Pakistan Serang Afghanistan dan Nyatakan Perang Terbuka dengan Taliban, Konflik Durand Kembali Meledak
Personel keamanan Taliban berjaga di dekat Garis Durand, Distrik Gurbuz, Provinsi Khost, 27 Februari 2026, usai bentrokan lintas batas Pakistan–Afghanistan. (Foto: Al Jazeera)
12:45
28 Februari 2026

Pakistan Serang Afghanistan dan Nyatakan Perang Terbuka dengan Taliban, Konflik Durand Kembali Meledak

— Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan berubah drastis menjadi konfrontasi terbuka setelah Islamabad melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah Afghanistan, termasuk Kabul, Paktia, dan Kandahar. 

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, secara eksplisit menyatakan kedua negara kini berada dalam “perang terbuka”, sebuah pernyataan yang mempertegas eskalasi paling serius sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021.

Serangan tersebut terjadi di tengah bentrokan intens di sepanjang Garis Durand, perbatasan sepanjang 2.611 kilometer yang selama puluhan tahun menjadi sumber sengketa. Pakistan menuding pasukan Afghanistan lebih dahulu menyerang posisi militernya dekat perbatasan pada Jumat dini hari, sehingga memicu respons udara dari Islamabad.

Melansir Al Jazeera, Sabtu (28/2/2026), serangan pertama Pakistan terjadi sekitar pukul 01.50 waktu setempat. Koresponden Al Jazeera melaporkan pasukan Afghanistan membalas dengan tembakan antipesawat. Di platform X, Khawaja Asif menulis, “Kesabaran kami telah meluap. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan kalian.” 

Sebelumnya, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menyatakan Afghanistan sedang melakukan “operasi ofensif berskala besar” terhadap militer Pakistan di sepanjang Garis Durand.

Di sisi lain, pemerintah Pakistan menyebut sasaran yang dihantam adalah “target pertahanan Taliban Afghanistan” di Kabul, Provinsi Paktia, dan Kandahar. Adapun Zabihullah Mujahid mengonfirmasi bahwa tiga wilayah tersebut terdampak. Associated Press, mengutip dua pejabat keamanan senior Pakistan yang tidak disebut namanya, melaporkan dua pangkalan brigade di Afghanistan hancur akibat serangan tersebut.

Lebih lanjut, media pemerintah Pakistan TV mengklaim pasukannya “menghancurkan” sejumlah lokasi Taliban dalam beberapa jam, termasuk markas brigade dan depot amunisi di Kandahar serta pos-pos di sektor Wali Khan, dekat Shawal, Bajaur, dan Angoor Adda. Selain itu, Kementerian Informasi Pakistan menyatakan operasi juga menyasar pasukan Taliban Afghanistan di distrik Chitral, Khyber, Mohmand, Kurram, dan Bajaur di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa.

Sementara itu, tembakan artileri dilaporkan terdengar di sekitar perlintasan perbatasan Torkham. AFP melaporkan tentara Afghanistan bergerak menuju garis depan. Meski demikian, perlintasan tersebut tetap dibuka bagi warga Afghanistan yang kembali secara massal dari Pakistan, walaupun perbatasan darat sebagian besar telah ditutup sejak bentrokan Oktober lalu.

Laporan korban dari kedua pihak saling bertentangan. Juru bicara Perdana Menteri Pakistan, Mosharraf Zaidi, mengklaim 133 pejuang Taliban Afghanistan tewas dan lebih dari 200 luka-luka. Ia juga menyebut 27 pos dihancurkan dan sembilan direbut, serta lebih dari 80 tank, artileri, dan kendaraan tempur lapis baja dimusnahkan. Media Dawn melaporkan dua personel militer Pakistan tewas. Namun, Al Jazeera menyatakan tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.

Sebaliknya, pemerintah Taliban menyebut hanya delapan pejuangnya tewas dan 11 terluka. Kabul juga mengklaim telah menewaskan 55 tentara Pakistan serta merebut dua pangkalan dan 19 pos militer, klaim yang dibantah Islamabad. 

Sebelumnya, pada Minggu (22/2/2026), Pakistan menyatakan serangan udaranya menewaskan sedikitnya 70 “militan”. Namun demikian, Mujahid membantah klaim tersebut dengan menyatakan serangan itu “menewaskan dan melukai puluhan orang, termasuk perempuan dan anak-anak.” Pada hari yang sama, Direktur Palang Merah Afghanistan di Nangarhar, Mawlawi Fazl Rahman Fayyaz, mengatakan 18 orang tewas dan sejumlah lainnya terluka.

Di tengah silang klaim tersebut, mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai menegaskan, “Afghanistan akan membela tanah air tercintanya dengan persatuan penuh dalam segala keadaan dan akan menanggapi agresi dengan keberanian.” Ia juga menyatakan Pakistan harus “mengubah kebijakannya dan memilih jalan bertetangga yang baik, saling menghormati, dan hubungan yang beradab.”

Secara historis, akar konflik ini berkaitan dengan sengketa atas Garis Durand, yang tidak pernah diakui secara resmi oleh Kabul sebagai perbatasan sah karena dianggap sebagai warisan kolonial yang memecah wilayah etnis Pashtun. Sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, bentrokan meningkat tajam. Di luar persoalan teritorial, Pakistan juga mendesak Taliban menindak Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), kelompok bersenjata yang dituding Islamabad beroperasi dari wilayah Afghanistan.

Dalam analisis yang lebih luas, analis dari ACLED, Pearl Pandya, memperingatkan eskalasi serius “tidak terhindarkan” jika Taliban Afghanistan tidak menindak TTP. Senada dengan itu, Elizabeth Threlkeld dari Stimson Center menilai bentrokan terbaru mencerminkan “pergeseran strategi” dengan “serangan yang lebih agresif” dari Pakistan.

Reaksi internasional pun bermunculan. India mengutuk keras serangan udara Pakistan yang disebut menimbulkan korban sipil. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak kedua pihak mematuhi hukum internasional. Iran dan Rusia menyerukan penyelesaian melalui dialog dan prinsip bertetangga yang baik, bahkan Moskow menawarkan mediasi.

Dengan deklarasi “perang terbuka” dan klaim korban yang saling bertentangan, konflik ini bukan sekadar bentrokan perbatasan biasa. Jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi, konfrontasi Pakistan dan Afghanistan berpotensi berubah menjadi krisis regional yang dampaknya meluas jauh melampaui Afghanistan dan Pakistan.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #pakistan #serang #afghanistan #nyatakan #perang #terbuka #dengan #taliban #konflik #durand #kembali #meledak

KOMENTAR