Target Pasar Global, Pertamina Bangun Ekosistem SAF Terverifikasi Internasional
Ilustrasi Pesawat. (Freepik)
15:45
28 Februari 2026

Target Pasar Global, Pertamina Bangun Ekosistem SAF Terverifikasi Internasional

Baca 10 detik
  • Pertamina menyatakan kesiapan memasok Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan (SAF) ke pasar internasional, termasuk Eropa dan Asia-Pasifik.
  • Pertamina telah mengamankan sertifikasi ISCC untuk seluruh rantai nilai SAF yang diproduksi melalui teknologi *co-processing* di Cilacap.
  • Pengembangan SAF Pertamina fokus pada ekspansi komersial dan mengatasi tantangan ketersediaan bahan baku berkelanjutan seperti minyak jelantah.

PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapannya untuk memasok bahan bakar pesawat berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke pasar internasional, termasuk wilayah Eropa dan Asia-Pasifik. 

Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan global.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyampaikan hal tersebut dalam diskusi panel internasional di ISCC Global Sustainability Conference 2026 di Brussel, Belgia, Sabtu (28/2/2026).

Menurutnya, kehadiran Pertamina dalam forum ini menunjukkan bahwa Indonesia berperan aktif dalam solusi dekarbonisasi sektor penerbangan global. 

:Kami menyiapkan SAF agar memenuhi spesifikasi teknis dan standar keberlanjutan internasional sehingga siap untuk diekspor," ujar Agung.

Pertamina memastikan seluruh rantai nilai SAF, mulai dari pengumpulan bahan baku, proses kilang (refining), hingga distribusi, telah mengantongi sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). 

Ilustrasi Pertamina. (pertaminaretail.com) PerbesarIlustrasi Pertamina. (pertaminaretail.com)

Sertifikasi ini diperlukan untuk menjamin ketelusuran bahan baku dan memenuhi standar akuntansi karbon internasional.

"Di luar pasar domestik, kami menargetkan pasar penerbangan regional dan global, termasuk Eropa dan Asia-Pasifik. Kami siapkan SAF agar siap ekspor dan mampu bersaing, baik dari sisi spesifikasi teknis, keberlanjutan, maupun standar global,” kata Agung.

Saat ini, Pertamina memproduksi SAF melalui teknologi co-processing di Green Refinery Cilacap dengan mencampurkan minyak jelantah (used cooking oil/UCO). 

Produk tersebut memiliki kandungan campuran SAF sebesar 2,4 persen.

Secara operasional, produk ini telah melewati uji teknis pada pesawat Airbus A320-200 milik maskapai Pelita Air Services, baik untuk rute domestik maupun internasional.

Kini, Pertamina tengah melakukan ekspansi skala komersial melalui proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 yang ditargetkan mulai beroperasi (on stream) pada tahun 2029.

 Peningkatan kapasitas ini disiapkan untuk mendukung kebijakan mandatori campuran SAF 1 persen pada penerbangan internasional dari Indonesia yang akan dimulai pada 2027.

Agung menekankan bahwa kunci pengembangan SAF terletak pada kepastian regulasi dan harmonisasi standar karbon lintas negara. 

Menurutnya, tantangan utama industri saat ini bukan lagi pada teknologi, melainkan ketersediaan bahan baku berkelanjutan.

"Indonesia memiliki potensi besar dari limbah seperti UCO dan residu Palm Oil Mill Effluent (POME). Jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan sertifikasi yang ketat, limbah ini dapat menjadi sumber pasokan SAF global tanpa mengganggu ketersediaan pangan," kata Agung. 

Editor: Dythia Novianty

Tag:  #target #pasar #global #pertamina #bangun #ekosistem #terverifikasi #internasional

KOMENTAR