Puasa bagi Penderita Diabetes, Ini Syarat Aman Menurut Dokter
Agar aman menjalani ibadah Ramadhan, penderita diabetes wajib memastikan gula darah terkendali. Selain itu, tidak semua pasien diperbolehkan berpuasa jika kadar gula darahnya masih tinggi.
Dokter spesialis penyakit dalam RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD(K), menegaskan bahwa persiapan utama puasa bagi penderita diabetes adalah kontrol gula darah yang baik.
“Yang paling penting sebelum masuk Ramadhan adalah gula darahnya terkendali. Gula darah puasa sebaiknya tidak lebih dari 150, dan gula darah dua jam setelah makan jangan lebih dari 200,” ujar Andi saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (10/2/2026).
Selain itu, kadar HbA1C juga harus berada dalam rentang terkontrol, yang dicapai melalui pengaturan diet dan terapi obat yang sesuai.
Baca juga: Cara Cek Gula Darah yang Tepat untuk Mencegah Diabetes Menurut Dokter Endokrinologi
Tidak semua penderita diabetes boleh puasa
Menurut Andi, mayoritas penderita diabetes sebenarnya tetap bisa berpuasa. Namun, ada kondisi tertentu yang membuat pasien harus menunda puasa.
“Jika gula darah tidak terkontrol dengan baik, misalnya di atas 250, biasanya kami menyarankan untuk menunda puasa dan menggantinya di luar Ramadhan,” jelasnya.
Pada kondisi yang lebih berat, keputusan dapat didiskusikan bersama dokter dan tokoh agama untuk mempertimbangkan penggantian puasa dengan fidiah.
Artinya, keputusan puasa bagi penderita diabetes tidak bisa disamaratakan dan harus berbasis kondisi medis masing-masing pasien.
Baca juga: Sering Haus hingga Berat Badan Turun, Ini Gejala Awal Diabetes Menurut Dokter
Risiko yang paling sering terjadi saat puasa
Ilustrasi diabetes. Dokter mengingatkan penderita diabetes wajib memastikan gula darah terkendali sebelum puasa, karena kadar di atas 250 berisiko dan bisa membahayakan.
Andi menjelaskan, risiko utama bagi penderita diabetes saat puasa adalah hiperglikemia dan hipoglikemia.
Hiperglikemia terjadi saat gula darah terlalu tinggi. Gejalanya meliputi:
- Sering buang air kecil
- Mudah haus
- Mudah lapar
- Cepat lelah
- Luka sulit sembuh
Sementara hipoglikemia terjadi saat gula darah terlalu rendah. Gejalanya meliputi:
- Pandangan berkunang-kunang
- Pusing
- Lemas
- Penurunan kesadaran
- Pingsan
“Kondisi yang paling berbahaya adalah hipoglikemia. Jika gula darah turun di bawah 60 atau muncul gejala seperti berkunang-kunang dan lemas berat, pasien harus segera membatalkan puasa,” tegasnya.
Baca juga: Gula Darah Puasa dan Sewaktu, Ini Penentu Diabetes Menurut Dokter
Konsultasi dokter sebelum puasa Ramadhan
Andi menekankan bahwa konsultasi medis sebelum Ramadhan sangat penting. Penyesuaian pola makan dan jadwal obat perlu direncanakan sejak awal.
Waktu sahur sebenarnya hanya pergeseran waktu sarapan, dan berbuka adalah pergeseran waktu makan malam. Namun, perbedaan utama terletak pada jeda panjang tanpa asupan cairan di siang hari.
“Obat tetap diminum sesuai anjuran dokter. Apakah tetap insulin atau cukup obat oral seperti metformin, itu harus dibicarakan,” ujarnya.
Termasuk soal penyesuaian karbohidrat, sayur, buah, hingga konsumsi takjil. Pasien tetap boleh menikmati makanan berbuka, tetapi porsinya harus diatur dan tidak berlebihan.
Persiapan mental juga penting
Selain fisik, kesiapan mental juga menjadi faktor penting. Penderita diabetes perlu memahami bahwa puasa adalah ibadah dengan perubahan jadwal makan.
Pengelolaan porsi dan disiplin konsumsi obat menjadi kunci agar tidak “bablas” saat berbuka.
Dengan kontrol gula darah yang baik, pengawasan dokter, dan pengaturan makan yang tepat, mayoritas penderita diabetes tetap dapat menjalani puasa dengan aman. Namun, keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Baca juga: Makanan yang Perlu Dihindari Saat Gula Darah Tinggi agar Tidak Berujung Diabetes
Tag: #puasa #bagi #penderita #diabetes #syarat #aman #menurut #dokter