Apa yang Membuat Harvard Sebut Indonesia Negara Paling Bahagia?
Warga berfoto dengan latar belakang monumen Selamat Datang di lantai 2 Halte Bundaran HI, Kamis (1/1/2026).(Kompas.com/Dian Erika)
16:05
6 Januari 2026

Apa yang Membuat Harvard Sebut Indonesia Negara Paling Bahagia?

– Menurut hasil Global Flourishing Study (GFS), sebuah survei internasional kolaborasi antara Harvard University, Baylor University, dan lembaga riset Gallup, Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia, mengungguli hampir 200 negara lain.

Temuan ini bahkan mendapat sorotan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Dalam Perayaan Natal Nasional 2025 di Lapangan Tenis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026). 

"Saya paham bahwa sebagian besar rakyat kita sesungguhnya masih mengalami kehidupan yang sangat-sangat sederhana, yang berada dalam keadaan harus bisa kita akui keadaan yang belum sejahtera. Tetapi kalau ditanya masih mengatakan kalau dia bahagia," ujar Prabowo, dikutip dari laporan Kompas.com, Selasa (6/1/2026).

Prabowo juga menekankan bahwa capaian ini terjadi meskipun sebagian masyarakat Indonesia masih hidup dalam kondisi ekonomi yang sederhana.

Lantas, apa yang membuat Indonesia dinilai sebagai negara paling bahagia menurut Harvard? Berikut ulasannya.

Apa itu Global Flourishing Study?

Global Flourishing Study merupakan studi longitudinal berskala besar yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Mental Health dan disponsori oleh delapan yayasan internasional. 

Penelitian ini melibatkan lebih dari 200.000 responden dari 22 negara dan satu wilayah (Hong Kong), dengan pengumpulan data yang dilakukan setiap tahun selama lima gelombang.

Studi ini dipimpin oleh peneliti dari Harvard dan Baylor, serta melibatkan akademisi dari 21 institusi dunia, termasuk Jerman, Polandia, Spanyol, Kanada, dan Inggris, dengan Gallup sebagai mitra survei.

Penelitian ini tidak hanya mengukur kebahagiaan, tetapi menilai flourishing atau kebermaknaan hidup manusia secara menyeluruh.

Aksi Pantomim Warnai CFD Jakarta, Promosikan Jakarta Pantomime Festival 2025KOMPAS.com/Lidia Pratama Febrian Aksi Pantomim Warnai CFD Jakarta, Promosikan Jakarta Pantomime Festival 2025

Indonesia peringkat pertama bukan karena faktor finansial

Salah satu temuan paling mengejutkan dari studi ini adalah Indonesia menempati peringkat pertama ketika penilaian dilakukan tanpa indikator finansial. Indonesia berada di atas Meksiko, Filipina, Israel, dan Nigeria.

Ketika indikator keuangan dimasukkan, posisi Indonesia tetap berada di jajaran teratas, meski urutan negara lain sedikit berubah. 

Jepang, yang dikenal sebagai negara maju dengan usia harapan hidup tinggi, justru berada di posisi paling bawah dalam kedua pemeringkatan.

“Data peringkat nasional ini menjadi kejutan terbesar karena menunjukkan bahwa kondisi finansial saja tidak menjamin seseorang bisa hidup sejahtera dan bermakna,” ujar Tyler VanderWeele, Direktur Human Flourishing Program Harvard, dikutip dari The Harvard Gazette.

Hubungan sosial dan makna hidup jadi kunci Indonesia

Menurut Brendan Case, Associate Director for Research di Human Flourishing Program dan salah satu penulis studi, Indonesia unggul pada aspek-aspek yang bersifat humanistik.

Indonesia mencatat skor tinggi dalam hubungan sosial dan karakter pro-sosial, yang mendorong koneksi komunitas dan rasa kebersamaan.

“Kami di sini bukan untuk mengatakan bahwa hasil-hasil tersebut (kekayaan, umur yang lebih panjang) tidak terlalu penting, atau bahwa kita tidak perlu peduli dengan demokrasi, tidak perlu peduli dengan pertumbuhan ekonomi, tidak perlu peduli dengan kesehatan masyarakat,” kata Case.

“Tetapi menarik untuk mempertimbangkan bahwa Studi Kemakmuran Global menimbulkan beberapa pertanyaan penting tentang potensi pertukaran yang terlibat dalam proses tersebut,” tambah dia. 

Ia membandingkan Indonesia dengan Jepang. Meski Jepang lebih kaya dan warganya hidup lebih lama, responden di Jepang adalah yang paling sedikit menjawab “ya” saat ditanya apakah mereka memiliki sahabat dekat.

Apa saja kriteria negara bahagia menurut studi ini?

Studi ini mengukur kesejahteraan melalui enam domain utama, yang kemudian diperluas hingga mencakup aspek spiritual. Berikut penjelasannya, disadur dari situs Harvard Education.

1. Kebahagiaan dan kepuasan hidup

Aspek ini menilai sejauh mana seseorang merasa bahagia secara emosional dan puas dengan kehidupannya secara keseluruhan. 

Penilaian tidak hanya mencakup perasaan senang sesaat, tetapi juga kepuasan jangka panjang terhadap arah hidup yang dijalani.

Kebahagiaan dalam konteks ini bersifat subjektif, berdasarkan evaluasi individu terhadap kehidupannya sendiri.

2. Kesehatan fisik dan mental

Kesejahteraan fisik dan mental juga jadi fondasi utama flourishing. Aspek ini menilai kondisi kesehatan tubuh, tingkat energi, serta kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan kemampuan mengelola emosi.

Kesehatan yang baik memungkinkan individu berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan menjalani aktivitas sehari-hari secara optimal.

3. Makna dan tujuan hidup

Aspek ini menilai apakah seseorang merasa hidupnya memiliki arti, tujuan, dan arah yang jelas. 

Merasa bahwa hidup memiliki makna terbukti berkontribusi besar terhadap kesejahteraan jangka panjang, bahkan dalam kondisi ekonomi yang terbatas.

Studi ini menemukan bahwa makna hidup tidak selalu berjalan seiring dengan kemakmuran material, sehingga menjadi salah satu indikator penting yang berdiri sendiri.

4. Karakter dan kebajikan

Karakter mencakup nilai-nilai seperti kejujuran, rasa syukur, harapan, kedermawanan, dan kecenderungan untuk berbuat baik kepada orang lain. 

Karakter yang kuat membantu individu membangun hubungan yang sehat dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih adaptif.

Menurut peneliti, kebajikan personal berperan besar dalam menciptakan masyarakat yang saling mendukung.

5. Hubungan sosial

Hubungan yang erat dan bermakna dengan keluarga, teman, serta komunitas menjadi salah satu penentu utama flourishing. Aspek ini menilai kualitas hubungan sosial, rasa memiliki, dan dukungan emosional yang dirasakan individu.

Penelitian menunjukkan bahwa kesepian dan minimnya hubungan dekat berkorelasi dengan rendahnya tingkat kesejahteraan, bahkan di negara maju.

6. Stabilitas finansial dan material

Aspek ini mengukur rasa aman secara ekonomi, termasuk kemampuan memenuhi kebutuhan dasar dan memiliki kestabilan finansial. 

Meski penting, peneliti menegaskan bahwa faktor material hanyalah salah satu bagian dari kesejahteraan manusia, bukan penentu tunggal.

Peran agama dan masa kecil

Lebih jauh, studi ini juga menemukan bahwa kehadiran rutin dalam kegiatan keagamaan hampir secara universal berkaitan dengan tingkat kemakmuran yang lebih tinggi.

Selain itu, pengalaman masa kecil, terutama hubungan yang baik dengan orang tua dan kesehatan anak, berkorelasi kuat dengan kesejahteraan di usia dewasa.

Temuan ini menantang paradigma pembangunan yang hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi.

Global Flourishing Study mengajukan pertanyaan penting, apakah pembangunan ekonomi bisa dilakukan tanpa mengorbankan makna, tujuan hidup, hubungan, dan karakter penduduk suatu negara?

Indonesia, dalam konteks ini, menjadi contoh bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan kekayaan, melainkan tumbuh dari relasi sosial, makna hidup, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Tag:  #yang #membuat #harvard #sebut #indonesia #negara #paling #bahagia

KOMENTAR