung, Bali, Sabtu (25/1/2026), Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali ingin memastikan nilai-nilai budaya Bali tetap terjaga dan menjadi kekuatan utama dalam pembangunan.KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PSI Bali yang digelar di The Trans Resort Bali, Badung, Bali, Sabtu (25/1/2026), Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali ingin memastikan nilai-nilai budaya Bali tetap terjaga dan menjadi kekuatan utama dalam pembangunan.

Terkait mundurnya Rusi Masse dari kepengurusan NasDem Sulawesi Selatan, Saan memastikan partainya tetap fokus menjaga kekuatan di wilayah timur Indonesia.

Dia pun menegaskan bahwa NasDem telah menyiapkan pengganti yang memahami betul kondisi politik di wilayah tersebut.

“Ya kita tetap konsen agar NasDem di wilayah Timur tetap menjadi kekuatan utama Nasdem. Makanya penggantinya yang memang sudah memahami betul situasi peta kondisi yang ada di wilayah Timur, khususnya di Sulawesi Selatan. Dia juga Sekretaris DPW sebelumnya, pernah juga menjadi Ketua DPRD Sulawesi Selatan sebelum menjadi Bupati Sidrap,” tutur Saan.

Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep mengumumkan Rusdi Masse bergabung dengan PSI di Makassar, Sulsel, Kamis (29/1/2026). KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep mengumumkan Rusdi Masse bergabung dengan PSI di Makassar, Sulsel, Kamis (29/1/2026).

Dengan kesiapan tersebut, Saan menilai partainya tidak terlalu khawatir akan kehilangan basis dukungan di wilayah Indonesia Timur.

Saan juga menekankan bahwa dinamika politik tersebut merupakan hal yang wajar dan tidak berkaitan dengan hasil kongres maupun rapat kerja nasional partai.

“NasDem tetap berupaya memberikan kenyamanan bagi seluruh kader. Tapi kalau memang mereka punya pilihan lain dengan berbagai alasan, tentu kita juga enggak bisa menahan, tapi kita tetap menghargai pilihan,” pungkasnya.

Tag:  #kader #nasdem #pindah #rentan #kena #stempel #oportunis #kutu #loncat

KOMENTAR