Menkes Budi Tinjau RSUD Kota Bima Naik Kelas C, Siap Tangani Stroke hingga Jantung
Penampakan RSUD Kota BIMA yang naik ke kelas C di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).(KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA)
14:36
28 Februari 2026

Menkes Budi Tinjau RSUD Kota Bima Naik Kelas C, Siap Tangani Stroke hingga Jantung

– RSUD Kota Bima naik kelas dari tipe D menjadi tipe C dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden. 

Meski belum beroperasi dan masih dalam tahap penyelesaian, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turut melakukan peninjauan ke rumah sakit tersebut di Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026). 

RSUD Kota Bima menjadi satu dari 66 rumah sakit daerah yang ditingkatkan kelasnya dengan target penyelesaian dalam dua tahun, yaitu 2025-2026. 

Baca juga: Kondisi Terkini Pelayanan Pasien Anak di RSUD Aceh Tamiang Pascabanjir

Program ini menyasar daerah-daerah terpencil agar memiliki fasilitas kesehatan yang lebih memadai.

Satu dari 66 RSUD dalam pogram presiden

Penampakan RSUD Kota BIMA yang naik ke kelas C di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Penampakan RSUD Kota BIMA yang naik ke kelas C di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).

Budi menegaskan, peningkatan kelas RSUD Kota Bima merupakan bagian dari arahan Presiden untuk memperkuat layanan kesehatan di wilayah terpencil.

“Ini adalah satu dari 66 RSUD yang akan dibangun oleh Pak Presiden Prabowo. Jadi seluruh daerah-daerah terpencil, beliau minta agar dibangun RSUD,” ujar Budi dalam kunjungan tersebut.

Menurut Budi, rumah sakit ini dipersiapkan untuk mampu menangani lima penyakit utama penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

“RSUD ini bisa menangani 5 penyakit utama yang penyebab kematian. Yang nomor satu, paling tinggi itu kematian karena stroke, nomor dua jantung, nomor tiga kanker, nomor empat ginjal, nomor lima itu ibu dan anak,” jelasnya.

Ia menambahkan, dengan adanya fasilitas tersebut, masyarakat Bima dan sekitarnya diharapkan tidak perlu lagi dirujuk jauh ke luar daerah.

Baca juga: Menkes Budi Ungkap 3 Tantangan Kesehatan Menuju Indonesia Emas 2045

Kunjungan kerja Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, ke RSUD Kota BIMA yang naik ke kelas C di Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Kunjungan kerja Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, ke RSUD Kota BIMA yang naik ke kelas C di Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).

Budi juga memastikan ketersediaan alat dan tenaga medis menjadi prioritas utama.

“Yang penting ada alatnya dan ada dokternya. Saya cek alatnya nanti akan berdatangan bertahap dan ini nilainya puluhan miliar. Nanti mudah-mudahan akan selesai di bulan Juni ya,” ujarnya.

Ia turut menyoroti keberadaan dokter yang bertugas di RSUD Kota Bima. Budi berharap tenaga medis, khususnya dokter yang bertugas berasal dari Kota Bima.

“Saya tanya-tanya, alhamdulillah dokternya sudah ada semua. Saya juga cek, dokternya asli orang NTB apa enggak. Karena kalau dokternya orang Jawa, nanti sebentar-sebentar dia pulang ke Jawa,” katanya.

“Alhamdulillah, di sini dokternya saya tanya semuanya Putra-Putri NTB. Kalaupun bukan orang NTB, dia sudah terpaksa nyangkut di NTB karena menikah dengan orang NTB,” lanjutnya.

Baca juga: 79 Persen Wilayah Indonesia Bebas Malaria, Menkes Optimistis Eliminasi Kasusnya

Mengurangi beban rujukan ke Mataram

Penampakan RSUD Kota BIMA yang naik ke kelas C di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Penampakan RSUD Kota BIMA yang naik ke kelas C di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).

Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Iqbal menyebut peningkatan kelas RSUD Kota Bima menjadi jawaban atas persoalan layanan kesehatan di wilayah Bima dan Dompu.

Ia menyoroti tiga penyakit terbesar yang paling banyak dialami masyarakat setempat.

“Persoalan besar yang dihadapi oleh Kota dan Kabupaten Bima dan Dompu untuk tiga penyakit terbesar yang paling banyak dialami itu stroke, jantung, dan ginjal,” ujarnya.

Baca juga: Layanan Kesehatan Gratis Diperluas, Menkes Imbau Masyarakat Aktifkan BPJS

Kunjungan kerja Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, ke RSUD Kota BIMA yang naik ke kelas C di Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Kunjungan kerja Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, ke RSUD Kota BIMA yang naik ke kelas C di Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).

Menurutnya, ketiga penyakit tersebut bersifat time-sensitive dan harus segera ditangani.

“Tiga-tiganya ini penyakit yang time-sensitive. Artinya, makin cepat ditangani, makin baik. Selama ini harus pergi ke Mataram. Sehingga ini jadi beban yang sangat berat buat masyarakat Bima,” katanya.

Perjalanan menuju Mataram memakan waktu panjang, bahkan sekitar lima jam dari lokasi terdekat, dan tetap dirasakan jauh oleh masyarakat.

Fokus layanan KJSU dan kesehatan ibu dan anak

Penampakan RSUD Kota BIMA yang naik ke kelas C di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Penampakan RSUD Kota BIMA yang naik ke kelas C di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).

Direktur RSUD Kota Bima, dr. H. Fathurrahman menjelaskan, rumah sakit saat ini memiliki total 100 tempat tidur rawat inap. 

Peningkatan kelas akan difokuskan pada layanan KJSU-KIA, yaitu kanker, jantung, stroke, uro-nefro, serta kesehatan ibu dan anak. Ia mengakui, kondisi tersebut kerap berisiko bagi pasien.

“Kasus-kasus ini yang paling sering kita rujuk ke provinsi dan membutuhkan perjalanan 14-16 jam melewati laut,” ujarnya.

“Sehingga kadang-kadang pasien tidak selamat di jalan. Makanya kita sangat antusias mengembangkan layanan KJSU-KIA di kota Bima ini,” lanjut dia.

Ke depannya, RSUD Kota Bima akan mengembangkan layanan kanker dengan penanganan cytotoxic. Untuk layanan jantung, rumah sakit merencanakan pembukaan cath-lab.

Baca juga: Tes TBC di Indonesia Cukup Swab Mulut mulai 2026 Menurut Menkes Budi Gunadi

(Kiri ke kanan), Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhammad Iqbal, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Walikota Bima A. Rahman H. Abidin dalam kunjungan kerja ke RSUD Kota BIMA, di Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA (Kiri ke kanan), Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhammad Iqbal, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Walikota Bima A. Rahman H. Abidin dalam kunjungan kerja ke RSUD Kota BIMA, di Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).

Selain itu, layanan uro-nefro juga akan diperkuat melalui pembukaan hemodialisa serta pengembangan CT scan untuk penanganan stroke.

“Uro-nefro juga kami rencanakan membuka layanan hemodialisa dan stroke, dengan kita mengembangkan juga CT scan dan cath lab itu sendiri yang kami fokuskan di sini adalah KJSU dan kesehatan ibu dan anak,” jelasnya.

Rumah sakit ditargetkan selesai pada Juni 2026, dengan operasional penuh dan pemindahan pasien dijadwalkan pada Agustus 2026. 

Saat ini, layanan yang tersedia meliputi dokter radiologi, penyakit dalam, bedah, anestesi, dokter anak, obgyn, jantung, mata, dan ortopedi, meski belum memiliki dokter THT.

Dengan peningkatan ini, RSUD Kota Bima diharapkan menjadi pusat layanan rujukan regional yang mampu menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat di wilayah timur Nusa Tenggara Barat.

Baca juga: Kemenkes Kirim Tim dan Kecam Kekerasan terhadap Dokter di RSUD Sekayu

Tag:  #menkes #budi #tinjau #rsud #kota #bima #naik #kelas #siap #tangani #stroke #hingga #jantung

KOMENTAR