Ini Daftar Komoditas Penyumbang Garis Kemiskinan Menurut BPS
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin di Indonesia pada September 2025 sebesar 8,25 persen.
Angka ini menurun 0,22 persen poin dibandingkan Maret 2025 dan turun 0,32 persen poin dibandingkan September 2024.
Secara absolut, jumlah penduduk miskin pada September 2025 tercatat 23,36 juta orang, berkurang 0,49 juta orang dari Maret 2025 dan turun 0,70 juta orang dibandingkan September 2024.
Baca juga: Prabowo: Kita Harus Bertekad untuk Hilangkan Kemiskinan dari Bumi Indonesia
Ilustrasi kemiskinan, angka kemiskinan.
Di balik angka tersebut, terdapat komponen penting yang membentuk garis kemiskinan, yakni nilai minimum pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.
Struktur komoditas penyusun garis kemiskinan menjadi indikator krusial dalam memahami beban pengeluaran rumah tangga miskin.
Garis kemiskinan naik jadi Rp 641.443 per kapita
BPS mencatat Garis Kemiskinan (GK) pada September 2025 sebesar Rp 641.443 per kapita per bulan.
Angka ini meningkat 5,30 persen dibandingkan Maret 2025 dan naik 7,76 persen dibandingkan September 2024.
Baca juga: Tingkat Kemiskinan Per September 2025 Turun, Jumlah Orang Miskin Capai 23,36 Juta
Secara komposisi, Garis Kemiskinan Makanan (GKM) sebesar Rp 478.955 atau 74,67 persen dari total GK, sedangkan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM) sebesar Rp 162.488 atau 25,33 persen.
Peran komoditas makanan masih dominan. Pada September 2025, kontribusi GKM terhadap GK di perkotaan mencapai 73,81 persen dan di perdesaan sebesar 76,11 persen.
Ilustrasi kemiskinan. Tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2025 tercatat sebesar 8,25 persen atau setara 23,36 juta orang. Jumlah itu turun sekitar 490.000 orang dibandingkan Maret 2025.
Beras jadi penyumbang terbesar
Dalam daftar komoditas yang memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan, beras masih menjadi kontributor utama, baik di perkotaan maupun perdesaan.
Di perkotaan, beras menyumbang 21,10 persen terhadap GK. Sementara di perdesaan, kontribusinya bahkan lebih besar, yakni 24,62 persen.
Baca juga: Sekolah Rakyat: Memutus Lingkaran Setan Kemiskinan
Komoditas kedua dengan kontribusi terbesar adalah rokok kretek filter. Di perkotaan, rokok kretek filter menyumbang 10,41 persen terhadap GK, sedangkan di perdesaan sebesar 9,11 persen.
Selain itu, sejumlah komoditas pangan lain yang memberi kontribusi signifikan antara lain sebagai berikut.
Perkotaan:
- Telur ayam ras: 4,48 persen
- Daging ayam ras: 4,35 persen
- Kopi bubuk dan kopi instan (sachet): 2,39 persen
- Mie instan: 2,35 persen
- Kue basah: 2,20 persen
- Roti: 2,02 persen
- Bawang merah: 1,92 persen
- Tempe: 1,78 persen
- Tahu: 1,76 persen
- Gula pasir: 1,68 persen
Perdesaan
- Telur ayam ras: 3,71 persen
- Daging ayam ras: 3,42 persen
- Kopi bubuk dan kopi instan (sachet): 2,38 persen
- Gula pasir: 2,34 persen
- Bawang merah: 2,13 persen
- Mie instan: 2,04 persen
- Kue basah: 1,99 persen
- Roti: 1,84 persen
- Tongkol/tuna/cakalang: 1,76 persen
- Tempe: 1,62 persen
Ilustrasi kemiskinan. Tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2025 tercatat sebesar 8,25 persen atau setara 23,36 juta orang. Jumlah itu turun sekitar 490.000 orang dibandingkan Maret 2025.
Baca juga: Amran Sebut Pertanian yang Kuat Bisa Cegah Kemiskinan dan Kejahatan
Struktur ini menunjukkan, sebagian besar pengeluaran minimum rumah tangga miskin masih terserap pada kebutuhan pangan pokok dan konsumsi harian.
Perumahan dan bensin dominasi komponen nonmakanan
Untuk komponen bukan makanan, perumahan menjadi penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan.
Di perkotaan, perumahan menyumbang 9,00 persen terhadap GK, sedangkan di perdesaan sebesar 9,08 persen.
Selain perumahan, komoditas nonpangan yang berkontribusi besar antara lain sebagai berikut.
Baca juga: Percepat Pengentasan Kemiskinan, BP Taskin: Kita Tidak Bisa Lagi Bekerja Sendiri-sendiri
Perkotaan
- Bensin: 2,88 persen
- Listrik: 2,65 persen
- Pendidikan: 2,02 persen
- Perlengkapan mandi: 1,25 persen
- Perawatan kulit, muka, kuku, rambut: 0,78 persen
- Pakaian jadi perempuan dewasa: 0,73 persen
Perdesaan
- Bensin: 2,90 persen
- Listrik: 1,64 persen
- Pendidikan: 1,25 persen
- Perlengkapan mandi: 1,11 persen
- Sabun cuci: 0,75 persen
- Kesehatan: 0,68 persen
Data ini memperlihatkan, selain kebutuhan pangan, pengeluaran untuk tempat tinggal dan energi masih menjadi komponen penting dalam struktur kemiskinan.
Ilustrasi Kemiskinan
Baca juga: Cara Orang Kaya Keluar dari Kemiskinan: Hapus 5 Kebiasaan Ini
Kesenjangan penduduk miskin di perkotaan dan perdesaan
Persentase penduduk miskin di perkotaan pada September 2025 sebesar 6,60 persen, sedangkan di perdesaan mencapai 10,72 persen.
Dari sisi jumlah, penduduk miskin di perkotaan sebanyak 11,18 juta orang dan di perdesaan 12,18 juta orang.
Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) pada September 2025 sebesar 1,290, menurun dibandingkan Maret 2025 sebesar 1,365 dan September 2024 sebesar 1,364.
Apabila dibandingkan menurut wilayah, P1 di perkotaan sebesar 1,040, sedangkan di perdesaan lebih tinggi yakni 1,661.
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) pada September 2025 tercatat 0,303, turun dari 0,319 pada Maret 2025 dan 0,322 pada September 2024.
Di perkotaan, P2 sebesar 0,245 dan di perdesaan sebesar 0,390.
Garis kemiskinan rumah tangga tembus Rp 3,05 juta
BPS juga mencatat Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin pada September 2025 sebesar Rp 3.053.269 per bulan. Angka ini naik 6,19 persen dibandingkan Maret 2025 yang sebesar Rp 2.875.235 per bulan.
Rata-rata anggota rumah tangga miskin pada September 2025 tercatat 4,76 orang, meningkat dibandingkan Maret 2025 sebesar 4,72 orang.
Ilustrasi kemiskinan.
Baca juga: Menko AHY Soroti Ketimpangan Kota: Di Balik Gedung Megah, Ada Wajah Kemiskinan
Artinya, secara rata-rata, rumah tangga miskin membutuhkan pengeluaran minimal di atas Rp 3 juta per bulan untuk tidak dikategorikan miskin menurut pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) yang digunakan BPS.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan
BPS mencatat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan pada September 2025, antara lain sebagai berikut.
- Pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 sebesar 5,04 persen secara tahunan (y-on-y).
- Pengeluaran konsumsi rumah tangga kuartal III 2025 sebesar Rp 1.786,7 triliun, meningkat 4,89 persen dibandingkan kuartal III 2024.
- Penyerapan tenaga kerja sepanjang Agustus 2024 sampai Agustus 2025 sebanyak 1,90 juta orang.
- Realisasi penyaluran bantuan sosial hingga akhir September 2025 mencapai Rp 112,7 triliun atau 75,5 persen dari target APBN Rp 154 triliun.
Seluruh komponen tersebut menjadi bagian dari dinamika yang memengaruhi perkembangan tingkat kemiskinan dan struktur pengeluaran minimum rumah tangga di Indonesia.
Tag: #daftar #komoditas #penyumbang #garis #kemiskinan #menurut