Dihujat gegara Sebut Gen Z “Lemah”, Senator Filipina Bandingkan Masa Mudanya
Seorang senator Filipina menuai kritik tajam setelah menyebut Generasi Z sebagai generasi yang “lemah” secara mental.
Pernyataan itu disampaikannya saat pembahasan rancangan undang-undang terkait keamanan anak di media sosial.
Ucapannya memicu perdebatan luas, baik dari sesama politisi maupun kalangan anak muda.
Baca juga: Gen Z Habiskan Waktu Lebih Lama di Sekolah, tapi Kalah Cerdas dari Milenial
Pernyataan kontroversial di sidang Senat
Senator Robin Padilla mendapat kecaman publik setelah menyebut anak muda masa kini lebih rapuh dibanding generasinya.
“Banyak yang mungkin marah kepada saya karena mengatakan ini, tetapi anak-anak zaman sekarang, sedih untuk dikatakan, lemah,” kata Padilla yang berusia 56 tahun dalam sidang komite Senat mengenai RUU Keamanan Anak di Media Sosial, Rabu (11/2/2026), menurut media lokal.
Ia menambahkan, “Kalian tidak seperti kami dulu – kami tidak mudah menangis. Kami belajar dari jalanan; kami belajar untuk tidak hanya duduk dan menangis.”
Membandingkan masa mudanya dengan generasi sekarang, Padilla berkata, “Pada zaman kami, kata ‘depresi’ tidak umum. Saya bahkan tidak tahu apa artinya. Sekarang bahkan anak-anak kecil berkata, ‘Saya depresi.’ Itu membingungkan.”
Menurutnya, kondisi ini dipicu kecanduan media sosial yang membuat anak muda sekarang jarang bermain di luar dan membangun pertemanan di dunia nyata.
Mengenang era 1980-an dan 1990-an, ia berkata, “Kami bahagia, kami tahu apa itu berkemah, kami tahu apa itu persahabatan, kami tahu seperti apa kehidupan di jalanan.”
Padilla menyampaikan pernyataan itu untuk mendukung RUU yang mendorong pembatasan atau pelarangan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
“Mari kita pikirkan anak-anak – masa depan mereka dan masa depan pemuda Filipina. Ketika mereka menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial, hal pertama yang hilang adalah masa kecil mereka.”
Tanggapan anggota parlemen lain
Pernyataan Padilla memicu kemarahan sejumlah anggota parlemen di majelis rendah. Mereka menilai krisis kesehatan mental anak muda nyata adanya dan berakar pada persoalan sosial serta ekonomi, bukan karena generasi sekarang lebih lemah.
“Depresi dan masalah kesehatan lainnya bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh generasi baru. Itu sudah ada sejak lama, tetapi sebelumnya diselimuti keheningan, stigma, dan kurangnya pengetahuan,” kata anggota parlemen Gabriela, Sarah Elago.
Ia menambahkan, “Para pemimpin negara harus menyadari tantangan serius yang dihadapi; krisis pendidikan, pengangguran, kemiskinan, dan kenaikan harga barang yang terus berlanjut. Ditambah lagi dengan maraknya penyebaran misinformasi, disinformasi, dan kekerasan daring di media sosial.”
Anggota parlemen dari Kabataan, Renee Co, juga menyampaikan kritik tajam. Menurutnya, di tengah “krisis harian” mulai dari pendidikan hingga korupsi, wajar jika anak muda merasa tertekan.
“Mengapa dia [Padilla] menyalahkan anak muda atas masalah yang diciptakan pemerintah dan tidak bisa mereka selesaikan sendiri? Setidaknya anak muda melawan,” ujarnya.
Ia menegaskan, “Krisis kesehatan mental itu nyata. Ini bukan hanya masalah individu. Pemerintah seharusnya menangani ini, bukan sekadar lepas tangan.”
Co juga menolak anggapan bahwa rasa sedih atau marah atas situasi sosial adalah kelemahan.
“Gen Z cukup kuat untuk melihat itu dan berjuang demi perubahan.”
Baca juga: Ahli Saraf Sebut Gen Z Kalah Cerdas dari Milenial, Pembelajaran Digital Disorot
Suara anak muda
Pandangan serupa datang dari kalangan Generasi Z sendiri. Aktivis mahasiswa Brell Lacerna, juru bicara College Editors Guild of the Philippines, mengatakan, pernyataan Padilla menyakitkan.
“Apa yang dikatakan Senator Robin Padilla benar-benar menyakitkan karena seolah-olah dia meremehkan anak muda. Anak muda diperlakukan seakan-akan mereka lemah, padahal yang terjadi adalah mereka harus menanggung beban depresi yang berat,” katanya kepada radio DZMM.
Menurut Lacerna, banyak anak muda Filipina justru menunjukkan ketangguhan karena harus menghadapi krisis pendidikan dan layanan kesehatan sejak usia muda.
Mereka seharusnya diberi ruang untuk membicarakan kesulitan mereka, bukan diremehkan.
“Depresi seharusnya tidak dijadikan hal yang tabu,” ujarnya.
Padilla membela diri
Di tengah gelombang kritik, Padilla membela diri melalui media sosial dan menegaskan bahwa ia hanya menyampaikan fakta.
“Data bunuh diri yang kami pelajari di kantor kami menunjukkan bahwa anak muda zaman sekarang lemah; ini bukan semata-mata hasil saran atau opini kami,” katanya.
Ia menyebut data yang menunjukkan percobaan bunuh diri di kalangan anak muda meningkat antara 2013 hingga 2021. Sekitar 46 persen dari seluruh kasus bunuh diri yang tercatat sejak 2010 melibatkan mereka yang berusia antara 10 hingga 35 tahun.
Laporan The Inquirer pada Juli lalu juga menyebut jumlah pemuda Filipina yang mengalami depresi meningkat lebih dari dua kali lipat dalam delapan tahun. Kasus gejala depresi tingkat sedang hingga berat pada usia 15–24 tahun melonjak antara 2013 dan 2021.
Padilla pun menutup pernyataannya dengan pesan kepada para pengkritiknya.
“Jika kalian ingin membantu menangani masalah yang menyangkut anak muda ini, lakukan sesuatu dan berhenti membicarakan saya. Bertindaklah berdasarkan data, bukan berdasarkan pernyataan saya. Fokus pada apa yang terjadi pada anak muda kita, bukan pada saya.”
Baca juga: Pesan dari Gen Z Bulgaria untuk Penguasa
Tag: #dihujat #gegara #sebut #lemah #senator #filipina #bandingkan #masa #mudanya