Profil Pendidikan Pekerja Indonesia 2025: 34,63 Persen Lulusan SD
Ilustrasi pekerja, tenaga kerja. (SHUTTERSTOCK/ROBERT KNESCHKE)
19:08
12 Februari 2026

Profil Pendidikan Pekerja Indonesia 2025: 34,63 Persen Lulusan SD

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, struktur pendidikan tenaga kerja Indonesia hingga November 2025 masih didominasi oleh lulusan pendidikan dasar.

Dari total 147,91 juta penduduk bekerja, sebanyak 34,63 persen berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah.

“Pada November 2025, sebagian besar penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah, yaitu sebesar 34,63 persen," tulis BPS dalam Berita Resmi Statistik Keadaan Ketenagakerjaan
Indonesia November 2025.

Baca juga: OJK: 59,4 Persen Pekerja Indonesia Masih di Sektor Informal, Rentan Guncangan Ekonomi

Ilustrasi pekerja Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI).Dok. Kementerian PU Ilustrasi pekerja Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI).

Komposisi ini menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga tenaga kerja nasional masih memiliki tingkat pendidikan paling rendah dalam jenjang formal.

Sementara itu, pekerja dengan pendidikan tinggi, yakni Diploma IV, S1, S2, dan S3, mencapai 10,81 persen dari total penduduk bekerja.

Distribusi pendidikan pekerja: SD dominan, SMK menguat

Berdasarkan data BPS, distribusi penduduk bekerja menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan pada November 2025 adalah sebagai berikut.

  • SD ke bawah: 34,63 persen
  • Sekolah Menengah Pertama (SMP): 17,31 persen
  • Sekolah Menengah Atas (SMA): 20,99 persen
  • Sekolah Menengah Kejuruan (SMK): 14,06 persen
  • Diploma I/II/III: 2,20 persen
  • Diploma IV/S1/S2/S3: 10,81 persen

Baca juga: Bekerja Tapi Tetap Miskin, Fenomena Working Poor Hantui Jutaan Pekerja RI

Ilustrasi pekerja di Jakarta. Bank Dunia soroti rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia dan tantangan generasi muda Indonesia dalam memperoleh pekerjaan layak.Kompas.com Ilustrasi pekerja di Jakarta. Bank Dunia soroti rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia dan tantangan generasi muda Indonesia dalam memperoleh pekerjaan layak.

“Distribusi penduduk bekerja menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan pada November 2025 masih menunjukkan pola yang sama dengan Agustus 2025," kata BPS.

Dibandingkan Agustus 2025, terdapat penurunan pada proporsi pekerja berpendidikan SD ke bawah sebesar 0,12 persen poin. Sementara itu, kelompok SMP dan SMK justru mengalami kenaikan masing-masing 0,19 persen poin dan 0,17 persen poin.

Kenaikan proporsi lulusan SMK ini juga terlihat dalam data pekerja komuter. Pada November 2025, pekerja komuter dengan pendidikan SMK mencapai 25,96 persen, meningkat 1,53 persen poin dibanding Agustus 2025.

Struktur lapangan usaha dan keterkaitannya dengan pendidikan

Secara sektoral, tiga lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja terbesar pada November 2025 adalah sebagai berikut.

  • Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: 27,99 persen
  • Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor: 18,67 persen
  • Industri Pengolahan: 13,86 persen

Baca juga: Rekor Baru, Jumlah Pekerja Asing di Jepang 2,57 Juta Orang pada 2025

Dominasi sektor pertanian yang padat karya dan secara historis banyak menyerap tenaga kerja berpendidikan rendah sejalan dengan komposisi pendidikan tenaga kerja nasional.

Jumlah pekerja di sektor pertanian tercatat sebanyak 41,41 juta orang atau 27,99 persen dari total pekerja. Sementara sektor industri pengolahan menyerap 20,51 juta orang (13,86 persen), dan perdagangan 27,62 juta orang (18,67 persen).

Di sisi lain, sektor dengan proporsi pekerja relatif kecil seperti Informasi dan Komunikasi hanya menyerap 0,73 persen tenaga kerja atau sekitar 1,08 juta orang.

Pendidikan dan tingkat pengangguran

BPS juga mencatat bahwa tingkat pendidikan berkorelasi dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT). Pada November 2025, TPT nasional sebesar 4,74 persen.

Baca juga: Ironi Pekerja Indonesia: Bahagia tetapi Dihantui Burnout

Ilustrasi pengangguran, lulusan SMK sumbang pengangguran terbanyak.SHUTTERSTOCK/MMD CREATIVE Ilustrasi pengangguran, lulusan SMK sumbang pengangguran terbanyak.

Namun demikian, jika dilihat berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, terdapat perbedaan mencolok.

TPT menurut pendidikan pada November 2025 adalah sebagai berikut.

  • SD ke bawah: 2,29 persen
  • SMP: 3,76 persen
  • SMA: 6,55 persen
  • SMK: 8,45 persen
  • Diploma I/II/III: 4,22 persen
  • Diploma IV/S1/S2/S3: 5,38 persen

“Pada November 2025, TPT tamatan Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 8,45 persen, tertinggi dibandingkan tamatan pada jenjang pendidikan lainnya," ungkap BPS.

Sementara itu, TPT paling rendah berada pada tingkat pendidikan SD ke bawah yaitu sebesar 2,29 persen.

Baca juga: Riset Jobstreet: Pekerja di Indonesia Paling Bahagia se-Asia Pasifik

Distribusi pengangguran juga didominasi oleh lulusan SMA. Pada November 2025, sebanyak 29,61 persen pengangguran merupakan tamatan SMA.

Sebaliknya, distribusi terendah berasal dari lulusan Diploma I/II/III sebesar 1,95 persen.

Pendidikan dan upah: korelasi positif

Selain memengaruhi peluang kerja, tingkat pendidikan juga berkorelasi dengan besaran upah yang diterima.

“Hasil Sakernas November 2025 menunjukkan bahwa upah buruh berkorelasi positif dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditamatkan, semakin besar upah yang diterima," urai BPS.

Baca juga: AI Bisa Tingkatkan Kompetensi Pekerja Profesional, Identifikasi Potensi SDM lewat Data

Rata-rata upah buruh nasional pada November 2025 tercatat sebesar Rp 3,33 juta per bulan.

Jika dirinci menurut pendidikan:

Ilustrasi upah minimum provinsi (UMP). Jateng tetapkan UMP, UMK, UMSP, dan UMSK 2026 serentak 24 Desember. Perhitungan tetap pakai formula inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan alfa.UNSPLASH/MUFID MAJNUN Ilustrasi upah minimum provinsi (UMP). Jateng tetapkan UMP, UMK, UMSP, dan UMSK 2026 serentak 24 Desember. Perhitungan tetap pakai formula inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan alfa.

  • SD ke bawah: Rp 2,22 juta
  • SMP: Rp 2,55 juta
  • SMA: Rp 3,22 juta
  • SMK: Rp 3,34 juta
  • Diploma I/II/III: Rp 4,53 juta
  • Diploma IV/S1/S2/S3: Rp 4,63 juta

“Buruh berpendidikan Diploma IV, S1, S2, S3 memperoleh upah tertinggi sebesar 4,63 juta rupiah, sementara buruh berpendidikan SD ke bawah menerima upah terendah sebesar 2,22 juta rupiah. Dengan demikian, buruh berpendidikan Diploma IV, S1, S2, S3 menerima upah sebesar 2,1 kali lipat dibandingkan buruh berpendidikan SD ke bawah," terang BPS.

Perbedaan upah juga terlihat berdasarkan jenis kelamin di setiap jenjang pendidikan. Pada pendidikan SD ke bawah, upah buruh laki-laki sebesar Rp 2,55 juta, sedangkan perempuan Rp 1,43 juta.

Baca juga: 88.519 Pekerja Kena PHK di 2025, Kemenaker: Tekanan Ekspor-Impor

Pada jenjang Diploma IV/S1/S2/S3, upah buruh laki-laki Rp 5,33 juta dan perempuan Rp 4,02 juta.

Komposisi pekerja formal dan informal

Dari sisi status pekerjaan, 42,30 persen penduduk bekerja berada pada kegiatan formal atau sebanyak 62,57 juta orang. Sisanya, 57,70 persen atau 85,35 juta orang bekerja pada sektor informal.

“Pada November 2025, penduduk bekerja pada kegiatan informal sebanyak 85,35 juta orang (57,70 persen), sedangkan yang bekerja pada kegiatan formal sebanyak 62,57 juta orang (42,30 persen)," jelas BPS.

Nominasi sektor informal ini turut membentuk karakteristik pendidikan pekerja, mengingat sektor informal secara umum lebih banyak menyerap tenaga kerja dengan pendidikan rendah.

Baca juga: KSPI: Gaji Pekerja Kantoran Jakarta Lebih Murah dari Pabrik Panci Bekasi

Gambaran umum angkatan kerja

Secara keseluruhan, jumlah angkatan kerja pada November 2025 mencapai 155,27 juta orang, meningkat 1,262 juta orang dibanding Agustus 2025.

Dari jumlah tersebut, 147,91 juta orang bekerja dan 7,35 juta orang menganggur.

Penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) tercatat sebanyak 218,85 juta orang, dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 70,95 persen.

“TPAK adalah persentase banyaknya angkatan kerja terhadap jumlah penduduk usia kerja. TPAK mengindikasikan besarnya persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi di suatu negara/wilayah," tutur BPS.

Tag:  #profil #pendidikan #pekerja #indonesia #2025 #3463 #persen #lulusan

KOMENTAR