Qorinna dan Langit yang Diperjuangkan: Jejak Wara Menuju Kokpit TNI AU
- Deru mesin pesawat latih memecah siang di Wing Pendidikan 100/Terbang, Yogyakarta.
Sebuah Pesawat Grob G 120 TP berwarna putih dengan nomor ekor LD-1206 meluncur pelan di landasan sebelum akhirnya berhenti sempurna.
Di apron, seorang perempuan berseragam terbang oranye melepas helm dan menatap langit sejenak.
Seragam itu membungkus tubuhnya dengan warna jingga terang yang kontras dengan badan pesawat dan hamparan hijau pepohonan di sekitar landasan.
Baca juga: KPK Dalami Kronologi Pengaturan Lelang Proyek di Kasus DJKA yang Libatkan Sudewo
Kainnya tebal dan fungsional, dengan resleting panjang di bagian depan serta saku-saku berpenutup di dada dan lengan.
Di dada kanannya tersemat patch bundar bertuliskan Sekolah Penerbang TNI AU, lengkap dengan lambang sayap dan warna-warna yang mencolok.
Di sisi lainnya, terpasang name tag hitam dengan tulisan emas dan lambang sayap kecil yang menandai identitasnya sebagai siswa Sekolah Penerbang.
Pada bahu, pangkat Letnan Dua terpasang rapi sebagai simbol tanggung jawab yang ia emban.
Lengan kanannya dihiasi emblem Indonesian Air Force Flying School.
Di balik kerahnya, dalaman hitam menutup leher hingga rapi, menyatu dengan hijab hitam yang membingkai wajahnya.
Tak ada aksesori berlebihan. Hanya seragam yang dirancang untuk ketahanan, keselamatan, dan disiplin.
Namanya Letda Tek Qorinna. Bagi sebagian orang, langit adalah batas.
Bagi Qorinna, langit adalah tujuan. Keinginan itu tumbuh bukan dari cerita jauh, melainkan dari rumahnya sendiri.
Ibunya adalah seorang Wanita Angkatan Udara (Wara) yang kini berdinas sebagai Polisi Militer Angkatan Udara.
Sejak kecil, Qorinna akrab dengan disiplin, seragam, dan suasana pangkalan udara.
Ia melihat langsung bagaimana ibunya berdinas, berdiri sejajar dengan para prajurit laki-laki.
Dari sanalah keyakinan itu terbentuk, yakni perempuan juga bisa menjadi tentara.
Bahkan, perempuan juga bisa menjadi penerbang.
“Saya termotivasi bahwa tidak hanya laki-laki yang bisa menerbangkan pesawat, perempuan juga bisa menerbangkan pesawat apabila dilatih dengan baik dan benar,” kata Qorinna, saat ditemui di apron Wingdik 100/Terbang, Yogyakarta, Kamis (12/2/2026).
Saat menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara (AAU), mimpinya semakin mengerucut.
Ia tak hanya ingin menjadi perwira TNI AU, tetapi ingin duduk di kokpit.
Ia sadar jumlah penerbang perempuan di Indonesia masih terbatas. Justru karena itulah ia merasa terpanggil.
Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk mundur, melainkan ruang untuk membuktikan diri.
Namun, jalan menuju kokpit tidak pernah sederhana.
Sejak masih menjadi Taruna berpangkat Sersan Mayor Satu, pangkat tertinggi bagi taruna tingkat IV di AAU, dia sudah menghadapi serangkaian tes: kesehatan, jasmani, akademik, hingga psikotes.
Setelah lolos tahap pertama, ia memasuki aptitude test, ujian bakat terbang yang menentukan apakah seseorang benar-benar memiliki kecocokan dengan dunia penerbangan.
Setiap tahap adalah saringan, yang menuntut kesiapan fisik dan mental.
Setelah dinyatakan lolos, ia tidak langsung terbang. Ada masa bina kelas selama kurang lebih tiga bulan.
Di ruang-ruang teori itu, ia mempelajari prosedur demi prosedur, membaca buku manual, memahami sistem pesawat, hingga menghafal langkah-langkah darurat.
Baca juga: Prabowo Panggil Mendiktisaintek ke Istana, Bahas Teknologi Pengelolaan Sampah Mikro
Dari sana, ia beralih ke simulator Grob. Di dalam ruang simulasi, kesalahan boleh terjadi, dan justru di situlah ia belajar memperbaikinya.
Sebab, simulator menjadi jembatan sebelum menyentuh langit yang sesungguhnya.
Barulah kemudian ia menjalani bina terbang dengan pesawat Grob putih.
“Namanya kami baru pertama kali pegang pesawat, pastinya sulit. Namun, itu semua bisa dipelajari di bawah. Makanya itu ada beberapa tahapan,” ucap dia.
Di tengah proses itu, tantangan lain juga hadir. Di angkatannya yang berjumlah 146 siswa, hanya belasan yang perempuan.
Di Wingdik 100 Terbang, ia hanya berdua dengan seorang rekan sesama Wara.
Hidup dan berlatih di lingkungan yang didominasi laki-laki menuntut adaptasi.
Namun ia tak merasa diperlakukan berbeda. Justru, ia menjadikan situasi itu sebagai motivasi.
Jika rekan-rekan laki-lakinya bisa, ia pun harus bisa.
“(Beradaptasi di lingkungan laki-laki) awalnya saya, ‘bisa atau tidak ya?’. Ternyata begitu dijalani, saya bisa menyesuaikan,” ucap dia.
Ujian paling mendebarkan dalam pendidikan penerbang adalah saat menjalani terbang solo.
Setelah melewati fase pattern, aerobatik, formasi dasar, dan navigasi, seorang siswa akan dilepas untuk terbang sendiri.
Tanpa instruktur di kursi belakang. Tanpa arahan langsung.
Hanya dirinya, pesawat, dan langit terbuka.
Qorinna kini tengah berada di fase navigasi jarak sedang, menerbangkan Grob dari Yogyakarta menuju Lanud Iswahjudi di Madiun.
Beberapa rute ditempuh bersama instruktur, tetapi ada satu etape yang menentukan: jika dinyatakan lulus, ia harus kembali sendirian.
Di udara, tak hanya keterampilan yang diuji, tetapi juga ketenangan menghadapi kemungkinan darurat.
Selain normal procedure, ia wajib menguasai emergency procedure.
Cuaca bisa berubah. Awan tebal dan badai bisa membatalkan penerbangan.
Baca juga: Anggota DPR Ingatkan TNI: Misi ke Gaza untuk Kemanusiaan, Bukan Tempur
Dalam kondisi tertentu, keputusan harus diambil cepat dan tepat.
Seorang penerbang tak boleh panik. Di sela proses penjurusan nanti, ia akan ditentukan apakah melanjutkan ke pesawat fixed wing atau rotary wing.
Secara pribadi, ia cenderung memilih fixed wing, khususnya pesawat angkut.
Namun, sebagai prajurit, ia siap ditempatkan di mana saja.
Baginya, langit Indonesia adalah ruang pengabdian yang sama luasnya dari barat hingga timur.
Seragam oranye yang kini ia kenakan adalah tanda bahwa ia masih siswa.
Jika kelak dinyatakan lulus sebagai penerbang TNI AU, seragam itu akan berganti hijau.
Perubahan warna itu bukan sekadar simbol, melainkan penanda tanggung jawab baru.
Tanggung jawab membawa pesawat, membawa misi, dan membawa nama bangsa.
Tag: #qorinna #langit #yang #diperjuangkan #jejak #wara #menuju #kokpit