Komentar Vendor Pesta Pernikahan Soal Tren Menikah di KUA
Bridestory Market kembali digelar mulai Kamis (12/2/2026) sampai Minggu (15/2/2026) di Hall 3-3A Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Pagedangan, Kabupaten Tangerang.(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)
10:05
13 Februari 2026

Komentar Vendor Pesta Pernikahan Soal Tren Menikah di KUA

- Tren pernikahan sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) semakin ramai dalam beberapa tahun terakhir.

Banyak pasangan memilih akad tanpa resepsi besar, dengan alasan efisiensi anggaran hingga ingin memprioritaskan kehidupan setelah menikah. Apakah tren ini berdampak langsung pada penurunan penyewaan vendor pernikahan?

“Kalau secara dampaknya ada penurunan atau tidak, pasti ya. Karena mereka tidak melakukan resepsi yang selayaknya umumnya dijalankan.”

Hal ini dikatakan oleh seorang wedding planner dari Hora Wedding Organizer, Olin, kepada Kompas.com, di Bridestory Market 2026 di ICE BSD City, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Kamis (12/2/2026).

Olin menjelaskan, ketika pasangan tidak menggelar resepsi seperti pada umumnya, maka otomatis ada komponen industri yang terdampak, terutama penyewaan venue besar dan paket resepsi lengkap.

Baca juga: Angka Pernikahan di Indonesia Menurun, Apa Dampaknya? Ini Pandangan Sosiolog

Hora Wedding Organizer, Olin, di Bridestory Market 2026 di ICE BSD City, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Kamis (12/2/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Hora Wedding Organizer, Olin, di Bridestory Market 2026 di ICE BSD City, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Kamis (12/2/2026).

Meski demikian, ia menekankan bahwa keputusan tersebut sepenuhnya bergantung pada pilihan masing-masing pasangan.

“Balik lagi itu sebenarnya ke preferensi ya, karena preferensi orang berbeda-beda, termasuk dalam kebiasaan pengeluaran,” ujar dia.

Sementara itu, Calvin dari tim pemasaran CasaBlanca Design menambahkan, dari sisi venue yang mereka tangani, kondisinya masih relatif stabil.

“Kalau dari itu sih masih stabil ya, masih aman ya, karena memang klien yang kami tangani itu kebanyakan (pernikahan) internasional, jadi masih mengandalkan venue hotel,” kata Calvin.

Baca juga: Banyak Pasangan Siapkan Budget Pernikahan Berkisar Rp 250–500 Juta

Nikah di KUA tetap membutuhkan vendor

Calvin dari tim pemasaran Casablanca Design di Bridestory Market 2026 di ICE BSD City, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Kamis (12/2/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Calvin dari tim pemasaran Casablanca Design di Bridestory Market 2026 di ICE BSD City, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Kamis (12/2/2026).

Marketing and Brand Partnership Bridestory, Kenanga Puspitasari, menilai bahwa pergeseran konsep pernikahan tidak selalu berarti pengurangan kebutuhan secara keseluruhan.

“Misalnya, ada beberapa yang cenderung mau menikah di KUA, tapi kan tetap ingin mempersiapkan dokumentasi,” kata Kenanga.

Dengan kata lain, dampak lebih terasa pada skala resepsi, bukan keseluruhan ekosistem vendor. Sebab, kebutuhan terhadap vendor pernikahan pada kategori tertentu, tetap ada. Skala acara boleh lebih sederhana, tetapi persiapan tetap berjalan.

Untuk pasangan yang ingin menghadirkan dokumentasi, misalnya, mereka tetap bakal menyewa vendor fotografer dan videografer.

“Kalau pengin pakai kebaya, tetap butuh vendor penyewaan kebaya,” tutur Kenanga.

Baca juga: Tren Pernikahan 2026, Ballroom Hotel Jadi Venue Pilihan Banyak Calon Pengantin

Pandangan serupa disampaikan Olin dan Calvin. Menurut mereka, pasangan tetap bisa memilih mengalokasikan anggaran pada aspek tertentu meski tidak menggelar resepsi besar.

“Dan ketika orang datang ke pameran seperti ini, mereka juga jadi tahu ternyata ada vendor pernikahan ‘baru’. Contohnya kayak wedding content creator yang dulu enggak ada, tapi sekarang mulai ada,” jelas Calvin.

Vendor pernikahan lainnya yang masih dibutuhkan oleh mereka yang menikah di KUA mencakup makeup, penyewaan jas dan gaun, suvenir, hingga undangan.

Pergeseran pola belanja

Perihal tren menikah di KUA, Olin mengatakan bahwa ini juga sejalan dengan perubahan pola pengelolaan anggaran calon pengantin.

Ini juga selaras dengan tren “save, spend, and splurge”, yaitu ketika calon pengantin sudah mengumpulkan banyak uang, tetapi dialokasikan untuk hal lain dalam aspek pernikahan.

“Ada yang lebih menekankan dan lebih mementingkan bulan madu atau kehidupan setelah menikah, daripada saat hari H (resepsi), dan itu sebenarnya enggak pernah menjadi masalah karena balik lagi ke preferensi masing-masing,” ucap dia.

Ada pula yang lebih memilih untuk mengalokasikan anggaran pernikahan untuk belanja barang-barang rumah tangga, mengontrak rumah, atau DP rumah.

Baca juga: 8 Tips Memulai Tabungan Pernikahan

Bridestory Market kembali digelar mulai Kamis (12/2/2026) sampai Minggu (15/2/2026) di Hall 3-3A Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Pagedangan, Kabupaten Tangerang.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Bridestory Market kembali digelar mulai Kamis (12/2/2026) sampai Minggu (15/2/2026) di Hall 3-3A Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

“Itu enggak ada masalah, selama mereka berbahagia dan nyaman dengan keputusan itu,” tutur Olin.

Kenanga juga menekankan bahwa apa pun konsepnya, yang terpenting adalah perencanaan yang matang.

“Yang penting planning aman dan lancar. Di sini kami ingin mendukung brides to be selama planning sampai hari H, mau itu menikah di KUA atau secara intimate, grande, sekalipun,” pungkas Kenanga.

Baca juga: Petal Dreamscapes, Tren Pernikahan 2026 yang Romantis dan Dreamy

Tag:  #komentar #vendor #pesta #pernikahan #soal #tren #menikah

KOMENTAR