Inflasi Produsen AS Januari Melonjak 0,5 Persen, Tekan Harapan Pemangkasan Suku Bunga
Ilustrasi Amerika Serikat.(KOMPAS.com/Bill Clinten)
14:20
28 Februari 2026

Inflasi Produsen AS Januari Melonjak 0,5 Persen, Tekan Harapan Pemangkasan Suku Bunga

Harga produsen di Amerika Serikat naik lebih tinggi dari perkiraan pada Januari 2026. Kenaikan dipicu lonjakan biaya jasa dan pelebaran margin keuntungan pelaku usaha, yang mulai meneruskan beban tarif impor ke konsumen.

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index untuk permintaan akhir naik 0,5 persen pada Januari. Angka Desember direvisi menjadi 0,4 persen. Survei Reuters sebelumnya memperkirakan kenaikan 0,3 persen.

Secara tahunan, Producer Price Index meningkat 2,9 persen hingga Januari. Angka tersebut sedikit melambat dari 3,0 persen pada Desember karena faktor basis perhitungan tinggi tahun lalu.

Producer Price Index inti, yang tidak memasukkan makanan dan energi, melonjak 0,8 persen pada Januari setelah naik 0,6 persen pada Desember. Secara tahunan, inflasi produsen inti mencapai 3,6 persen.

Baca juga: Trump Sebut Inflasi Turun, Survei Ungkap Daya Beli Warga AS Masih Tertekan

Data ini memperkuat perkiraan pasar terkait arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed. Pelaku pasar menilai The Fed belum akan memangkas suku bunga sebelum pertemuan 16–17 Juni.

“Margin yang lebih lebar untuk produsen dapat menambah potensi kenaikan biaya konsumen dalam beberapa bulan mendatang karena perusahaan meneruskan biaya yang lebih tinggi untuk layanan,” kata ekonom senior Nationwide, Ben Ayers.

“Mengingat inflasi inti yang masih tinggi dan penguatan lapangan kerja baru-baru ini, kami memperkirakan The Fed akan tetap menunda kenaikan suku bunga selama pertemuan Maret mendatang,” sambungnya.

Tekanan pada Januari terutama berasal dari sektor jasa. Harga jasa melonjak 0,8 persen. Kenaikan didorong lonjakan 2,5 persen pada jasa perdagangan yang mencerminkan perubahan margin pedagang grosir dan ritel.

Margin grosir peralatan profesional dan komersial melonjak 14,4 persen. Kondisi tersebut dipandang sebagai indikasi perusahaan meneruskan beban tarif impor.

Harga juga naik pada grosir bahan kimia, layanan telekomunikasi kabel, ritel barang kesehatan dan kecantikan, serta ritel makanan dan minuman beralkohol. Layanan transportasi dan pergudangan meningkat 1,0 persen.

“Masalah bulan lalu tampaknya terkait dengan tarif,” kata kepala ekonom Amerika Utara Capital Economics, Paul Ashworth.

“Jika kita mengecualikan perdagangan dan transportasi, harga layanan inti lainnya tidak berubah,” katanya lagi.

Baca juga: Bitcoin (BTC) Tertekan Ketidakpastian Suku Bunga The Fed

Mahkamah Agung Amerika Serikat sebelumnya membatalkan tarif besar yang diberlakukan Presiden Donald Trump berdasarkan undang-undang keadaan darurat nasional. Trump kemudian menetapkan tarif global 10 persen selama 150 hari sebelum menaikkannya menjadi 15 persen.

Sejumlah komponen yang masuk perhitungan inflasi Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures, yang menjadi acuan target inflasi 2 persen The Fed, juga mengalami kenaikan.

Tarif penerbangan domestik meningkat 2,6 persen. Biaya pengelolaan portofolio naik 1,5 persen. Harga layanan dokter melonjak 0,8 persen. Biaya rawat inap rumah sakit naik 0,2 persen, sedangkan rawat jalan turun 0,9 persen. Tarif grosir hotel dan motel turun 4,1 persen.

Ekonom memperkirakan inflasi Personal Consumption Expenditures inti Januari naik sekitar 0,5 persen secara bulanan setelah naik 0,4 persen pada Desember. Secara tahunan, inflasi diperkirakan mencapai 3,1 persen, tertinggi dalam hampir dua tahun. Data resmi Januari dijadwalkan rilis pada 13 Maret.

Berbeda dengan sektor jasa, harga barang produsen turun 0,3 persen. Harga energi merosot 2,7 persen. Harga bensin turun 5,5 persen.

Harga pangan grosir turun 1,5 persen. Biaya buah segar dan melon anjlok 10,5 persen. Pemerintahan Trump sebelumnya mencabut sebagian tarif buah dan sayuran untuk menekan harga konsumen. Harga telur turun 63,9 persen. Harga daging sapi dan sapi muda naik 1,1 persen.

Harga peralatan modal swasta naik 0,6 persen. Kenaikan dikaitkan dengan pembangunan pusat data untuk kecerdasan buatan. Biaya peralatan modal yang dibeli pemerintah melonjak 2,6 persen. Sejumlah ekonom mengaitkannya dengan peningkatan belanja Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk deportasi migran serta kebutuhan pertahanan.

Harga barang produsen inti naik 0,7 persen pada Januari, kenaikan terbesar sejak Mei 2022. Secara tahunan, kenaikannya mencapai 4,2 persen, tertinggi sejak Maret 2023.

Laporan tersebut sempat tertunda akibat penutupan singkat pemerintah federal yang berakhir awal bulan ini.

Data inflasi produsen memicu pelemahan saham Wall Street. Dolar Amerika Serikat melemah terhadap sekeranjang mata uang. Imbal hasil obligasi pemerintah sebagian besar turun.

“Meskipun mungkin ada beberapa pejabat Fed yang bersedia menganggap penguatan baru-baru ini sebagai kombinasi dari sisa musiman dan efek tarif sementara, kami menduga hal itu akan memperkuat kehati-hatian dan kekhawatiran berkelanjutan tentang inflasi di atas target yang kaku yang diungkapkan oleh sebagian besar peserta FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal) dalam risalah terbaru,” kata ekonom JPMorgan, Michael Hanson.

Tag:  #inflasi #produsen #januari #melonjak #persen #tekan #harapan #pemangkasan #suku #bunga

KOMENTAR