Ramai Soal Ohim Mengaku 'Enggan' Istri Jadi IRT Penuh, Apa Kata Psikolog Keluarga?
Belakangan ini, potongan video percakapan aktor Ibrahim Rasyid atau yang akrab disapa Ohim di podcast Marco dan Debi menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Dalam obrolan tersebut, Ohim melontarkan pandangan yang cukup memicu diskusi: ia mengaku keberatan jika sang istri, Shalsa, memilih berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga (IRT) sepenuhnya.
"Menurut gue nggak makes sense aja. Nggak Apple atau Apple gitu loh. Rumah kan bisa diurus sama emba. Jadi kalau menurut gue, ya kalau misalkan emang dia mau, apa ya, mau sesuatu gitu. Ya dia juga harus usahain untuk bisa dapetin itu. Bukan dengan cara cuma nyuruh-nyuruh gue doang," ujar Ohim saat diminta pandangan jika Salsha memilih untuk tidak bekerja, dikutip dari tayangan YouTube Marco dan Debi, Kamis (15/1/2026),
"Kasih gue duit tiap bulan. Gue mau belanja ini, belanja-belanja ini. Kok gue jadi babu ya. Kalo aku kayaknya nggak bisa. Karena memang dari awal perjenjian aku dan Salsha adalah, kita harus sama-sama produktif," lanjut Ohim.
Menurut Ohim, ia dan Salsha sudah bersepakat untuk sama-sama produktif (bekerja) saat sudah berumah tangga.
Fenomena ini memicu pertanyaan besar bagi pasangan muda masa kini: Apakah menuntut istri tetap bekerja adalah bentuk egoisme suami, atau justru standar baru untuk menjaga kesehatan mental bersama?
Bukan Sekadar Uang, Tapi Soal Identitas
Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi., Psi., menjelaskan bahwa model keluarga saat ini memang telah bergeser.
Menurutnya, tidak ada satu model tunggal yang bisa dikatakan paling benar, baik itu model tradisional (suami menafkahi, istri di rumah) maupun model egalitarian (berbagi peran).
"Model yang paling sehat adalah pilihan yang ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama, bukan pembagian peran berdasarkan stereotipe gender," ungkap Verauli saat diwawancarai Kompas.com, baru-baru ini.
Masalah utama biasanya bukan pada status "tidak bekerja", melainkan ketika seseorang kehilangan identitas dan rasa berharga dalam relasi.
"Pilihan menjadi IRT bisa sangat sehat jika lahir dari kesadaran diri. Namun, potensi masalah muncul saat seseorang kehilangan daya tawar dalam pernikahan," tambahnya.
Kesepakatan: Fondasi Emotional Safety
Verauli menegaskan bahwa kesepakatan di awal pernikahan sangatlah krusial.
Tanpa komunikasi yang jelas mengenai peran masing-masing, keputusan sepihak bisa berubah menjadi sumber konflik, akumulasi kekecewaan, hingga aksi saling menyalahkan di masa depan.
"Kesepakatan bukan berarti selalu sepakat selamanya, tetapi ada komitmen untuk meninjau ulang keputusan seiring perubahan kondisi kehidupan, seperti faktor keuangan, anak, hingga karier," jelasnya.
Mendefinisikan Ulang Makna "Menafkahi"
Salah satu poin menarik dari pandangan Ohim adalah penolakannya untuk menjadi satu-satunya sumber finansial jika itu berarti pasangan hanya "diam" di rumah.
Di sisi lain, masyarakat seringkali masih melekatkan harga diri laki-laki pada kemampuannya menafkahi.
Verauli memberikan perspektif baru bahwa bagi pasangan muda, peran pencari nafkah kini tidak lagi bersifat tunggal. Pasangan masa kini cenderung lebih adaptif dan mampu berbagi risiko ekonomi.
"Penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas peran berkorelasi positif dengan ketahanan pernikahan di masa krisis ekonomi," tutur Verauli.
Ia juga mengingatkan bahwa makna "menafkahi" dalam psikologi tidak melulu soal saldo rekening.
"Menafkahi juga mencakup kehadiran emosional, rasa aman, keterlibatan dalam pengasuhan, hingga tanggung jawab mental. Kesehatan keluarga lahir dari kombinasi kontribusi-kontribusi tersebut," jelasnya.
Pesan untuk Pasangan Muda
Verauli berpesan agar pasangan muda tidak terjebak pada standar lama yang kaku.
Pernikahan sehat di era modern dibangun atas sistem baru yang lebih realistis dan berwelas asih bagi suami maupun istri.
Pada akhirnya, apakah menjadi IRT atau wanita karier, kuncinya terletak pada satu hal: komunikasi yang tuntas dan kesepakatan yang menghargai keberadaan satu sama lain.
Tag: #ramai #soal #ohim #mengaku #enggan #istri #jadi #penuh #kata #psikolog #keluarga