Perwakilan Amerika Serikat Segera Temui Denmark Bahas Ambisi terhadap Greenland
Amerika Serikat kembali mencoba untuk membeli Greenland (Reuters)
15:39
8 Januari 2026

Perwakilan Amerika Serikat Segera Temui Denmark Bahas Ambisi terhadap Greenland

- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan jika dirinya berencana bertemu dengan para pejabat Denmark minggu depan.

Pertemuan itu diadakan setelah pemerintahan Donald Trump kembali menegaskan niatnya untuk mengambil alih Greenland, pulau Arktik strategis yang merupakan wilayah otonom Denmark.

 

Rubio menyampaikan kepada sejumlah anggota parlemen terpilih bahwa niat pemerintah membeli Greenland bukanlah untuk merebutnya dengan kekuatan militer. Pernyataan ini disampaikan dalam pengarahan rahasia pada Senin malam di Capitol Hill, sebagaimana pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal berdasarkan keterangan sumber anonim yang mengetahui isi diskusi pribadi tersebut.

Pada hari Rabu (7/1), Rubio mengatakan kepada wartawan bahwa Trump telah membicarakan tentang akuisisi Greenland sejak masa jabatan pertamanya. 

"Itu selalu menjadi niat presiden sejak awal. Dia (Trump) bukan presiden Amerika Serikat pertama yang telah meneliti atau mempertimbangkan bagaimana kita dapat mengakuisisi Greenland," kata Rubio.

Dia berada di Capitol Hill untuk pengarahan dengan seluruh senat dan DPR, di mana pertanyaan dari para anggota parlemen tidak hanya berpusat pada operasi pemerintah untuk menangkap mantan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro, tetapi juga pada komentar Trump baru-baru ini tentang Greenland.

Ketegangan dengan negara-negara anggota NATO meningkat, setelah Gedung Putih mengatakan pada hari Selasa bahwa militer Amerika Serikat selalu menjadi pilihan. 

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan awal pekan ini bahwa pengambilalihan oleh Amerika Serikat akan sama dengan berakhirnya NATO.

"Negara-negara Nordik tidak sembarangan membuat pernyataan seperti ini," kata Maria Martisiute, analis pertahanan di lembaga think tank European Policy Centre, kepada Associated Press pada hari Rabu. 

"Tetapi Trump dengan bahasanya sangat bombastis, dan hampir menyerupai ancaman langsung serta intimidasi, mengancam sekutu lain dengan mengatakan 'Saya akan menguasai atau mencaplok wilayah tersebut'."

Rubio tidak menjawab secara langsung tentang pertanyaan apakah pemerintahan Trump bersedia mengambil risiko aliansi NATO dengan berpotensi melanjutkan opsi militer terkait Greenland.

"Saya di sini bukan untuk membicarakan Denmark atau intervensi militer, saya akan bertemu dengan mereka minggu depan, kita akan membicarakan hal itu dengan mereka saat itu, tetapi saya tidak punya hal lain untuk ditambahkan," kata Rubio. 

Rubio juga mengatakan kepada wartawan, bahwa setiap presiden tetap memiliki pilihan untuk mengatasi ancaman keamanan nasional terhadap Amerika Serikat melalui cara militer.

Para pemimpin negara Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris bergabung dengan Frederiksen dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa, yang menegaskan kembali bahwa pulau yang kaya mineral tersebut, serta menjaga jalur Arktik dan Atlantik Utara menuju Amerika Utara, merupakan milik rakyatnya.

Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen dan mitranya dari Greenland, Vivian Motzfeldt telah meminta pertemuan dengan Rubio dalam waktu dekat, menurut pernyataan yang diposting pada hari Selasa di situs web pemerintah Greenland. 

Menurut pernyataan seperti yang diberitakan Korea Times, permintaan sebelumnya untuk pertemuan tatap muka tidak berhasil.

Thomas Crosbie, seorang profesor madya operasi militer di Royal Danish Defense College mengatakan bahwa pengambilalihan oleh Amerika tidak akan memperbaiki strategi keamanan Washington saat ini.

"Amerika Serikat tidak akan mendapatkan keuntungan apapun jika benderanya berkibar di Nuuk dibandingkan dengan bendera Greenland," katanya kepada AP.

"Tidak ada manfaat bagi mereka, karena mereka sudah menikmati semua keuntungan yang diinginkan."

"Jika ada akses keamanan khusus yang mereka inginkan untuk meningkatkan keamanan Amerika, mereka akan diberikan secara otomatis, sebagai sekutu terpercaya." 

"Jadi ini tidak ada hubungannya dengan peningkatan keamanan nasional bagi Amerika Serikat."

Parlemen Denmark menyetujui rancangan undang-undang pada bulan Juni lalu untuk mengizinkan pangkalan militer Amerika Serikat ada di wilayah Denmark. Hal ini memperluas perjanjian militer sebelumnya, yang dibuat pada tahun 2023 dengan pemerintahan Biden, di mana pasukan AS memiliki akses luas ke pangkalan udara Denmark di negara Skandinavia tersebut.

Rasmussen dalam tanggapannya terhadap pertanyaan para anggota parlemen, menulis pada musim panas lalu bahwa Denmark dapat mengakhiri perjanjian jika Amerika Serikat mencoba untuk mencaplok seluruh atau sebagian Greenland.

Namun, jika terjadi aksi militer, Departemen Pertahanan Amerika Serikat saat ini mengoperasikan Pangkalan Luar Angkasa Pituffik yang terpencil, di barat laut Greenland, dan pasukan di sana dapat dimobilisasi.

Crosbie mengatakan, dia yakin Amerika Serikat tidak akan berusaha menyakiti penduduk setempat atau terlibat konflik dengan pasukan Denmark.

"Mereka tidak perlu membawa persenjataan. Mereka tidak perlu membawa siapapun,"  ungkap Crosbie pada hari Rabu. 

"Mereka bisa saja mengarahkan personel militer yang ada di sana untuk berkendara ke pusat Nuuk dan mengatakan, 'Ini Amerika sekarang, kan?' Dan itu akan menghasilkan respons yang sama seperti jika mereka menerbangkan 500 atau 1.000 orang."

Menurutnya, bahaya aneksasi Amerika Serikat terletak pada erosi supremasi hukum secara global, dan persepsi bahwa ada norma-norma yang melindungi siapapun di planet ini.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan bahwa ia berbicara melalui telepon pada hari Selasa dengan Rubio, yang menolak gagasan operasi ala Venezuela di Greenland.

"Di Amerika Serikat, ada dukungan besar untuk keanggotaan negara tersebut di NATO, keanggotaan yang dari satu hari ke hari berikutnya, dapat terancam oleh… segala bentuk agresi terhadap anggota NATO lainnya," kata Barrot kepada radio France Inter pada hari Rabu.

Ketika ditanya apakah dia memiliki rencana jika Trump benar-benar mengklaim Greenland, Barrot mengatakan dia tidak akan terlibat dalam diplomasi fiktif.

Meskipun sebagian besar anggota Partai Republik mendukung pernyataan Trump, Senator Jeanne Shaheen dan Thom Tillis, ketua bersama dari Partai Demokrat dan Republik dalam Kelompok Pengamat NATO Senat yang bersifat bipartisan, mengkritik retorika Trump.

"Ketika Denmark dan Greenland memperjelas bahwa Greenland tidak untuk dijual, Amerika Serikat harus menghormati kewajiban perjanjiannya dan menghargai kedaulatan dan integritas teritorial Kerajaan Denmark," demikian pernyataan mereka pada hari Selasa. 

"Setiap anggapan bahwa negara kami akan menundukkan sekutu NATO lainnya pada paksaan atau tekanan eksternal, merusak prinsip-prinsip penentuan nasib sendiri yang dipertahankan oleh aliansi kami."

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #perwakilan #amerika #serikat #segera #temui #denmark #bahas #ambisi #terhadap #greenland

KOMENTAR