Upaya Menurunkan Risiko Penyakit Jantung Bawaan Sejak Kehamilan
Ilustrasi ibu hamil.(Dok. PAFI)
15:06
12 Februari 2026

Upaya Menurunkan Risiko Penyakit Jantung Bawaan Sejak Kehamilan

– Hingga kini, belum ada cara yang benar-benar dapat mencegah penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak. Meskipun demikian, terdapat sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan risikonya, terutama sejak masa kehamilan.

Ketua Kelompok Kerja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan, dr. Oktavia Lilyasari, menjelaskan bahwa edukasi kepada orangtua, khususnya ibu hamil, menjadi langkah penting karena sebagian faktor risiko berkaitan dengan kondisi selama kehamilan.

“Kalau pencegahan, sampai hari ini belum ada pencegahan yang pasti. Tapi karena kita tahu ada faktor-faktor risiko, maka yang bisa kita lakukan adalah mengedukasi orangtua,” ujarnya saat ditemui usai media briefing di Kemanggisan, Jakarta Barat, Selasa (10/2/2026).

Baca juga: 6 Faktor Risiko Penyakit Jantung Bawaan, Waspadai Sejak Kehamilan

Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko penyakit jantung bawaan.

1. Tidak mengonsumsi obat sembarangan saat hamil

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah konsumsi obat-obatan selama kehamilan, terutama pada trimester pertama.

Ia menegaskan, yang dimaksud obat bukan hanya obat keras, tetapi juga obat batuk, obat flu, maupun obat bebas lainnya. 

“Pada saat hamil, terutama hamil muda, tiga bulan pertama, kalau bisa jangan minum obat sembarangan,” kata dr. Oktavia.

Akan tetapi, ibu tetap boleh meminum obat selama masa kehamilan, tentunya dengan konsultasi bersama dokter.

Baca juga: Nyeri Dada karena GERD atau Jantung? Ini Cara Membedakannya Menurut Dokter

2. Fokus menjaga kehamilan pada trimester pertama

Trimester pertama menjadi fase krusial karena pada periode inilah organ-organ vital janin, termasuk jantung yang sudah mulai terbentuk. 

Oleh sebab itu, ibu hamil dianjurkan lebih berhati-hati dalam menjaga kondisi kesehatan pada tiga bulan pertama kehamilan.

“Trimester pertama itu sebenarnya waktu pembentukan jantung,” jelasnya.

Pada fase ini, ibu hamil disarankan menghindari berbagai faktor yang dapat mengganggu proses pembentukan organ, seperti konsumsi obat tanpa anjuran dokter, paparan zat berbahaya, serta kebiasaan tidak sehat.

Baca juga: Bahaya Asap Rokok pada Ibu Hamil, Tingkatkan Risiko Preeklampsia dan Kelahiran Prematur

3. Menghindari rokok, alkohol, dan paparan asap rokok

Ibu hamil wajib menghindari konsumsi alkohol dan rokok.  Selain itu, paparan asap rokok dari lingkungan sekitar juga perlu dihindari. Dr. Oktavia menyarankan untuk para suami yang merokok dan siapa pun yang sedang merokok agar tidak berada di dekat ibu hamil.

Paparan zat berbahaya dari rokok diketahui dapat memengaruhi kondisi janin selama masa kehamilan.

Baca juga: Radiologi Modern: Integrasi AI dan USG Tingkatkan Deteksi Dini Penyakit

4. Rutin melakukan kontrol kehamilan

Pemeriksaan kehamilan secara teratur menjadi langkah penting untuk memantau kondisi ibu dan janin. 

Melalui kontrol rutin, dokter dapat memberikan edukasi, memantau faktor risiko, serta mendeteksi kemungkinan gangguan sejak dini.

Kontrol kehamilan juga memberi ruang bagi ibu untuk berkonsultasi sebelum mengonsumsi obat atau menjalani tindakan medis tertentu.

Baca juga: Dokter: Paparan Radiasi Bisa Picu Leukemia pada Anak

5. Berhati-hati terhadap paparan radiasi

Paparan radiasi, seperti dari pemeriksaan rontgen (X-ray), perlu menjadi perhatian selama kehamilan, terutama pada trimester pertama.

“X-ray sebenarnya boleh, tapi harus hati-hati karena radiasi itu bisa berpengaruh ke keadaan janin,” jelas dr. Oktavia.

Maka dari itu, ibu hamil dianjurkan selalu memberi tahu kondisi kehamilannya sebelum menjalani pemeriksaan medis apa pun yang melibatkan radiasi.

6. Memahami faktor genetik dalam keluarga

Selain faktor lingkungan dan kehamilan, faktor genetik juga dapat berperan. Bila terdapat riwayat penyakit jantung bawaan dalam keluarga, risiko pada anak tetap ada meski relatif kecil.

“Kalau dari keluarga yang memang ada penyakit jantung bawaan, itu risikonya sekitar 1-3 persen,” ujar dr. Oktavia.

Meski tidak bisa dicegah sepenuhnya, pemahaman terhadap faktor genetik membantu orangtua dan dokter lebih waspada sejak awal kehamilan.

Baca juga: 5 Rutinitas Pagi Sebelum Jam 07.00 yang Dukung Kesehatan Mental dan Jantung

Dr. Oktavia menegaskan bahwa upaya-upaya tersebut bukan jaminan pencegahan mutlak. Namun, langkah-langkah ini penting untuk meminimalkan risiko dan menjaga proses pembentukan organ janin berjalan optimal.

Dengan demikian, kesadaran dan kehati-hatian sejak awal kehamilan, terutama pada tiga bulan pertama, menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan janin.

Tag:  #upaya #menurunkan #risiko #penyakit #jantung #bawaan #sejak #kehamilan

KOMENTAR