Ramadan di Era Digital: Shopee Soroti Perubahan Cara Masyarakat Menyusun Rutinitas
- Shopee meluncurkan Big Ramadan Sale 2026 (11 Februari–22 Maret 2026) untuk menyesuaikan ritme hidup digital saat Ramadan.
- Kampanye ini menawarkan fitur teknologi interaktif seperti Beduk Berkah dan NegoNeko, bukan hanya diskon.
- Inovasi ini bertujuan mendukung masyarakat menjalani Ramadan lebih terencana, hemat, dan cepat melalui ekosistem digital.
Ramadan tidak lagi hanya dimaknai sebagai periode ibadah dan tradisi, tetapi juga momen ketika ritme hidup masyarakat, terutama generasi muda, berubah dan beradaptasi dengan teknologi.
Fenomena inilah yang coba dibaca Shopee melalui kampanye Big Ramadan Sale (BRS) 2026, yang berlangsung selama 40 hari, mulai 11 Februari hingga 22 Maret 2026.
Alih-alih sekadar menawarkan diskon, Shopee merancang kampanye ini sebagai rangkaian fitur digital dan interaksi berbasis teknologi yang menyatu dengan aktivitas Ramadan, mulai dari persiapan awal puasa, rutinitas sahur dan berbuka, hingga menjelang Idul Fitri.
Sejumlah fitur interaktif diperkenalkan, seperti in-app game Beduk Berkah 10M, yang mengajak pengguna berinteraksi pada jam-jam tertentu, termasuk waktu sahur, serta program berbasis harga ekstrem dan distribusi voucher.
Pola ini mencerminkan bagaimana platform digital kini menyesuaikan layanan dengan kebiasaan harian pengguna selama Ramadan.
Senior Director of Business Development Shopee Indonesia, Adi Rahardja, menyebut pendekatan tersebut merupakan upaya Shopee untuk mengambil peran lebih luas dalam keseharian masyarakat.
“Kami ingin hadir bukan hanya sebagai platform belanja, tetapi sebagai ekosistem digital yang mendukung masyarakat menjalani Ramadan dengan lebih terencana," ujar Adi dalam keterangan resminya, Kamis (12/2/2026).
Melalui Big Ramadan Sale 2026, dia menambahkan, perusahaan menghadirkan inovasi agar pengguna bisa mempersiapkan Ramadan dengan lebih hemat dan lebih cepat.
Menurutnya, transformasi belanja digital saat Ramadan kini tidak hanya soal transaksi, tetapi juga pengalaman.
Hal itu tercermin dari pengembangan fitur seperti NegoNeko, yang memungkinkan pengguna berinteraksi dan bernegosiasi dengan pendekatan berbasis kecerdasan buatan dan gamifikasi.
Teknologi Mengatur Ritme Ramadan
Shopee memandang teknologi sebagai alat bantu untuk membantu masyarakat mengatur ulang ritme aktivitas selama Ramadan, kapan tetap produktif, kapan beristirahat, dan kapan memprioritaskan ibadah serta kebersamaan.
Teknologi tidak diposisikan sebagai distraksi, melainkan sebagai pendamping gaya hidup yang semakin terintegrasi dengan keseharian.
Berbagai inisiatif pun dirancang untuk mengikuti pola waktu khas Ramadan, mulai dari promo yang aktif di jam tertentu, hingga fitur hiburan yang disesuaikan dengan momen sahur dan berbuka.
Shopee juga memanfaatkan kanal live commerce dan layanan pesan-antar makanan untuk mengisi ruang-ruang singkat di sela aktivitas puasa, menunjukkan bagaimana batas antara konsumsi, hiburan, dan interaksi sosial di dunia digital semakin tipis.
Representasi Ramadan Generasi Muda
PerbesarKampanye Shopee Big Ramadan Sale (BRS) 2026. [Shopee]Kehadiran Syifa Hadju dan El Rumi tidak hanya sebagai figur promosi, tetapi juga sebagai representasi generasi muda yang menjalani Ramadan secara dinamis, menggabungkan produktivitas, ibadah, dan kebersamaan dengan bantuan teknologi.
“Daripada waktu habis di jalan karena macet, kami memilih belanja kebutuhan lewat Shopee supaya punya lebih banyak waktu berkualitas untuk kegiatan lainnya,” ungkap Syifa Hadju.
Sementara itu, El Rumi menilai teknologi turut mengubah cara membangun kedekatan selama Ramadan.
“Kebersamaan sekarang nggak harus selalu duduk satu meja. Kadang cukup berbagi link rekomendasi barang di grup keluarga atau main game bareng di aplikasi, itu sudah jadi bentuk kehangatan Ramadan masa kini,” ujarnya.
Tag: #ramadan #digital #shopee #soroti #perubahan #cara #masyarakat #menyusun #rutinitas