Tiongkok dan Era Robotaxi: Pony.ai-Toyota Memulai Produksi Massal 1.000 Unit dengan Target Armada 3.000 pada 2026
- Langkah Tiongkok memasuki era robotaxi semakin nyata setelah Pony.ai bersama Toyota Motor China mengawali produksi massal taksi otonom generasi ketujuh. Kolaborasi ini bukan sekadar proyek teknologi, melainkan sinyal strategis bahwa mobilitas tanpa pengemudi mulai bergeser dari tahap eksperimen menuju infrastruktur transportasi komersial berskala besar yang berpotensi mengubah peta mobilitas global.
Dilansir dari South China Morning Post, Kamis (12/2/2026), Pony.ai yang berbasis di Guangzhou menargetkan 1.000 unit robotaxi keluar dari lini produksi pada tahun ini untuk beroperasi di kota-kota besar Tiongkok. Dalam waktu bersamaan, perusahaan menyiapkan rencana lebih ambisius: mengelola lebih dari 3.000 unit robotaxi di pasar domestik maupun luar negeri hingga akhir 2026.
Menegaskan arti penting langkah tersebut, Pony.ai menyatakan, "Tonggak ini menandai fase baru produksi skala besar dan penerapan komersial untuk kolaborasi Pony–Toyota dalam pengembangan dan operasi robotaxi. Ini juga menyoroti sinergi mendalam antara para mitra dalam teknologi mengemudi otonom, manufaktur kendaraan, dan integrasi rantai pasok."
Secara industri, kemitraan ini menggabungkan kecakapan perangkat lunak otonom Pony.ai dengan kapasitas manufaktur Toyota yang matang. Toyota berperan bukan hanya sebagai investor, tetapi sebagai mitra produksi yang membawa standar kualitas, keandalan, serta manajemen rantai pasok yang telah teruji di pasar global.
Robotaxi yang diproduksi memiliki kemampuan Level 4 (L4) menurut standar SAE International, artinya kendaraan dapat beroperasi tanpa campur tangan manusia dalam sebagian besar kondisi berkendara perkotaan. Tingkat otonomi ini menempatkan layanan Pony.ai lebih dekat ke adopsi komersial luas dibandingkan sekadar uji coba terbatas.
Analis industri di Shanghai menilai bahwa model kemitraan ini dapat menjadi rujukan baru bagi pengembangan transportasi otonom. Konsultan keuangan Integrity, Ding Haifeng, mengatakan, "Pony dan Toyota menunjukkan bahwa perpaduan antara penyedia teknologi mengemudi otonom tingkat lanjut dan perakit mobil besar dapat mendorong pertumbuhan robotaxi di kota-kota padat. Lebih banyak orang akan melihat atau mengalaminya di jalanan tahun ini."
Dalam lanskap global, langkah Tiongkok ini dibaca sebagai respons strategis terhadap dominasi awal Amerika Serikat melalui Waymo. Berbeda dengan pendekatan berbasis wilayah terbatas di AS, Pony.ai memanfaatkan kepadatan kota-kota Tiongkok, ekosistem kendaraan listrik yang kompetitif, serta dukungan regulasi lokal untuk mempercepat skala operasi.
Di sisi pasar keuangan, posisi Pony.ai semakin menguat setelah perusahaan tersebut masuk dalam MSCI China Index sebagai satu-satunya pemain robotaxi. Manajemen menilai pencapaian ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap kemampuan Pony.ai beralih dari riset ke produksi massal dan model bisnis berkelanjutan.
Selain itu, ekspansi Pony.ai tidak hanya berhenti di Tiongkok. Perusahaan menyiapkan pijakan operasional di Asia Timur, Timur Tengah, dan Eropa, menandakan ambisi menjadikan robotaxi sebagai layanan lintas negara, bukan sekadar inovasi domestik.
Pada akhirnya, produksi massal robotaxi Pony.ai–Toyota menandai perubahan paradigma: dari prototipe berbasis kecerdasan buatan menjadi sistem transportasi komersial yang dapat menopang ekonomi perkotaan modern. Ini sekaligus mempertegas persaingan global antara raksasa teknologi dan pabrikan otomotif mapan dalam membentuk masa depan mobilitas otonom dunia.
Tag: #tiongkok #robotaxi #ponyai #toyota #memulai #produksi #massal #1000 #unit #dengan #target #armada #3000 #pada #2026