Jika Anda Masih Mengingat 9 Kebiasaan Sekolah yang Terlupakan Ini, Otak Anda Masih Belajar dengan Cepat Menurut Psikologi
Banyak orang mengira kemampuan belajar hanya kuat saat masih duduk di bangku sekolah. Padahal, menurut berbagai penelitian dalam psikologi kognitif dan ilmu saraf, otak manusia tetap plastis, mampu berubah dan berkembang, sepanjang hidup. Konsep ini dikenal sebagai neuroplasticity.
Menariknya, beberapa kebiasaan sekolah yang dulu terasa biasa saja ternyata merupakan “latihan otak” yang sangat kuat. Jika Anda masih mengingat—atau bahkan masih menerapkan—kebiasaan-kebiasaan ini, besar kemungkinan otak Anda masih bekerja dengan cepat dan efisien dalam menyerap informasi baru.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat 9 kebiasaan sekolah yang mungkin sudah jarang dilakukan, tetapi menurut psikologi, sangat berkaitan dengan kemampuan belajar yang tajam.
1. Mencatat dengan Tangan, Bukan Sekadar Mengetik
Sebelum laptop dan tablet mendominasi ruang kelas, kita terbiasa menulis catatan dengan tangan. Menurut penelitian dari Princeton University dan University of California, Los Angeles, menulis tangan membantu pemrosesan informasi yang lebih dalam dibandingkan mengetik.
Ketika menulis, otak dipaksa untuk:
Menyaring informasi
Memahami inti materi
Mengorganisasi ulang dalam bahasa sendiri
Jika Anda masih suka mencatat poin penting saat belajar sesuatu yang baru, itu tanda otak Anda masih aktif melakukan deep processing.
2. Mengulang Pelajaran dengan Suara Keras
Dulu mungkin Anda pernah membaca materi sambil berbicara pelan atau menghafal dengan suara keras. Teknik ini dikenal dalam psikologi sebagai production effect.
Penelitian menunjukkan bahwa membaca dengan suara keras membuat informasi lebih mudah diingat dibandingkan hanya membaca dalam hati. Aktivitas ini melibatkan lebih banyak jalur sensorik—visual, auditori, dan motorik—sehingga memperkuat jejak memori.
Jika Anda masih melakukan ini saat mempelajari hal baru, itu pertanda otak Anda tahu cara memperkuat ingatan secara alami.
3. Mengajarkan Kembali Materi kepada Orang Lain
Di sekolah, kita sering diminta presentasi di depan kelas. Tanpa sadar, ini adalah metode belajar yang sangat efektif.
Konsep ini populer sebagai Feynman Technique, terinspirasi dari fisikawan Richard Feynman. Prinsipnya sederhana: jika Anda bisa menjelaskan sesuatu dengan bahasa sederhana, berarti Anda benar-benar memahaminya.
Mengajarkan orang lain memaksa otak untuk:
Mengorganisasi pengetahuan
Mengidentifikasi celah pemahaman
Menghubungkan konsep
Jika Anda masih suka menjelaskan ulang apa yang baru dipelajari, kemampuan belajar Anda kemungkinan besar masih tajam.
4. Membaca Buku Fisik dalam Waktu Lama
Sebelum era media sosial, membaca buku pelajaran atau novel selama berjam-jam adalah hal biasa. Kebiasaan ini melatih sustained attention—kemampuan fokus dalam jangka panjang.
Psikolog kognitif seperti Daniel Kahneman menjelaskan bahwa fokus mendalam adalah sumber daya mental yang terbatas. Orang yang masih mampu membaca panjang tanpa terdistraksi menunjukkan kontrol perhatian yang baik.
Jika Anda masih bisa tenggelam dalam buku tanpa terus-menerus mengecek ponsel, itu sinyal kuat bahwa sistem perhatian otak Anda bekerja optimal.
5. Menghafal dengan Pengulangan Berkala
Dulu kita mengulang materi sebelum ujian, mungkin setiap malam. Teknik ini dikenal sebagai spaced repetition—dan secara ilmiah terbukti sangat efektif.
Metode ini kini digunakan dalam berbagai aplikasi pembelajaran modern. Namun sebenarnya, ini bukan hal baru; kita sudah melakukannya sejak sekolah dasar.
Jika Anda masih terbiasa mengulang materi dalam interval waktu tertentu, berarti otak Anda masih menggunakan strategi pembelajaran berbasis sains.
6. Membuat Ringkasan dengan Bahasa Sendiri
Guru sering menyuruh kita membuat rangkuman. Saat itu mungkin terasa melelahkan, tetapi dari sudut pandang psikologi kognitif, ini adalah latihan pemahaman tingkat tinggi.
Meringkas berarti:
Memilah informasi penting
Menghilangkan detail tidak relevan
Menyusun ulang struktur pemahaman
Proses ini melibatkan elaborative encoding, yaitu teknik memperkaya informasi agar lebih mudah diingat.
Jika Anda masih melakukan ini saat membaca artikel atau buku, itu tanda otak Anda aktif membangun koneksi baru.
7. Disiplin Mengatur Waktu Belajar
Jadwal pelajaran, jam masuk sekolah, dan waktu ujian melatih kita dalam manajemen waktu. Kebiasaan ini berhubungan dengan fungsi eksekutif di otak—yang mengatur perencanaan, pengendalian diri, dan pengambilan keputusan.
Menurut penelitian dalam bidang executive function, orang dengan kemampuan manajemen waktu yang baik cenderung memiliki proses belajar yang lebih efisien.
Jika Anda masih membuat jadwal ketika ingin mempelajari keterampilan baru, itu menunjukkan sistem kontrol kognitif Anda masih kuat.
8. Aktif Bertanya Saat Tidak Paham
Di kelas, siswa yang aktif bertanya biasanya lebih cepat memahami materi. Bertanya bukan tanda kelemahan, tetapi tanda metacognition—kesadaran terhadap proses berpikir sendiri.
Psikologi modern menekankan pentingnya metakognisi dalam pembelajaran sepanjang hayat. Individu yang sadar akan apa yang belum mereka pahami cenderung belajar lebih efektif.
Jika Anda masih reflektif dan berani mengakui “Saya belum paham,” maka otak Anda masih bekerja dalam mode pembelajar aktif.
9. Rasa Ingin Tahu yang Tinggi
Kebiasaan terbesar yang sering lahir dari bangku sekolah adalah rasa ingin tahu. Psikolog seperti Carol Dweck melalui konsep growth mindset menjelaskan bahwa orang yang percaya kemampuan bisa berkembang akan terus belajar.
Rasa ingin tahu mengaktifkan sistem dopamin di otak, membuat proses belajar terasa menyenangkan. Jika Anda masih mudah tertarik mempelajari hal baru—entah itu bahasa, teknologi, atau keterampilan lain—itu pertanda sistem pembelajaran Anda masih aktif.
Mengapa Kebiasaan Lama Ini Masih Relevan?
Ilmu saraf modern menunjukkan bahwa otak tidak “berhenti berkembang” setelah usia tertentu. Selama Anda terus melatihnya, koneksi sinaptik baru akan terus terbentuk.
Kebiasaan sekolah sebenarnya adalah:
Latihan memori
Latihan fokus
Latihan pemecahan masalah
Latihan regulasi diri
Jika kebiasaan-kebiasaan ini masih ada dalam diri Anda, meski hanya sebagian, besar kemungkinan otak Anda masih berada dalam kondisi belajar yang optimal.
Kesimpulan
Sekolah mungkin sudah lama berlalu, tetapi kebiasaan yang Anda bangun saat itu bisa menjadi indikator kuat kemampuan belajar saat ini.
Jika Anda:
Masih suka mencatat,
Masih mengulang materi,
Masih bertanya ketika tidak paham,
Masih membaca panjang dengan fokus,
Dan masih penasaran terhadap hal baru,
maka menurut perspektif psikologi dan ilmu kognitif, otak Anda kemungkinan masih fleksibel, cepat beradaptasi, dan siap menyerap informasi baru.
Belajar bukan soal usia. Belajar adalah soal kebiasaan. Dan jika kebiasaan sekolah lama itu masih hidup dalam diri Anda, kabar baiknya: otak Anda juga masih “hidup” dan berkembang.***
Tag: #jika #anda #masih #mengingat #kebiasaan #sekolah #yang #terlupakan #otak #anda #masih #belajar #dengan #cepat #menurut #psikologi