Mengapa Banyak Bisnis Legendaris di Singapura Berguguran?
Warung Nasi Pariaman(The straits Tumes)
13:18
2 Februari 2026

Mengapa Banyak Bisnis Legendaris di Singapura Berguguran?

– Satu per satu, bisnis warisan atau heritage business di Singapura mulai berguguran. 

Tutupnya Warong Nasi Pariaman, restoran nasi padang tertua di "Negeri Singa", menjadi sinyal kuat betapa beratnya tantangan komersial yang harus dihadapi para pelaku usaha legendaris saat ini.

Restoran yang telah melayani pelanggan selama 78 tahun di North Bridge Road tersebut resmi berhenti beroperasi pada Sabtu (31/1/2026). 

Baca juga: Singapura Turun Tangan Bantu Warung Nasi Padang Tertua agar Tak Tutup

Penutupan ini menambah panjang daftar bisnis keluarga yang terpaksa menyerah pada keadaan ekonomi.

Otoritas Reurbanisasi (URA) Singapura mengakui, fenomena tutupnya bisnis-bisnis warisan ini dipicu oleh berbagai tantangan komersial yang kompleks. 

Faktor utama yang menghimpit para pengusaha ini mulai dari meroketnya biaya tenaga kerja, kenaikan harga bahan baku, hingga pergeseran permintaan konsumen yang kian dinamis.

Meskipun URA mencatat kenaikan harga sewa di distrik bersejarah seperti Kampong Gelam berada di angka moderat (1 hingga 2,5 persen per tahun), namun realita yang dirasakan pengusaha di lapangan jauh lebih ekstrem.

Baca juga: Pemerintah Singapura Turun Tangan Latih Warga Hadapi Scammer, Akan Gelar Simulasi

Iszahar Tambunan, pemilik stall nasi padang Sabar Menanti, membeberkan fakta pahit mengenai beban sewa. 

Dia menyebut, harga sewa tempatnya melonjak lebih dari tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir, mencapai sekitar 12.000 dollar Singapura (Rp 140 juta) per bulan.

Kondisi ini membuat pelaku bisnis tradisional berada dalam posisi sulit, sebagaimana dilansir The Straits Times.

"Dengan harga satu piring nasi padang sekitar 10 dollar Singapura, saya tidak bisa menaikkan harga tiga kali lipat juga," ujar Iszahar.

Baca juga: Menteri Singapura Turun Tangan Saat Warung Nasi Padang Tertua Tutup, Tawarkan Bantuan

Intervensi dianggap terlambat

Menanggapi banyaknya bisnis warisan yang tumbang, Pemerintah Singapura sebenarnya telah mengambil langkah darurat. 

Sebuah satuan tugas antar-lembaga dibentuk pada 2025 untuk menjaga identitas distrik sejarah.

Beberapa kebijakan yang diterapkan meliputi pembatasan izin usaha baru bagi toko suvenir dan restoran cepat saji Barat di area tertentu, hingga pemberian hibah digitalisasi bagi bisnis tradisional.

Namun, bagi banyak pihak, langkah penyelamatan ini dinilai sudah kehilangan momentum. 

Baca juga: Tutup Usai Berjualan 78 Tahun, Warung Nasi Padang Tertua di Singapura Minta Maaf

Fauzia Rani, pengelola bisnis keluarga VSS Varusai Mohamed & Sons, menilai intervensi pemerintah kemungkinan besar sudah terlambat untuk menyelamatkan ekosistem yang ada.

"Sudah begitu banyak bisnis yang sudah hilang," tutur Fauzia.

Senada dengan hal tersebut, pemandu wisata Gia Munaji mengamati bahwa wajah distrik sejarah kini mulai berubah.

Pasalnya, banyak toko asli yang tutup dan digantikan oleh usaha yang tidak memiliki kaitan budaya dengan kawasan tersebut.

"Mungkin pemerintah bisa mempertimbangkan mandat agar 80 persen toko di area ini harus berkaitan dengan komunitas Melayu atau Muslim untuk menjaga nilai sejarahnya," saran Gia.

Baca juga: 6 WNI Dipenjara dan Dicambuk Usai Menyelundup Masuk Singapura Pakai Sampan

Tag:  #mengapa #banyak #bisnis #legendaris #singapura #berguguran

KOMENTAR