Di Tengah Kemiskinan, Psikolog Ingatkan Anak Tetap Butuh Rasa Aman
Kemiskinan sering kali dipahami sebatas persoalan ekonomi, pendapatan yang terbatas, kebutuhan yang sulit terpenuhi, atau utang yang menumpuk.
Namun, di balik itu, ada dampak psikologis yang bisa dirasakan anak ketika tumbuh dalam situasi penuh keterbatasan.
Psikolog klinis anak Reti Oktania, M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa dalam kondisi apa pun, termasuk kemiskinan, anak tetap membutuhkan rasa aman sebagai fondasi utama tumbuh kembangnya.
“Anak membutuhkan stabilitas emosional. Ketika situasi ekonomi keluarga sulit, yang paling penting adalah memastikan anak tetap merasa aman dan dicintai,” ujar Reti, kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.
Baca juga: Kalimat Sepele tapi Toxic ini Bisa Melukai Mental Anak Laki-laki
Anak peka terhadap tekanan di sekitarnya
Menurut Reti, anak sangat sensitif terhadap perubahan suasana di rumah.
Mereka bisa menangkap kecemasan orangtua, ketegangan dalam percakapan, atau kekhawatiran terkait kebutuhan sehari-hari, meskipun tidak memahami detail masalahnya.
Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memunculkan berbagai respons emosional, seperti rasa tidak berharga (worthlessness), kesepian (lonely), putus asa (hopeless), hingga merasa tidak berdaya (helpless).
“Anak bisa merasa dirinya menjadi beban atau bagian dari masalah, padahal itu bukan tanggung jawab mereka,” jelasnya.
Baca juga: Rasa Malu dan Tidak Dianggap Bisa Melukai Mental Anak, Ini Kata Psikolog
Ilustrasi anak menangis. Psikiater mengingatkan bahwa perubahan perilaku kecil pada anak bisa menjadi tanda awal krisis psikologis yang berujung fatal jika tidak segera disadari.
Rasa aman lebih penting dari kondisi finansial
Reti menekankan, keterbatasan ekonomi tidak otomatis merusak kesehatan mental anak. Faktor penentu utamanya adalah bagaimana lingkungan memberikan dukungan emosional.
Orangtua dapat membantu dengan:
- Menjaga komunikasi tetap tenang dan terbuka
- Tidak melibatkan anak dalam detail masalah finansial yang kompleks
- Menunjukkan kasih sayang dan perhatian secara konsisten
- Memastikan kebutuhan dasar anak, seperti pendidikan dan kesehatan, tetap diupayakan
“Rasa aman membuat anak lebih tangguh menghadapi tantangan. Tanpa rasa aman, tekanan kecil pun bisa terasa sangat besar bagi mereka,” kata Reti.
Baca juga: Empati Lingkungan Bisa Ringankan Tekanan Mental Anak, Ini Kata Psikolog
Peran lingkungan dan dukungan sosial
Selain keluarga, lingkungan sekitar juga berperan penting. Guru, tetangga, dan kerabat dapat membantu dengan menunjukkan empati serta menghindari sikap menghakimi terhadap kondisi ekonomi keluarga tertentu.
Tak kalah penting, Reti menyebut para pemilik kebijakan juga memiliki tanggung jawab dalam menciptakan sistem yang lebih ramah anak, terutama bagi mereka yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi.
Menurutnya, akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, serta bantuan sosial yang tepat sasaran dapat menjadi faktor pelindung bagi kesehatan mental anak.
Ketika kebutuhan dasar seperti perlengkapan sekolah, makanan bergizi, atau layanan konseling tidak terpenuhi, anak berisiko mengalami tekanan psikologis yang lebih berat.
Lingkungan yang suportif dapat menjadi faktor pelindung (protective factor) bagi kesehatan mental anak.
Dukungan sederhana seperti menyapa, mendengarkan, atau membantu kebutuhan belajar bisa membuat anak merasa tidak sendirian.
Pada akhirnya, kemiskinan memang menjadi tantangan nyata.
Namun, dengan dukungan emosional yang kuat dan rasa aman yang terjaga, anak tetap memiliki peluang untuk tumbuh secara sehat dan membangun ketahanan mental di tengah keterbatasan.
Baca juga: Kemiskinan Struktural Turut Pengaruhi Mental Anak, Ini Kata Psikolog
Tag: #tengah #kemiskinan #psikolog #ingatkan #anak #tetap #butuh #rasa #aman