Stephen Curry Alami Tendinitis Lutut, Ini Penyebab dan Risiko Cedera yang Dialaminya
Bintang Golden State Warriors Stephen Curry kembali menepi akibat masalah lutut kanan yang berkaitan dengan tendinitis, cedera peradangan tendon yang juga dikenal sebagai “runner’s knee”.
Dalam wawancara dengan ESPN (6/2/2026), Curry menyebut kondisinya “bergerak ke arah yang lebih baik”, namun ia menegaskan proses pemulihan harus dilakukan dengan hati-hati agar cedera tidak kambuh.
Dilansir dari Antara, Kamis (12/2/2026), kondisi tersebut membuatnya absen dalam dua pertandingan terakhir dan akan digantikan Brandon Ingram di tim USA Stripes dalam All-Star ke-75 di Intuit Dome, Inglewood, California, Minggu (15/2). Belum ada kepastian kapan ia akan kembali bermain.
Baca juga: Dokter: Perubahan Gaya Hidup adalah Kunci Utama Cegah Pengapuran Sendi Lutut
Cedera lutut yang tak bisa dipaksakan
ESPN melaporkan bahwa Curry kini mengalami patellofemoral pain syndrome, kondisi yang sering dikaitkan dengan peradangan dan nyeri di sekitar tempurung lutut.
Masalah ini muncul dua pekan lalu saat latihan individu dan sempat memaksanya keluar lapangan dalam laga melawan Detroit Pistons.
Curry mengaku masih merasakan nyeri dan pembengkakan sehingga tim medis memilih pendekatan pemulihan bertahap.
“Ini soal belajar apa yang paling efektif dalam rehabilitasi karena masih terasa sakit,” ujar Curry kepada ESPN.
Ia menambahkan bahwa kembali bermain terlalu cepat bisa membuat peradangan muncul kembali.
Musim lalu, Curry juga sempat mengalami tendinitis di kedua lututnya sehingga menit bermainnya harus dibatasi.
Baca juga: Pengapuran Lutut Apakah Harus Operasi? Ini Penjelasan Dokter...
Apa itu tendinitis?
Ilustrasi nyeri lutut. Bintang Warriors Stephen Curry harus menepi akibat tendinitis lutut yang bisa dialami siapa saja akibat gerakan berulang.
Melansir Cleveland Clinic (18/7/2023), tendinitis adalah kondisi ketika tendon mengalami peradangan atau iritasi.
Tendon merupakan jaringan kuat yang menghubungkan otot dengan tulang dan berperan penting dalam pergerakan tubuh.
Peradangan biasanya terjadi akibat gerakan berulang atau penggunaan berlebihan dalam jangka waktu tertentu.
Cedera ini umum terjadi pada bahu, siku, lutut, pergelangan tangan, dan tumit. Gejala paling sering muncul berupa nyeri tumpul di sekitar sendi, terutama saat digerakkan.
Penderita juga bisa merasakan kaku, bengkak ringan, atau sensasi seperti bunyi klik saat bergerak.
Baca juga: Penyebab Makin Banyak Orang Muda Sakit Nyeri Lutut
Mengapa atlet rentan mengalami tendinitis?
Gerakan berulang dalam olahraga menjadi salah satu penyebab utama tendinitis. Aktivitas seperti berlari, melompat, atau melakukan perubahan arah cepat dapat memberi tekanan besar pada tendon lutut.
Faktor risiko meningkat seiring bertambahnya usia karena tendon menjadi kurang elastis dan lebih mudah cedera setelah usia 40 tahun.
Peningkatan intensitas latihan secara mendadak atau teknik gerakan yang kurang tepat dapat memperbesar risiko peradangan tendon. Cedera sebelumnya juga bisa membuat tendon lebih rentan mengalami iritasi ulang.
Bagaimana penanganannya?
Sebagian besar kasus tendinitis dapat membaik dengan istirahat dan pengurangan aktivitas berat.
Selain itu, peradangan tendon dapat dikuangi dengan mengompres es pada hari pertama cedera, menghindari aktivitas yang memicu nyeri, serta penggunaan obat antiinflamasi sesuai anjuran tenaga medis.
Jika dalam beberapa minggu kondisi tidak membaik, terapi fisik atau suntikan kortikosteroid dapat dipertimbangkan.
Peradangan yang dibiarkan tanpa penanganan dapat meningkatkan risiko robekan tendon yang mungkin memerlukan operasi.
Proses pemulihan biasanya memerlukan waktu dua hingga tiga minggu untuk kasus ringan, dan bisa lebih lama pada kasus yang lebih berat.
Baca juga: Waspadai Nyeri Lutut, Bisa Jadi Tanda Awal Pengapuran Sendi Lutut
Kapan harus memeriksakan diri?
Nyeri yang tidak membaik setelah beberapa hari atau mengganggu aktivitas sehari-hari perlu diperiksakan ke tenaga kesehatan.
Gejala seperti pembengkakan hebat, kemerahan, atau kesulitan menggerakkan sendi memerlukan evaluasi medis lebih lanjut. Sebagian besar penderita memiliki prognosis yang baik dengan istirahat dan terapi yang tepat.
Kasus Stephen Curry menunjukkan bahwa bahkan atlet kelas dunia pun harus memberi waktu bagi tubuh untuk pulih.
Pemulihan yang sabar sering kali menjadi kunci agar cedera tidak berulang dan performa bisa kembali optimal.
Baca juga: Terapi Pengapuran Lutut Bukan Sekadar Obat, Tapi Gaya Hidup dan Fisioterapi
Tag: #stephen #curry #alami #tendinitis #lutut #penyebab #risiko #cedera #yang #dialaminya