Tren Clean Eating Ramai di Media Sosial, Studi Ungkap Dampaknya pada Kesehatan Mental
Tren clean eating yang marak di media sosial dinilai tidak selalu berdampak positif bagi kesehatan mental perempuan.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology tahun 2025 menemukan bahwa paparan konten clean eating tidak meningkatkan suasana hati dan berpotensi menurunkan kepuasan tubuh.
Penelitian ini menunjukkan bahwa unggahan makanan berlabel “gaya hidup sehat” dapat memberi tekanan psikologis, meski tidak menampilkan tubuh manusia.
Baca juga: Bagaimana Pola Makan Pengaruhi Kesehatan Fisik dan Mental
Clean eating dan perannya di media sosial
Media sosial, diketahui memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang memandang tubuh dan pola makan.
Melansir News Medical, sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi berkaitan dengan menurunnya kepuasan tubuh dan meningkatnya perilaku makan bermasalah.
Konten makanan di media sosial biasanya berisi tips nutrisi, foto makanan, hingga anjuran gaya hidup sehat.
Di antara berbagai tren tersebut, clean eating menjadi salah satu yang paling banyak diikuti.
Baca juga: Pola Makan Tak Bisa Disamaratakan, Ini Penjelasan Food Genomics Menurut Dokter
Apa yang dimaksud dengan clean eating?
Ilustrasi diet. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa konten clean eating di media sosial dapat memberi tekanan psikologis meski dikemas sebagai gaya hidup sehat.
Clean eating umumnya diartikan sebagai pola makan dengan lebih banyak mengonsumsi makanan segar dan minim proses.
Pola ini juga menganjurkan untuk menghindari makanan yang dianggap “tidak sehat”, seperti gula rafinasi dan alkohol.
Meski tampak positif, clean eating sering disertai aturan makan yang ketat dan pembatasan jenis makanan. Pembatasan ini berpotensi memicu hubungan yang tidak sehat dengan makanan.
Baca juga: Bisakah Pola Makan yang Buruk Menyebabkan Anemia? Ini Penjelasannya…
Metode penelitian yang digunakan
Penelitian ini melibatkan 129 perempuan dewasa yang dibagi ke dalam dua kelompok secara acak.
Kelompok pertama melihat konten media sosial bertema clean eating, sementara kelompok kedua melihat konten foodie yang menampilkan makanan secara lebih santai.
Kedua akun media sosial dibuat khusus untuk penelitian dan memiliki jumlah unggahan serta interaksi yang setara.
Peneliti mengukur suasana hati, kepuasan tubuh, dan pilihan makanan sebelum dan sesudah paparan konten.
Hasil penelitian tentang suasana hati
Hasil studi menunjukkan bahwa konten foodie mampu menurunkan perasaan negatif setelah dilihat. Sebaliknya, konten clean eating tidak memberikan peningkatan perasaan positif pada peserta.
Artinya, unggahan makanan yang menekankan kenikmatan justru lebih baik bagi suasana hati dibanding konten yang terlalu mengontrol pola makan.
Temuan ini menunjukkan bahwa narasi makanan juga berpengaruh pada kondisi emosional.
Baca juga: Pilih Pola Makan Tepat untuk Turunkan Kolesterol Jahat
Dampak terhadap kepuasan tubuh
Peneliti menemukan adanya sinyal awal bahwa paparan clean eating dapat menurunkan kepuasan tubuh.
Efek ini muncul meskipun unggahan yang dilihat tidak menampilkan tubuh manusia, melainkan hanya foto makanan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pesan “gaya hidup sehat” saja sudah cukup memengaruhi cara seseorang menilai tubuhnya. Meski belum bersifat konklusif, temuan ini tetap perlu diperhatikan.
Baca juga: Tren Fibermaxxing di TikTok, Apakah Perbanyak Serat Bisa Cegah Kanker?
Risiko perilaku makan tidak sehat
Penelitian juga menyinggung risiko munculnya perilaku makan restriktif, seperti ortoreksia.
Ortoreksia merupakan kondisi ketika seseorang terlalu terobsesi pada makanan sehat hingga mengganggu kesehatan mental dan sosial.
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa perempuan usia 18 hingga 30 tahun termasuk kelompok yang paling rentan terhadap tekanan ini.
Pembatasan makanan yang terlalu ketat dapat memperburuk citra tubuh dan hubungan dengan makanan.
Pandangan ahli terhadap clean eating
Dr. Priyom Bose, Ph.D., penulis ulasan studi ini, menekankan bahwa clean eating tidak selalu berdampak positif bagi semua orang.
Ia menjelaskan bahwa konten makanan yang terlalu mengontrol dapat mempertahankan perasaan negatif.
Menurutnya, pendekatan yang kaku terhadap makanan justru bisa merugikan kesehatan mental.
Tren clean eating di Instagram perlu disikapi dengan lebih kritis dan seimbang. Pola makan sehat sebaiknya tidak dibangun melalui pembatasan berlebihan atau tekanan sosial.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi profesional.
Baca juga: Tren Jalan Kaki ala Jepang, Ketahui Apa Manfaatnya untuk Kesehatan
Tag: #tren #clean #eating #ramai #media #sosial #studi #ungkap #dampaknya #pada #kesehatan #mental