Ilmuwan Kembangkan Vaksin HIV Berbasis DNA, Dinilai Lebih Tepat Sasaran
Ilustrasi vaksin. Pendekatan baru menggunakan struktur DNA terlipat dinilai mampu mengarahkan sistem imun lebih fokus melawan HIV.(Freepik)
19:18
15 Februari 2026

Ilmuwan Kembangkan Vaksin HIV Berbasis DNA, Dinilai Lebih Tepat Sasaran

Pendekatan baru vaksin HIV berbasis teknologi “DNA origami” dilaporkan mampu mengarahkan sistem imun lebih tepat sasaran dalam membentuk sel pelindung terhadap virus.

Temuan ini berdasarkan studi pada tikus yang dipublikasikan di jurnal Science (5/2/2026) dan dilaporkan oleh Live Science (12/2/2026).

Hasil awal ini menunjukkan respons imun yang lebih fokus dibandingkan vaksin berbasis protein konvensional, meski efektivitasnya pada manusia masih perlu dibuktikan.

Baca juga: Kasus Infeksi Menular Seksual dan HIV Melonjak, Dokter Ingatkan Pentingnya Pencegahan

Mengapa vaksin HIV sulit dikembangkan?

HIV sulit dilawan karena virus ini terus mengubah bentuk protein di permukaannya sehingga antibodi yang efektif terhadap satu jenis belum tentu bekerja pada jenis lainnya.

Vaksin HIV perlu memicu terbentuknya broadly neutralizing antibodies, yaitu antibodi yang dapat mengenali bagian virus yang jarang berubah.

Salah satu antibodi tersebut adalah VRC01 yang menargetkan CD4-binding site, yaitu bagian yang digunakan HIV untuk masuk ke dalam sel imun manusia.

Sel B yang mampu menghasilkan antibodi seperti itu jumlahnya sangat sedikit di dalam tubuh sehingga sulit diaktifkan melalui vaksin biasa.

Imunolog University of Pennsylvania, Raiees Andrabi, menyebut aktivasi sel-sel langka tersebut sebagai tantangan besar dalam desain vaksin HIV.

Baca juga: Menjawab Tantangan Global Pemberantasan HIV/AIDS

Cara kerja teknologi “DNA origami”

Ilustrasi DNA. Pendekatan baru menggunakan struktur DNA terlipat dinilai mampu mengarahkan sistem imun lebih fokus melawan HIV.Freepik/jes2ufoto Ilustrasi DNA. Pendekatan baru menggunakan struktur DNA terlipat dinilai mampu mengarahkan sistem imun lebih fokus melawan HIV.

Teknologi ini menggunakan struktur tiga dimensi dari DNA yang dilipat secara presisi sebagai kerangka untuk menampilkan antigen HIV, yaitu bagian virus yang dikenali sistem imun.

Vaksin konvensional biasanya memakai kerangka protein, tetapi sistem imun sering kali juga membentuk antibodi terhadap kerangka tersebut sehingga respons terhadap antigen utama menjadi kurang optimal.

Penggunaan kerangka DNA dalam penelitian ini terbukti mengurangi respons yang tidak tepat sasaran tersebut.

Dalam uji pada tikus, vaksin DNA origami menghasilkan hingga tiga kali lebih banyak sel B memori dibandingkan vaksin nanopartikel protein generasi terbaru.

Profesor teknik biologi MIT sekaligus penulis studi, Mark Bathe, menyebut temuan ini sebagai potensi terobosan dalam pengembangan vaksin dan imunoterapi.

Peneliti HIV dari Weill Cornell Medicine, John Moore, yang tidak terlibat dalam studi, menilai pendekatan ini menunjukkan bahwa menghilangkan respons terhadap kerangka dapat membantu sistem imun lebih fokus pada target utama.

Baca juga: Kasus HIV di Thailand Naik Tajam, Anak Muda Jadi Kelompok Paling Rentan

Perbaikan desain untuk hasil lebih optimal

Tim peneliti menggunakan antigen HIV yang dirancang untuk meniru CD4-binding site agar dapat langsung mengikat sel B langka yang dibutuhkan.

Penulis pertama studi, Anna Romanov dari MIT, menjelaskan bahwa kerangka DNA hampir tidak memicu respons imun tambahan sehingga sistem imun dapat lebih fokus pada antigen HIV.

Versi awal vaksin sempat kurang efektif karena tidak mencapai area penting di kelenjar getah bening tempat sel B berkembang.

Tim kemudian memodifikasi partikel DNA agar antigen tersusun lebih rapat dan mampu masuk ke lokasi yang tepat, serta menambahkan molekul untuk membantu aktivasi sel T.

Imunolog Adam Wheatley dari University of Melbourne menilai pendekatan ini sangat fleksibel dan dapat disesuaikan untuk kebutuhan desain vaksin.

Baca juga: 356 Ribu Kasus HIV Ditemukan, Kemenkes Fokus Capai Target Penanganan hingga 2030

Masih tahap awal

Penelitian ini masih dilakukan pada hewan sehingga belum diketahui apakah hasilnya akan sama pada manusia.

Para ahli menekankan bahwa vaksin HIV kemungkinan memerlukan beberapa tahap imunisasi dan tidak cukup dengan satu atau dua suntikan.

Meski demikian, studi ini dinilai sebagai langkah penting menuju vaksin HIV yang lebih efektif dan membuka peluang penggunaan teknologi DNA origami untuk virus lain yang cepat bermutasi seperti influenza.

Baca juga: Kemenkes Ajak Masyarakat dalam Upaya Eliminasi HIV/AIDS di Indonesia

Tag:  #ilmuwan #kembangkan #vaksin #berbasis #dinilai #lebih #tepat #sasaran

KOMENTAR