TNI AU Rekrut Lulusan Politeknik Penerbangan di Curug Tangerang Jadi Pilot
Instruktur penerbang Skadron Pendidikan (Skadik) 104 Mayor Pnb Rachmat YS Ariyo saat ditemui di Wingdik 100/Terbang, Sleman, Yogyakarta, Kamis (12/2/2026).(KOMPAS.com/BAHARUDIN AL FARISI)
09:34
13 Februari 2026

TNI AU Rekrut Lulusan Politeknik Penerbangan di Curug Tangerang Jadi Pilot

- TNI Angkatan Udara tengah merekrut lulusan Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug untuk dipersiapkan menjadi penerbang atau pilot pesawat demi memenuhi kebutuhan.

Instruktur penerbang Skadron Pendidikan (Skadik) 104, Mayor Pnb Rachmat YS Ariyo, mengatakan kerja sama itu sekaligus membantu para alumni PPI Curug untuk mendapat jam terbang.

"Kerja sama awal ya antara TNI AU dengan sekolah penerbang. Karena saya tanya juga mereka, jadi mereka itu setelah lulus dari (PPI) Curug belum tentu jadi penerbang," kata Rachmat saat ditemui di Wingdik 100/Terbang, Sleman, Yogyakarta, Kamis (12/2/2026).

Baca juga: Langit Tak Mengenal Gender: Kisah Letda Tek Qorinna, Calon Penerbang Perempuan TNI AU

Sejauh ini, Rachmat mengungkapkan bahwa sudah ada sembilan alumni PPI Curug yang sudah bergabung dan mendapatkan pangkat Letda Pnb.

Oleh karena itu, mereka kini tengah digembleng di Sekolah Penerbang (Sekbang) TNI Angkatan Udara, tepatnya di Skadik 104 yang merupakan bagian dari Wingdik 100/Terbang.

“(Penyesuaian) Lebih ke kurikulum. Jadi karena ada perubahan dia (alumni PPI Curug) lebih pendek ya (waktunya). Jadi kita menyesuaikan kurikulum apa saja sih pelajaran yang dibutuhkan yang belum mereka dapatkan,” kata Rachmat.

Baca juga: PPI Curug dan Kakorpolairud Sinergi Tingkatkan Kemampuan Penerbang Polri

Meski kurikulumnya tak jauh berbeda, namun pendidikan para alumni PPI Curug ini lebih singkat karena telah memiliki pengalaman jam terbang.

“Iya, (hanya) tiga bulan. Karena dia sudah punya jam terbang. Nanti kalau kelamaan, kan bosan juga, yang namanya jenuh ya, kok dapatnya ini lagi ini lagi,” tutur dia.

Secara teknis, pendidikan khusus bagi perwira PPI Curug hanya menyesuaikan karena telah memiliki Private Pilot License (PPL) dan Commercial Pilot License (CPL) sebagai pilot.

"Untuk cara kerjanya sama. Di darat kita menggunakan rudder, di udara menggunakan stick. Namun, setiap pesawat itu punya karakteristik masing-masing, tombolnya berbeda-beda. Jadi kenapa sih mereka harus standardisasi? Karena pesawat yang digunakan itu berbeda,” ungkap dia.

Meski masuk dalam penjurusan fixed wing, para alumni PPI Curug ini dipersiapkan untuk menjadi pilot pesawat angkut, bukan penerbang pesawat tempur atau helikopter.

Baca juga: 4 Penerbang TNI AU Jalani Pelatihan Simulator Airbus A-400M di Spanyol

Pertimbangannya karena faktor fisiologis yang sudah berbeda apabila dicetak sebagai penerbang di luar pesawat angkut.

“Jadi G (gaya gravitasi)-nya otak saya kan biasanya straight and level ya, bawa presiden, bawa menteri, pejabat-pejabat tinggi. Terus saya harus terbang lagi aerobatik, di mana saya harus menahan daya tahan G terus saya harus mengikuti arah pesawat, untuk loop nih, roll, gitu masih muntah,” ungkapnya.


Meski rekrutmen sempat dibuka secara umum, Rachmat menegaskan seleksi tetap dilakukan secara ketat.

“Jadi kami punya intuisi ya si anak ini atau siswa ini apakah bisa menjadi seorang penerbang. Karena kan kami dituntut harus disiplin terkait prosedur dan kami bisa di-direct lah, diperintah. Nah kalau kami tidak bisa, itu kelihatan,” tuturnya.

“Karena kami dilatih untuk berperang sebenarnya kan. Di saat kondisi apa pun ya kami harus siap. Harapannya, kalau tempur dia eject (aman). Kalau kami kan sebagai seorang pilot gimana caranya kami ditching mau forced landing, kami adalah orang yang paling terakhir dari pesawat,” sambungnya.

Sebagai informasi, alumnus PPI Curug ini resmi dilantik oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto pada 29 Januari 2026.

Setelah menyelesaikan pendidikan, ia akan bergabung sebagai penerbang TNI AU.

Tag:  #rekrut #lulusan #politeknik #penerbangan #curug #tangerang #jadi #pilot

KOMENTAR