Pendanaan Raksasa xAI Elon Musk Tembus Rp 335 Triliun di Tengah Tekanan Global atas Kontroversi Deepfake Grok
— Perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk, xAI, mengumumkan perolehan pendanaan baru sebesar USD 20 miliar atau setara Rp 335 triliun dengan kurs Rp 16.750 per dolar AS. Suntikan modal ini memperkuat posisi xAI dalam kompetisi global industri kecerdasan buatan, meskipun dicapai di tengah tekanan internasional terkait kontroversi serius yang menimpa chatbot andalannya, Grok.
Pendanaan tersebut berasal dari putaran Series E yang melibatkan investor kelas dunia, antara lain Nvidia, Fidelity Management and Research Company, dana kekayaan negara Qatar, serta Valor Equity Partners milik Antonio Gracias, mitra lama Musk. Dalam pernyataan resminya, xAI menyebut putaran ini melampaui target awal USD 15 miliar atau sekitar Rp 251 triliun dan menonjolkan kemampuan generasi gambar Grok sebagai bagian dari kemajuan teknologi perusahaan.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (7/1/2026), pengumuman pendanaan ini terjadi ketika Grok justru menghadapi gelombang kritik paling keras sejak diluncurkan. Chatbot tersebut diketahui merespons puluhan ribu permintaan pengguna di platform X untuk memanipulasi foto perempuan dengan cara seksual, termasuk permintaan untuk menghapus pakaian dalam gambar tanpa persetujuan subjek.
Salah satu kasus yang menyedot perhatian publik melibatkan Ashley St Clair, ibu dari salah satu anak Elon Musk yang kini hidup terpisah darinya. Kepada The Guardian, St Clair menggambarkan dampak personal yang mendalam dari peristiwa tersebut.
“Saya benar-benar terkejut dan merasa martabat saya direnggut, terutama ketika melihat ransel balita saya tampak jelas di latar belakang gambar itu,” ujarnya. Dia menambahkan bahwa pengaduan yang diajukannya kepada platform X tidak mendapat respons.
Sementara itu, permintaan komentar The Guardian kepada xAI hanya dibalas dengan respons otomatis berbunyi “Legacy Media Lies,” yang secara harfiah berarti media arus utama berbohong dan lazim digunakan untuk meremehkan kredibilitas media pers.
Kontroversi kian memuncak setelah terungkap bahwa Grok menghasilkan manipulasi gambar anak di bawah umur. Salah satu kasus melibatkan foto anak perempuan berusia 12 tahun yang pakaiannya dihapus secara digital dan digambarkan mengenakan bikini.
Gambar sugestif lain bahkan menampilkan anak berusia sekitar 10 tahun. Meski Grok sempat menyampaikan permintaan maaf pada Jumat lalu dengan alasan adanya “kelalaian dalam sistem pengaman,” praktik tersebut dilaporkan masih terjadi beberapa hari setelahnya.
Tekanan regulasi pun meningkat di Eropa. Pemerintah Prancis melaporkan konten Grok kepada jaksa serta menyerahkannya kepada regulator media untuk menilai potensi pelanggaran Digital Services Act Uni Eropa. Di Inggris, Menteri Teknologi Liz Kendall mengecam keras kasus ini. “Ini memalukan dan tidak dapat diterima,” ujarnya, seraya mendesak regulator Ofcom untuk mengambil tindakan. Ofcom menyatakan telah menghubungi xAI guna menentukan apakah penyelidikan resmi diperlukan.
Sebaliknya, di Amerika Serikat, tempat xAI bermarkas, respons para pembuat kebijakan relatif lebih senyap. Sikap ini kontras dengan besarnya dampak global dari teknologi tersebut. Padahal, xAI sebelumnya juga menuai kontroversi serupa. Pada Juli tahun lalu, sepekan setelah Grok menyebarkan konten antisemit dan ideologi pro-Nazi—termasuk menyebut dirinya “MechaHitler”—xAI mengumumkan kontrak dengan Pentagon senilai hampir USD 200 juta atau sekitar Rp 3,35 triliun.
Secara strategis, xAI menyatakan pendanaan terbaru ini akan digunakan untuk meningkatkan kapabilitas model kecerdasan buatannya serta membangun pusat data berskala besar di Memphis, Tennessee. Perusahaan menegaskan misinya adalah “memahami alam semesta,” sebuah visi ambisius yang kini diuji oleh tuntutan akuntabilitas publik.
Dalam perkembangan industri AI global saat ini, kontroversi xAI mencerminkan paradoks kecerdasan buatan modern: arus modal raksasa terus mengalir meskipun persoalan etika dan kepatuhan hukum belum sepenuhnya terjawab. Bagi pasar dan regulator internasional, tantangan utamanya kini bukan semata soal kecepatan inovasi, melainkan sejauh mana tanggung jawab dan pengawasan mampu mengimbangi ekspansi teknologi yang kian agresif.
Tag: #pendanaan #raksasa #elon #musk #tembus #triliun #tengah #tekanan #global #atas #kontroversi #deepfake #grok