IHSG Melemah di Awal Pekan, Saatnya Lirik Saham Fundamental
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (2/2/2026) dibuka melemah di tengah tekanan pada sejumlah saham yang terdampak kebijakan global dan reformasi domestik.
Namun di saat yang sama, saham-saham dengan fundamental kuat justru menunjukkan penguatan dan mulai diakumulasi investor.
Praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, menilai kondisi ini sebagai fase penyesuaian pasar yang wajar di tengah perubahan kebijakan.
Baca juga: Luhut Minta Investor Tetap Tenang, Koreksi IHSG Dinilai Wajar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah signifikan pada perdagangan Senin (2/2/2026). Pada pukul 09.20 WIB, IHSG turun 4,28 persen atau 356,85 poin ke posisi 7.972,76.
“IHSG pada Senin ini dibuka melemah, tetapi saham-saham dengan fundamental bagus malah menguat atau diakumulasi,” ujar Hans dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).
Menurut dia, pelemahan yang terjadi tidak merata di seluruh sektor. Tekanan lebih banyak terjadi pada saham-saham yang terpengaruh kebijakan MSCI dan langkah percepatan reformasi integritas pasar modal yang tengah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Pelemahan saham terkonsentrasi pada saham-saham yang terpengaruh kebijakan MSCI dan upaya OJK melakukan Percepatan Reformasi Integritas,” katanya.
Reformasi pasar modal dan respons pelaku pasar
OJK sebelumnya menegaskan komitmennya untuk mempercepat reformasi pasar modal Indonesia secara menyeluruh.
Baca juga: Asing Masih Borong Saham Rp 16,28 Triliun di Tengah Trading Halt IHSG
OJK menyampaikan delapan rencana aksi yang bertujuan memperkuat likuiditas, meningkatkan transparansi, serta menjaga kepercayaan investor.
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, saat Dialog Pasar Modal yang digelar di Main Hall BEI, Jakarta, Minggu (1/2/2026)
“OJK bersama dengan Self Regulatory Organization, bersama dengan Bursa Efek Indonesia, Kliring Penjaminan Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia, menyampaikan komitmen untuk melakukan bold and ambitious reforms di pasar modal Indonesia sesuai dengan best practices dan memenuhi ekspektasi Global Index Provider,” kata Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam Dialog Pasar Modal di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Friderica menjelaskan, percepatan reformasi integritas tersebut diharapkan dapat menjadikan pasar modal Indonesia semakin kredibel dan investable, sehingga mampu memberikan dukungan optimal bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Delapan rencana aksi itu dikelompokkan dalam empat klaster, yakni kebijakan free float, transparansi, tata kelola dan enforcement, serta sinergitas.
Baca juga: IHSG Sesi Satu Ditutup Anjlok 5,31 Persen
Salah satu langkah yang menjadi sorotan adalah rencana menaikkan batas minimum free float emiten menjadi 15 persen, dari ketentuan saat ini sebesar 7,5 persen, yang akan dilakukan secara bertahap.
Untuk perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) baru, ketentuan 15 persen dapat langsung diterapkan.
OJK menyebut, kebijakan tersebut dimaksudkan agar ketentuan free float di Indonesia selaras dengan standar global.
Selain itu, regulator juga akan mendorong penguatan transparansi ultimate beneficial owner (UBO) dan keterbukaan afiliasi pemegang saham, memperkuat data kepemilikan saham agar lebih granular dan reliable, hingga mempertegas penegakan aturan terhadap manipulasi transaksi dan penyebaran informasi menyesatkan.
Baca juga: 602 Saham “Terbakar”, IHSG Anjlok 4,37 Persen Jelang OJK dan BEI Bertemu MSCI
Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan investor dalam proses reformasi tersebut.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital, dan Kripto OJK Hasan Fawzi.
“OJK tentu akan terus hadir, akan bekerja bersama Bapak-Ibu sekalian dan terus bertindak secara nyata untuk menjaga kepercayaan publik dan tentu juga melindungi para investor di pasar modal kita, dan tentu memastikan pasar modal kita dan seluruh pasar keuangan Indonesia akan tumbuh sehat, berintegritas, berdaya saing, dan juga berkelanjutan,” ujar Hasan.
Pelaksana Tugas Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, juga menyatakan kesiapan Bursa dalam meningkatkan transparansi guna menjawab permintaan MSCI.
“Apa yang akan kami lakukan untuk melakukan pendalaman dari sisi demand khususnya, agar lebih banyak lagi investor asing masuk dengan penambahan bobot Indonesia di dalam konstituen. Antara lain adalah tadi juga sudah disampaikan, kami SRO akan meningkatkan disclosure,” tegas Jeffrey.
Baca juga: IHSG Dibuka di Zona Merah, Anjlok 4,28 Persen ke Level 7.972
Market detox dan aksi jual ritel
Di tengah rangkaian kebijakan tersebut, Hans melihat adanya respons dari investor ritel berupa aksi jual pada saham-saham yang dinilai berisiko terdampak kebijakan MSCI dan reformasi OJK.
“Nampaknya pelaku pasar ritel sedang melakukan Market Detox dan melakukan penjualan mengantisipasi risiko pada saham-saham yang terimbas kebijakan MSCI dan perbaikan cepat yang akan OJK dan SRO lakukan,” sebut dia.
Istilah “market detox” yang ia gunakan merujuk pada proses pembersihan portofolio dari saham-saham yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi akibat perubahan regulasi maupun penyesuaian indeks global.
Kebijakan MSCI kerap menjadi perhatian pelaku pasar karena perubahan bobot atau komposisi indeks dapat memicu arus dana keluar-masuk, khususnya dari investor institusi global yang mengikuti indeks tersebut.
Baca juga: Respons Bos Baru OJK dan BEI, IHSG Dibuka Anjlok 1,35 Persen
Di sisi lain, reformasi integritas yang dicanangkan OJK, termasuk peningkatan free float dan transparansi kepemilikan, berpotensi mendorong penyesuaian pada struktur kepemilikan dan likuiditas sejumlah emiten.
Ilustrasi saham.
Saham fundamental menguat
Meski IHSG secara umum melemah, Hans mencatat adanya pergerakan berbeda pada saham-saham berfundamental kuat.
“IHSG pada Senin ini dibuka melemah, tetapi saham-saham dengan fundamental bagus malah menguat atau diakumulasi,” katanya.
Menurut dia, kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar mulai melakukan seleksi yang lebih ketat terhadap saham, dengan mempertimbangkan kinerja keuangan, tata kelola, serta prospek usaha jangka panjang.
Baca juga: Purbaya dan Rosan Optimistis IHSG Bergerak Menguat Hari Ini
Ia menyarankan agar investor ritel tidak bereaksi berlebihan terhadap volatilitas jangka pendek.
“Sebaiknya pelaku pasar ritel jangan panik, dan melakukan akumulasi pada saham-saham yang berfundamental bagus,” ujar Hans.
Langkah akumulasi yang dimaksud adalah membeli secara bertahap saham-saham dengan kinerja dan prospek yang dinilai solid, di tengah koreksi harga yang terjadi akibat sentimen kebijakan.
Integritas dan likuiditas jadi fokus
Reformasi yang digulirkan OJK menempatkan integritas dan likuiditas sebagai dua fokus utama. Dalam klaster tata kelola dan enforcement, OJK menyebutkan rencana demutualisasi BEI sesuai amanat undang-undang, guna meningkatkan tata kelola dan mengurangi konflik kepentingan.
Baca juga: Outflow Asing Tembus Rp 15,7 Triliun, Bagaimana Pergerakan IHSG Sepekan ke Depan?
Selain itu, penguatan tata kelola emiten akan dilakukan melalui kewajiban pendidikan berkelanjutan bagi direksi, komisaris, dan komite audit, serta kewajiban sertifikasi bagi penyusun laporan keuangan emiten.
Dalam klaster sinergitas, OJK juga akan melakukan pendalaman pasar secara terintegrasi melalui kerja sama dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan pemangku kepentingan lainnya, guna memperkuat peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
CEO Danantara Rosan Roeslani saat ditemui di Menara IDN HQ, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026)
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya kualitas dan akuntabilitas bursa efek sebagai pilar fundamental pasar modal.
“Bagaimana bursa kita ini tumbuh tidak hanya dari segi market cap, tapi juga dari kualitas dari bursa kita ini adalah kualitas yang baik dan benar,” kata Rosan.
Baca juga: Mengenal Indeks MSCI yang Bikin IHSG Anjlok Dua Hari Berturut-turut
Dinamika jangka pendek, seleksi jangka panjang
Pergerakan IHSG yang melemah di tengah reformasi struktural dan penyesuaian indeks global menunjukkan adanya dinamika jangka pendek di pasar.
Namun, penguatan pada saham-saham berfundamental baik mengindikasikan adanya pergeseran fokus sebagian investor ke kualitas dan kinerja emiten.
Hans menilai, fase ini merupakan bagian dari proses penyesuaian yang sedang berlangsung.
“Nampaknya pelaku pasar ritel sedang melakukan Market Detox dan melakukan penjualan mengantisipasi risiko pada saham-saham yang terimbas kebijakan MSCI dan perbaikan cepat yang akan OJK dan SRO lakukan,” ujarnya.
Baca juga: Purbaya Pede IHSG Senin Menguat, Usai Bos BEI-OJK Ramai-ramai Mundur
Dalam situasi tersebut, ia kembali mengingatkan agar investor ritel tidak panik.
“Sebaiknya pelaku pasar ritel jangan panik, dan melakukan akumulasi pada saham-saham yang berfundamental bagus,” kata Hans.
Tag: #ihsg #melemah #awal #pekan #saatnya #lirik #saham #fundamental