6 Faktor yang Meningkatkan Risiko Batu Ginjal, Bukan Hanya Kurang Minum
– Tidak semua orang yang jarang minum otomatis akan mengalami batu ginjal. Namun, ada kelompok tertentu yang memang memiliki risiko lebih tinggi terkena kondisi ini.
Dokter Spesialis Urologi Dr. dr. Widi Atmoko, Sp.U (K), FECSM, FACS, menjelaskan bahwa prevalensi batu ginjal berkisar antara 7–13 persen. Meski demikian, risiko tiap individu berbeda-beda tergantung faktor genetik, riwayat kesehatan, serta gaya hidup.
“Ini tergantung dari masing-masing faktor risiko. Ada yang memang lebih gampang kena batu ginjal,” katanya saat acara Grand Launching SURE, Summit Robotic & Endourology Institute, di Eka Hospital MT Haryono, Rabu (18/2/2026).
Baca juga: 7 Manfaat Air Lemon bagi Kesehatan Tubuh, Jaga Kesehatan Kulit hingga Cegah Batu Ginjal
Ia menambahkan, laki-laki memiliki risiko sekitar 1,8 kali lebih tinggi mengalami batu ginjal dibandingkan perempuan.
Berikut sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko batu ginjal pada seseorang.
Faktor Risiko Batu Ginjal
1. Riwayat keluarga
Faktor genetik menjadi salah satu risiko yang tidak bisa diubah. Seseorang yang memiliki orangtua atau anggota keluarga dengan riwayat batu ginjal memiliki peluang lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
“Kalau ada riwayat genetik, keluarga misalnya. Faktor risikonya naik 2,5 kali lipat,” jelasnya.
Kecenderungan ini umumnya berkaitan dengan pola metabolisme tertentu, seperti kadar kalsium yang lebih tinggi.
Baca juga: 4 Faktor Risiko Gagal Ginjal Akut pada Anak yang Wajib Diwaspadai Menurut Dokter
2. Pernah mengalami batu ginjal
Seseorang yang pernah mengalami batu ginjal memiliki risiko kekambuhan yang cukup tinggi.
Menurut dr. Widi, sekitar 15 persen pasien dapat mengalami keluhan berulang dalam satu tahun pertama.
Dalam jangka waktu 10 tahun, angka kekambuhan bahkan bisa mencapai sekitar 50 persen.
Maka dari itu, pasien yang sudah pernah terkena batu ginjal tetap perlu menjaga pola hidup dan rutin memantau kondisi kesehatannya untuk mencegah batu terbentuk kembali.
3. Kurang minum
Kurangnya asupan cairan menjadi faktor risiko yang paling umum dan sering kali tidak disadari.
Banyak orang merasa sudah cukup minum, padahal jumlahnya belum memenuhi kebutuhan harian tubuh.
Jika seseorang minum kurang dari sekitar 1 liter per hari, urine akan menjadi lebih pekat. Kondisi ini membuat mineral mudah mengendap dan membentuk kristal.
Dalam jangka waktu tertentu, kristal tersebut dapat berkembang menjadi batu ginjal. Makin pekat urine, makin tinggi risiko terbentuknya batu.
Baca juga: Gagal Ginjal Akut pada Anak, Apa Bisa Sembuh? Simak Jawaban Dokter
4. Bekerja di lingkungan panas
Dokter Spesialis Urologi Dr. dr. Widi Atmoko, Sp.U (K), FECSM, FACS saat menerangkan terkait batu ginjal dalam rangkaian acara Grand Launching SURE, Summit Robotic & Endourology Institute, di Eka Hospital MT Haryono, Rabu (18/2/2026).
Orang yang sering beraktivitas di luar ruangan atau bekerja di lingkungan bersuhu tinggi lebih rentan mengalami dehidrasi.
Keringat yang keluar dalam jumlah banyak tanpa diimbangi asupan cairan yang cukup menyebabkan volume urine berkurang dan menjadi lebih pekat.
Situasi ini menciptakan kondisi yang ideal bagi terbentuknya kristal mineral di dalam ginjal.
Maka dari itu, kelompok pekerja lapangan atau individu yang sering terpapar panas perlu lebih memperhatikan kecukupan cairan harian.
Baca juga: 8 Cara Mencegah Penyakit Ginjal di Usia Muda, Apa Saja?
5. Sindrom metabolik
Kondisi metabolik seperti diabetes, hipertensi, obesitas, dan hiperurisemia (kadar asam urat tinggi) juga berperan dalam meningkatkan risiko batu ginjal.
Gangguan-gangguan tersebut memengaruhi komposisi urine dan keseimbangan zat kimia di dalamnya.
Akibatnya, kadar mineral tertentu bisa meningkat dan lebih mudah mengendap menjadi kristal.
Selain itu, pola makan tinggi gula, lemak, dan garam yang sering menyertai sindrom metabolik turut memperbesar risiko pembentukan batu.
Kendati demikian, faktor ini sebenarnya masih bisa dikendalikan. Dengan menjaga berat badan ideal, mengontrol gula darah dan tekanan darah, serta memperbaiki pola makan dan aktivitas fisik, risiko pembentukan batu ginjal dapat ditekan secara signifikan.
Baca juga: Apakah Kurang Minum Bisa Menyebabkan Batu Ginjal? Ini Penjelasan Dokter
6. Infeksi saluran kemih berulang
Infeksi saluran kemih yang tidak ditangani dengan baik juga dapat menjadi faktor pemicu batu ginjal.
Beberapa jenis bakteri mampu mengubah komposisi urine sehingga memudahkan terbentuknya batu jenis tertentu. Jika infeksi terjadi berulang, risiko pembentukan batu pun semakin meningkat.
Oleh sebab itu, keluhan infeksi saluran kemih sebaiknya tidak diabaikan dan perlu ditangani hingga tuntas.
Dengan mengenali faktor-faktor risiko tersebut, masyarakat dapat melakukan pencegahan sejak dini, terutama dengan menjaga asupan cairan dan memperbaiki gaya hidup.
Tag: #faktor #yang #meningkatkan #risiko #batu #ginjal #bukan #hanya #kurang #minum