Internet Diputus, Telepon Internasional Lumpuh: Iran Dinilai Bungkam Protes yang Kian Membesar
Demonstrasi semakin meluas di Iran. (West Asia News Agency via Reuters).
14:54
10 Januari 2026

Internet Diputus, Telepon Internasional Lumpuh: Iran Dinilai Bungkam Protes yang Kian Membesar

Pemerintah Iran mengambil langkah ekstrem di tengah gelombang demonstrasi nasional yang terus meluas. Pada Jumat (9/1) malam waktu setempat, akses internet dan sambungan telepon internasional diputus hampir sepenuhnya, membuat lebih dari 85 juta warga Iran terisolasi dari dunia luar.

Pemutusan komunikasi ini terjadi bertepatan dengan seruan aksi malam hari yang digaungkan Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi. Ajakan tersebut mendorong warga di berbagai kota turun ke jalan atau berteriak dari jendela rumah mereka sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap pemerintah.

Aksi tersebut menjadi ujian pertama sejauh mana masyarakat Iran bersedia merespons figur Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang melarikan diri dari Iran menjelang Revolusi Islam 1979.

Dalam beberapa demonstrasi, terdengar teriakan dukungan terhadap sistem monarki, sesuatu yang pada masa lalu bisa berujung hukuman mati, namun kini mencerminkan besarnya kemarahan publik.

Mengutip AP News, lembaga pemantau lalu lintas internet Cloudflare dan kelompok advokasi digital NetBlocks mengkonfirmasi terjadinya pemadaman jaringan nasional. Keduanya menyebut gangguan tersebut sebagai hasil intervensi langsung pemerintah Iran.

Upaya menghubungi nomor telepon rumah maupun seluler di Iran dari luar negeri, termasuk dari Dubai, dilaporkan gagal tersambung. Pola ini bukan hal baru.

Dalam sejarah Iran, pemutusan akses komunikasi kerap menjadi pertanda pengetatan keamanan dan gelombang penindakan lanjutan.

Menariknya, media pemerintah Iran justru tidak menyinggung pemadaman internet tersebut. Saluran berita 24 jam televisi nasional, dalam siaran Jumat pagi, memilih menyoroti program subsidi pangan, seolah tak terjadi gangguan komunikasi besar-besaran.

Protes Tanpa Pemimpin, Tapi Tak Terbendung
Di lapangan, demonstrasi terus berlanjut hingga Jumat pagi. Aksi tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga menjalar ke wilayah pedesaan. Pasar dan bazar di berbagai daerah kembali tutup sebagai bentuk solidaritas terhadap massa aksi.

Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, sedikitnya 42 orang tewas dalam kekerasan terkait demonstrasi, sementara lebih dari 2.270 orang ditahan aparat keamanan.

Meluasnya protes ini semakin menekan pemerintahan sipil Iran dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, terutama karena akar persoalannya bukan sekadar politik, melainkan krisis ekonomi yang menghantam kehidupan sehari-hari warga, mulai dari inflasi tinggi, lonjakan harga pangan, hingga kebijakan subsidi yang berubah drastis.

Meski Reza Pahlavi mencoba mengisi ruang simbolik perlawanan, protes di Iran sejauh ini tetap bersifat tanpa pemimpin tunggal. Dampak jangka panjang dari seruannya masih belum jelas.

“Ketiadaan alternatif yang kredibel telah melemahkan protes-protes sebelumnya di Iran,” tulis Nate Swanson dari Atlantic Council, lembaga kajian berbasis di Washington.

Ia menilai Iran sejatinya memiliki banyak tokoh potensial yang bisa menjadi figur transformasional, sebagaimana Lech Wałęsa di Polandia pada akhir Perang Dingin. Namun, menurutnya, aparat keamanan Iran selama ini berhasil menangkap, menekan, atau memaksa keluar negeri hampir seluruh calon pemimpin perubahan.

Dengan akses informasi dibungkam dan protes yang tetap menyala, Iran kini menghadapi risiko gejolak berkepanjangan yang sulit dikendalikan hanya dengan sensor dan represi.

Editor: Mohamad Nur Asikin

Tag:  #internet #diputus #telepon #internasional #lumpuh #iran #dinilai #bungkam #protes #yang #kian #membesar

KOMENTAR