AS–Taiwan Teken Perjanjian Dagang, Tarif Impor Dipangkas Jadi 15 Persen
- Amerika Serikat (AS) dan Taiwan resmi menandatangani perjanjian perdagangan komprehensif.
Ini menandai kemajuan besar dalam hubungan ekonomi kedua mitra dagang, setelah berbulan-bulan negosiasi intensif terkait tarif impor dan investasi industri strategis.
Dikutip dari Associated Press, Jumat (13/2/2026), perjanjian tersebut, yang secara resmi ditandatangani pada Kamis (12/2/2026) waktu setempat di Washington DC, mencakup pemangkasan tarif impor barang-barang asal Taiwan.
Baca juga: Kesepakatan Tarif Indonesia-AS Bakal Ditandatangani Bulan Ini
Ilustrasi tarif Trump. Presiden Prabowo dan Presiden Trump sepakat menurunkan tarif ekspor RI ke AS menjadi 19 persen.
Kemudian, perluasan akses investasi Taiwan di sektor-sektor kunci di AS, dan pengaturan baru yang dirancang untuk menguatkan kapasitas produksi dalam negeri Amerika Serikat.
Inti kesepakatan: tarif impor turun dan investasi masif
Dalam kerangka perjanjian dagang reciprocal trade agreement yang ditawarkan oleh pemerintah AS, tarif impor umum atas barang-barang Taiwan kini dipangkas dari 20 persen menjadi 15 persen.
Tarif ini akan berlaku sebagai tarif timbal balik yang setara dengan yang diterapkan AS kepada mitra dagang utama di kawasan Asia-Pasifik seperti Jepang dan Korea Selatan.
Aturan baru ini mencakup hampir semua jenis barang dari Taiwan yang diekspor ke AS. Termasuk di dalamnya adalah produk elektronik, suku cadang otomotif, serta berbagai barang konsumsi yang sebelumnya dibebani tarif lebih tinggi.
Baca juga: Menanti 19 Februari, Tarif Ekspor RI ke AS di Ujung Tanda Tangan
Sebagai bagian dari kesepakatan, pemerintah Taiwan juga menyatakan komitmennya untuk memperluas pembelian atas produk-produk AS, termasuk untuk menurunkan defisit perdagangan di beberapa sektor tertentu.
Di sisi lain, pemerintahan Taipei berjanji perusahaan-perusahaan Taiwan akan menanamkan investasi asing langsung (FDI) senilai 250 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 4.200 triliun (asumsi kurs Rp 16.800 per dollar AS) di Negeri Paman Sam.
Ilustrasi chip komputer.
Fokus utama investasi pada pembangunan fasilitas semikonduktor canggih (advanced semiconductors), teknologi kecerdasan buatan (AI), dan energi.
Selain investasi langsung, Taiwan juga akan menyediakan jaminan kredit sebesar 250 miliar dollar AS kepada lembaga keuangan untuk mendukung perluasan investasi tambahan oleh perusahaan Taiwan di AS.
Baca juga: Bangladesh Dapat Potongan Tarif Impor AS, Tekstil Nikmati Bebas Bea
Pejabat dari kedua negara menyampaikan pandangan resmi mereka mengenai kesepakatan tersebut saat acara penandatanganan serta melalui pernyataan publik.
Jamieson Greer, Perwakilan Dagang AS (US Trade Representative), dalam sebuah pernyataan menyebut kesepakatan ini memperkuat hubungan ekonomi antara kedua negara.
Ia menegaskan, perjanjian akan membuka peluang baru bagi petani, pekerja, dan produsen AS sekaligus meningkatkan ketahanan rantai pasok industri strategis.
“Perjanjian ini juga dibangun di atas hubungan ekonomi dan perdagangan jangka panjang kita dengan Taiwan dan akan secara signifikan meningkatkan ketahanan rantai pasokan kita, khususnya di sektor teknologi tinggi," jelas Greer, dikutip dari Reuters.
Baca juga: AS Pangkas Tarif Impor Bangladesh Jadi 19 Persen, Tekstil Dapat Skema Khusus
Di pihak Taiwan, Presiden Lai Ching-te menilai kesepakatan ini sebagai momentum penting untuk transformasi ekonomi negaranya, sekaligus kesempatan memperkuat partnership strategis dengan AS.
Rincian dan fokus investasi Taiwan
Komitmen investasi Taiwan di AS ditujukan tidak hanya pada perluasan kapasitas produksi semikonduktor, tetapi juga pada pembangunan fasilitas energi dan teknologi kecerdasan buatan.
Salah satu nama yang muncul dalam pengumuman adalah Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), produsen chip terbesar di dunia.
TSMC telah menyatakan komitmennya untuk menginvestasikan setidaknya 165 miliar dollar AS dalam proyek produksi chip dan pusat penelitian di AS, termasuk fasilitas baru di Arizona.
Presiden Taiwan Lai Ching-te saat berpidato mengenai infiltrasi pasukan China di Taipei, 13 Maret 2025.
Baca juga: India Hapus Tarif Produk Industri AS, Trump Tetapkan Tarif 18 Persen
Pemerintah Taiwan menegaskan TSMC akan terus memperluas operasi globalnya sambil tetap menjaga basis produksi utama di pulau Taiwan.
Ini mencerminkan strategi dual-track di mana ekspansi ke AS dilakukan tanpa mengurangi kontribusi industri terhadap ekonomi Taiwan secara umum.
Pengaruh terhadap rantai pasok semikonduktor global
Rantai pasok semikonduktor global saat ini masih sangat tergantung pada produksi Taiwan, terutama di sektor chip canggih untuk aplikasi ponsel pintar dan kecerdasan buatan.
Defisit perdagangan AS terhadap Taiwan mencerminkan ketergantungan tersebut, tercatat mencapai sekitar 127 miliar dollar AS pada Januari sampai November 2025.
Baca juga: Trump Cabut Tarif Tambahan 25 Persen untuk India
Dengan adanya kesepakatan ini, AS berharap akan ada reshoring atau nearshoring, yakni pemindahan kembali sebagian proses produksi komponen penting ke wilayah domestik AS.
Ini menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengurangi kerentanan terhadap gangguan global dan mempertahankan kedaulatan teknologi nasional.
Aspek nontarif dan perlakuan investasi
Selain pengurangan tarif, kesepakatan ini juga mencakup ketentuan non-tarif yang dirancang untuk memudahkan akses produk AS ke pasar Taiwan.
Di antaranya adalah penghapusan hambatan tarif untuk produk otomotif, perangkat medis, dan obat-obatan, serta penyelarasan standar keamanan yang akan memperluas peluang sektor industri AS di pasar Taiwan.
Baca juga: Maju Mundur Negosiasi Tarif AS dan RI, Sampai Mana?
Selanjutnya, bagi perusahaan Taiwan yang membangun fasilitas produksi di AS, terdapat mekanisme pembebasan atau pengurangan tarif tambahan berdasarkan ketentuan tertentu.
Hal ini dilakukan untuk memberikan insentif kuat agar investasi benar-benar terealisasi dan berkontribusi terhadap pembangunan kapasitas lokal di AS.
Ilustrasi tarif impor Trump.
Proses persetujuan dan implikasi politik
Meskipun kesepakatan ini telah ditandatangani oleh pejabat kedua negara, persetujuan akhir masih harus melalui proses legislatif di Taiwan.
Parlemen Taiwan yang saat ini dikuasai oleh partai oposisi akan mengevaluasi dan memutuskan ratifikasi perjanjian tersebut.
Baca juga: India dan AS Capai Kesepakatan Dagang, Tarif Turun Jadi 18 Persen
Dari perspektif geopolitik, kesepakatan ini terjadi di tengah ketegangan yang lebih luas antara AS dan China, yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.
Perjanjian ini dilihat oleh sebagian analis sebagai langkah AS memperkuat hubungan ekonomi dengan Taiwan, tanpa formalitas diplomatik penuh, sekaligus memitigasi risiko geopolitik yang berhubungan dengan pasokan semikonduktor global.
Dinamika ekonomi dan tantangan implementasi
Ke depan, pelaksanaan perjanjian ini akan membawa tantangan sekaligus peluang.
Pemangkasan tarif diharapkan dapat mengurangi biaya bagi konsumen dan pelaku industri di AS serta mengubah struktur perdagangan bilateral.
Baca juga: Trump Ancam Tarif 50 Persen untuk Pesawat Buatan Kanada
Sementara itu, komitmen investasi Taiwan diharapkan mempercepat pembangunan klaster industri teknologi tinggi di AS dan meningkatkan kapasitas produksi domestik.
Namun, keberhasilan implementasi investasi senilai 250 miliar dollar AS dan efektivitas pengurangan tarif akan sangat bergantung pada dinamika pasar, kebijakan fiskal dan moneter kedua negara, serta kelancaran koordinasi antara sektor publik dan swasta.
Tag: #astaiwan #teken #perjanjian #dagang #tarif #impor #dipangkas #jadi #persen