Menkeu Respons Outlook Negatif Moody’s, Sebut Pertumbuhan Lebih Tinggi dari Perkiraan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi perubahan outlook Indonesia oleh Moody’s yang sempat memberi proyeksi negatif.
Moody’s sebelumnya menilai prospek pertumbuhan Indonesia melambat. Purbaya menyebut realisasi pertumbuhan menunjukkan hasil lebih baik dari perkiraan.
“Makanya Moody’s mengeluarkan waktu kita negatif karena ada prospek pertumbuhan yang lebih lambat katanya. Tahunya kuahnya lebih tinggi,” ujar Purbaya di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Baca juga: Pasca Penurunan Outlook Kredit RI, Danantara Akan Buka Komunikasi dengan Moodys
Ia menilai stabilitas sosial dan politik menjadi fondasi utama pertumbuhan. Stabilitas itu menjadi bagian dari pendekatan pembangunan ekonomi yang ia sebut Sumitronomics.
Pertumbuhan ekonomi kuartal IV sempat berada di bawah target awal. Purbaya menargetkan 5,6 hingga 5,7 persen. Realisasi tercatat 5,39 persen.
“Saya janji 5,6–5,7. Tapi karena kendala—yang sekarang sudah kita hentikan dan hilangkan—tumbuhnya hanya 5,39. Tapi itu sudah lumayan. Itu tertinggi setelah Covid-19 dalam lima tahun terakhir,” kata dia.
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,71 persen. Angka itu termasuk yang tertinggi di kelompok G20 dan melampaui China, menurut Purbaya.
Sejumlah lembaga internasional kemudian merevisi proyeksi. Dana Moneter Internasional menaikkan proyeksi pertumbuhan Indonesia dari 4,9 persen menjadi 5,2 persen. JP Morgan juga merevisi dari 4,9 persen menjadi 5,2 persen.
“Habis itu langsung IMF menaikkan prediksi kita dari 4,9 ke 5,2 untuk tahun ini. JP Morgan juga sama dari 4,9 ke 5,2. Jadi ada yang offside kelihatannya. Biar saja, kita akan buat dia offside betulan,” ujarnya.
Baca juga: Airlangga Minta Danantara Jelaskan Arah Fiskal RI ke Moodys
Pemerintah berencana menggelontorkan stimulus fiskal dan moneter untuk menjaga momentum. Belanja negara akan didorong agar dunia usaha berekspansi.
Dalam APBN, pertumbuhan ekonomi dipatok 5,4 persen. Purbaya menargetkan realisasi mendekati 6 persen.
“Di APBN 5,4 persen pertumbuhannya, tapi saya akan coba dorong ke arah 6 persen semaksimal mungkin. Jadi ekspansi ekonomi akan berlangsung terus sampai nanti 2030–2031. Anda enggak usah takut kalau investasi di pasar modal atau dunia bisnis, cepat-cepat jalankan rencana investasi Anda,” tuturnya.
Sebelumnya, Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Peringkat kredit tetap di level Baa2.
Moody’s mempertahankan peringkat senior unsecured jangka panjang mata uang lokal dan asing di level Baa2. Program medium term note senior secured mata uang asing serta program shelf senior unsecured juga berada di level yang sama.
Moody’s menyebut penurunan outlook dipicu menurunnya prediktabilitas dan koherensi perumusan kebijakan. Komunikasi kebijakan dinilai kurang efektif dalam setahun terakhir.
Kondisi tersebut dinilai berisiko melemahkan kredibilitas kebijakan di mata investor. Penilaian itu juga mencerminkan pelemahan tata kelola pemerintahan.
"Moody's Ratings hari ini mengubah prospek peringkat Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari stabil dan menegaskan peringkat emiten jangka panjang mata uang lokal dan asing pada Baa2," tulis Moody’s dalam pengumuman, Kamis (5/2/2026).
Tag: #menkeu #respons #outlook #negatif #moodys #sebut #pertumbuhan #lebih #tinggi #dari #perkiraan