



Survei Organisasi Zionis Dunia: 80 Persen Warga Israel di Luar Negeri Tidak Berniat Kembali
Menurut situs web Knesset (parlemen), Komite Urusan Imigrasi, Penyerapan dan Diaspora menggelar rapat pada Selasa (19/3/2024) untuk membahas masalah diaspora Israel sejak peristiwa pada tanggal 7 Oktober.
“Tujuh puluh persen dari mereka yang disurvei melaporkan bahwa mereka telah mengubah perilaku mereka di depan umum secara signifikan sejak 7 Oktober,” kata laporan survei tersebut.
“Mereka lebih enggan menampilkan simbol-simbol Yahudi atau berbicara dalam bahasa Ibrani, mereka memindahkan mezuzah dari depan pintu rumah mereka, mereka cenderung lebih jarang keluar rumah dan lebih jarang bertemu di pusat kota,” tambah laporan tersebut
Laporan tersebut menambahkan kalau 44 persen responden mempertimbangkan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan diri mereka.
“Mereka menyebutkan pembelian senjata api, membawa semprotan merica atau gas air mata, memasang kamera keamanan di rumah mereka atau mengikuti pelajaran Krav Maga [seni bela diri] sebagai cara yang dipilih untuk mencapai tujuan ini.”
Ketua Komite Oded Forer MK mengatakan, “Negara Israel harus mengambil tindakan yang tepat untuk memberantas fenomena anti-Semitisme di seluruh dunia. Sayangnya, saat ini tidak ada rencana pemerintah yang menangani komunitas warga Israel di luar negeri.”
Pemukim Yahudi Pesimistis Israel Menang di Perang Gaza
Terkait perang Gaza, Institut Demokrasi Israel (IDI), Selasa (20/2/2024) melansir hasil risetnya terkait Perang Gaza oleh pemerintahan mereka dalam kerangka pembasmian organisasi pembebasan Palestina, Hamas.
Hasil riset itu dilaporkan mengungkapkan sebanyak 55 persen warga Israel yakin kalau peluang untuk mencapai kemenangan penuh di Gaza cenderung kecil.
Al-Ghad melaporkan, menurut survei yang dilakukan oleh IDI, 60 persen warga Israel juga mengantisipasi gelombang protes luas terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya protes yang mengkritik cara Netanyahu menangani perang Gaza.
Demo Berakhir Rusuh
Belakangan, tekanan lewat demonstrasi massa terhadap kepemimpinan Netanyahu dilaporkan memang makin masif.
Pada Senin (19/2/2024) malam, Puluhan orang berdemonstrasi di Yerusalem di luar kediaman resmi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu
Mereka menuntut dicapainya solusi sesegera mungkin untuk membebaskan sisa tawanan Israel di Gaza.
Foto dan video dari aksi unjuk rasa tersebut menunjukkan para aktivis memegang obor yang menyala.
Beberapa orang ditangkap oleh polisi, termasuk yang terlibat perkelahian, The Times of Israel melaporkan.
Banyak pengunjuk rasa berbaris dari dekat Knesset hingga alun-alun pusat Yerusalem.
Menurut Ynet, beberapa pengunjuk rasa menggunakan granat asap.
Ada pula yang melakukan aksi pembakaran bendera Israel.
Menurut saluran Kan, polisi Israel berusaha membubarkan para demonstran dalam protes yang mereka sebut ricuh.
Ribuan pemukim Israel juga turun ke jalan pada hari Sabtu di Tel Aviv dan menduduki Yerusalem.
Mereka menuntut Benjamin Netanyahu mencapai kesepakatan pertukaran tahanan dengan Hamas dan segera mengadakan pemilihan parlemen.
Protes pemukim Israel, yang telah berlangsung sejak dimulainya perang di Gaza, menyerukan pemilihan umum dini sekaligus pengunduran diri Netanyahu.
Netanyahu semakin tidak populer karena dinilai abai terhadap nasib para sandera yang masih berada di tangan Hamas.
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa sekitar 3.000 orang berdemonstrasi di persimpangan Horev di Haifa.
Para pengunjuk rasa terlihat berjalan menuju perempatan sambil membawa spanduk bertuliskan "(Lakukan) Pemilu Sekarang".Sumber-sumber berita Israel lebih lanjut melaporkan bahwa para aktivis dan keluarga para tawanan memblokir jalan Ayalon dan membakarnya.
Kabinet Perang Terancam Bubar
Kepemimpinan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam kabinet perang di periode Perang Gaza, juga mulai tidak mendapat legitimasi dari para bawahannya.
Sejumlah menteri Kabinet Perang Israel, dilaporkan mengancam akan membubarkan kabinet yang dibentuk secara darurat sejak terjadinya Operasi Banjir Al-Aqsa Hamas pada 7 Oktober tersebut.
Satu di antara penyebab penentangan para menteri kabinet perang adalah sikap Netanyahu yang dianggap bak koboi ugal-ugalan dalam memutuskan sendiri terkait hal penting di Perang Gaza, khususnya terkait sandera Israel yang masi berada di tangan Hamas.
Soal sandera Israel itu, sikap Netanyahu yang menarik tim perunding Israel ke Kairo Mesir untuk bernegosiasi dengan mediator dan Hamas, menunjukkan ketidakpedulian Netanyahu terhadap nasib warga negaranya tersebut.
Hal ini membuat warga Israel di wilayah pendudukan, melakukan demonstrasi, memprotes keras pemerintahan mereka dalam menangani sandera Israel yang ditahan Hamas di jalur Gaza, serta dampak ekonomi nyata dari perang tersebut.
Mereka menunjukkan protesnya dengan sering mengadakan demonstrasi terus-menerus.
Selain dari warganya, Netanyahu juga mendapat penentangan dari para menterinya.
Friksi di tubuh kabinet perang Israel bahkan dilaporkan memuncak dan siap meledak.

Media Israel, KAN melaporkan Benny Gantz dan Gadi Eisenkot, jadi dua di antara anggota Kabinet Perang, mengancam akan membubarkan Dewan Perang, jika keputusan sepihak Netanyahu mengenai pertukaran tahanan terus berlanjut.
"Menteri Perang Israel Yoav Galant, yang juga anggota Kabinet Perang, termasuk di antara menteri-menteri lainnya yang menentang keputusan Netanyahu untuk tidak mengirim tim perunding ke perundingan di Kairo," tulis laporan tersebut dilansir PT.
KAN juga melaporkan, ketegangan dalam kabinet perang Netanyahu telah mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa hari terakhir.

Keputusan Sepihak Netanyahu
Seperti diketahui, upaya gencatan negosiasi Israel-Hamas dengan mediasi Mesir, Amerika dan Qatar, yang diadakan di Kairo namun berakhir tanpa hasil dan diputuskan untuk melanjutkan perundingan lagi di Kairo.
Pasalnya, Benjamin Netanyahu yang bersikeras melanjutkan perang menolak mengirim delegasi ke Kairo.
Pada Rabu, Netanyahu menolak mengirim delegasi ke Mesir untuk melanjutkan pembicaraan mengenai perjanjian gencatan senjata dan pembebasan tahanan.
Kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan mengumumkan, Israel tidak akan menyerah pada tuntutan Hamas, dan hanya dengan mengubah posisi Hamas barulah kemajuan dalam negosiasi dapat dicapai.
Keputusan ini dilaporkan dibuat secara sepihak oleh Netanyahu.
Sikap Netanyahu ini menyulut sengketa di dalam kabinet perang Israel.
Gadi Eisenkot, anggota kabinet perang menolak keputusan individu Netanyahu dan menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap perjanjian dewan perang.

Surat kabar Israel, Maariv juga melaporkan, menurut jajak pendapat, setidaknya 45 persen pemukim Israel menentang keputusan Netanyahu untuk tidak mengirim tim perunding ke Kairo, sementara hanya 33 persen yang mendukung keputusan ini.
kubu oposisi pemerintah meyakini Netanyahu mengejar kepentingan pribadinya, termasuk kelanjutan kekuasaannya, dengan keputusan sepihak tersebut.
Selain isu terkait perundingan Kairo, ketidakpercayaan juga meningkat antara Netanyahu dan beberapa anggota kabinet perang, termasuk Benny Gantz.
Soal ini, kanal 11 Israel mengutip sumber di Kabinet Perang mengungkapkan kalau Netanyahu menyinggung negosiasi intensif yang sedang dilakukan Gantz dengan pejabat pemerintahan Presiden AS Joe Biden dalam kerangka komunikasi khusus dan langsung antara Gantz dan para pejabat Washington.
Netanyahu memandang Gantz sebagai pesaing utamanya untuk menduduki jabatan perdana menteri rezim Zionis.
(oln/memo/PT/mrv/*)
Tag: #survei #organisasi #zionis #dunia #persen #warga #israel #luar #negeri #tidak #berniat #kembali