Prabowo Peringatkan Skenario 'Kiamat' Perang Dunia III, Picu 'Nuclear Winter' Puluhan Tahun
Presiden Prabowo Subianto pada World Economic Forum (WEF) 2026, Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). (Foto: biro pers sekretariat presiden)
15:16
2 Februari 2026

Prabowo Peringatkan Skenario 'Kiamat' Perang Dunia III, Picu 'Nuclear Winter' Puluhan Tahun

Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kekhawatiran Perang Dunia III pada Rakornas di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026).
  • Ia memperingatkan dampak *nuclear winter* berpotensi mengkontaminasi sumber daya alam Indonesia selama puluhan tahun.
  • Prabowo menekankan kemandirian pertahanan karena negara nonblok tidak akan menerima bantuan jika terjadi serangan.

Peringatan keras datang dari Presiden RI Prabowo Subianto. Di hadapan jajaran pemerintah pusat dan daerah, ia secara terbuka menyuarakan kekhawatiran global yang semakin nyata akan potensi meletusnya Perang Dunia III.

Pernyataan ini disampaikan Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). Ia tidak hanya berbicara soal konflik, tetapi juga melukiskan skenario mengerikan yang bisa menimpa dunia, termasuk Indonesia.

"Sekarang di tingkat dunia, mengkhawatirkan akan terjadi Perang Dunia III," kata Prabowo sebagaimana dilansir kantor berita Antara.

Lebih jauh, Prabowo memaparkan gambaran suram tentang dampak perang nuklir yang bisa melintasi batas negara.

Menurutnya, bahkan negara yang tidak terlibat langsung dalam pertempuran seperti Indonesia, tidak akan bisa lolos dari konsekuensi bencana tersebut.

Ancaman 'Nuclear Winter' dan Dampaknya Bagi Indonesia

Prabowo mengutip berbagai simulasi global yang menunjukkan dampak mengerikan dari perang nuklir. Ia menggambarkan sebuah fenomena yang dikenal sebagai nuclear winter atau musim dingin nuklir, di mana partikel radioaktif akan menyebar ke seluruh penjuru bumi dan menghalangi sinar matahari selama puluhan tahun.

“Kita yang tidak terlibat saja pasti kena partikel-partikel radio aktif. Mungkin ikan-ikan kita akan terkontaminasi, semua akan terjadi nuklir winter dan menutup matahari tidak setahun-dua tahun, para ahli mengatakan bisa winternya itu puluhan tahun," jelasnya secara rinci.

Skenario ini bukan hanya akan menyebabkan krisis pangan global akibat gagal panen, tetapi juga kontaminasi radioaktif pada sumber daya alam, termasuk laut yang menjadi andalan Indonesia.

Sikap Nonblok dan Peringatan Keras: 'Tidak Akan Ada yang Bantu Kita'

Menghadapi ancaman sebesar itu, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia akan tetap teguh pada prinsip politik luar negeri yang bebas aktif dan nonblok.

Ia menekankan bahwa Indonesia tidak akan bergabung dengan pakta militer mana pun, sesuai amanat konstitusi dan warisan para pendiri bangsa.

Namun, di balik sikap netral tersebut, Prabowo memberikan sebuah peringatan yang sangat tajam.

Menurutnya, menjadi nonblok berarti Indonesia harus siap berdiri di atas kaki sendiri tanpa mengharapkan bantuan dari negara lain jika suatu saat kedaulatannya terancam.

“Kalau kita sungguh-sungguh mau nonblok, mau tidak terlibat dalam pakta, mau bersahabat sama semua, berarti kita sendiri, kalau kita diancam, kalau kita diserang, tidak akan ada yang bantu kita, percaya sama saya,” ujarnya dengan nada tegas.

Pernyataan ini menjadi penekanan pentingnya kemandirian nasional, terutama dalam hal kekuatan pertahanan.

Mengutip ajaran Panglima Besar Jenderal Sudirman, Prabowo mengingatkan bahwa dalam dunia yang realistis, kekuatan adalah faktor penentu dalam hubungan internasional.

Ia juga menyinggung bagaimana kekayaan sumber daya alam Indonesia telah menjadi daya tarik bagi bangsa asing selama berabad-abad, menjadikan sejarah penjajahan sebagai pelajaran abadi agar bangsa ini tidak lengah.

Tugas utamanya, kata Prabowo, adalah menjaga keselamatan dan melindungi seluruh tumpah darah Indonesia, dengan prinsip tidak mencari perang namun harus selalu siap siaga.

Editor: Bangun Santoso

Tag:  #prabowo #peringatkan #skenario #kiamat #perang #dunia #picu #nuclear #winter #puluhan #tahun

KOMENTAR