Kata BSI dan BTN soal Naik Kelas ke KBMI IV
Ilustrasi bank. (SHUTTERSTOCK/FRANK11)
09:44
11 Februari 2026

Kata BSI dan BTN soal Naik Kelas ke KBMI IV

- Dua bank pelat merah, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memiliki perbedaan pandangan dalam memaknai urgensi naik kelas menjadi bank kelompok modal inti (KBMI) IV.

Sebagai informasi, bank yang masuk kategori KBMI IV ialah bank yang memiliki modal inti lebih dari Rp 70 triliun.

Posisi saat ini tiga dari lima bank BUMN yakni BRI, BNI, dan Bank Mandiri masuk dalam KBMI IV.

Sementara BTN dan BSI masih berada di kategori KBMI III atau bank dengan modal inti lebih dari Rp 14 triliun hingga Rp 70 triliun.

Baca juga: Setelah Jadi BUMN, BSI Bidik Naik Ke KBMI IV Dalam Jangka Menengah

Baik BTN maupun BSI memiliki perbedaan pandangan terkait urgensi mengimbangi tiga Bank BUMN lain yang sudah mencapai KBMI IV.

Perbedaan ini tecermin dari strategi permodalan dan prioritas bisnis yang diusung masing-masing perusahaan.

Target BSI

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo saat konferensi pers virtual, Jumat (6/2/2026).Tangkapan layar Zoom. Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo saat konferensi pers virtual, Jumat (6/2/2026).Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, naik kelas menjadi bank syariah kategori KBMI IV merupakan target bersama antara manajemen dan pemegang saham pasca perseroan resmi menyandang status BUMN.

Hal ini agar BSI dapat setara dengan bank-bank besar lainnya di industri perbankan nasional.

"Pemegang saham juga berharap untuk BSI setelah sekarang jadi persero, tentu step berikutnya agar bisa punya footprint yang kuat, tentu harus punya juga kekuatan yang sama dengan yang lain," ujarnya di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Menurut Anggoro, status KBMI IV tidak semata soal besaran modal, tetapi juga mencerminkan kekuatan institusi dalam menopang pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Oleh karenanya, BSI mulai menempatkan target naik kelas sebagai bagian dari agenda strategis perusahaan.

Meski demikian, Anggoro menegaskan, rencana tersebut bukan target jangka pendek melainkan tujuan jangka menengah yang membutuhkan persiapan bertahap dan terukur, baik dari sisi permodalan, bisnis, maupun tata kelola.

"Tentu ini perencanaan yang sifatnya mid-term ya. Tetapi kami akan mulai persiapkannya paling tidak mulai tahun ini dan tahun depan. Tapi itu menjadi satu goals yang mulai kita set dari sekarang," ungkapnya.

BTN Berhati-hati

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (9/2/2026).KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (9/2/2026).Berbeda dengan BSI, BTN memilih pendekatan yang lebih berhati-hati dalam menyikapi wacana naik kelas ke KBMI IV.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menilai, naik kelas jadi bank KBMI IV tidak serta-merta menjadi kebutuhan mendesak bagi BTN, mengingat karakteristik bisnis perseroan yang memiliki tingkat risiko relatif rendah.

BTN saat ini lebih memprioritaskan menjaga tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE).

Menurut dia, penambahan modal yang terlalu agresif justru berpotensi menekan imbal hasil dan kurang disukai investor.

"Kalau BTN sih ditanya hari ini, kita jaga ROE dulu ya. Nanti capital banyak juga return-nya malah turun, investor malah tidak suka. Kan modal ini kan hati-hati melihatnya," ujar Nixon saat paparan kinerja di kantornya, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Dia menambahkan, struktur aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) BTN tergolong efisien dibandingkan bank lain, terutama karena bisnis BTN didominasi pembiayaan perumahan.

Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi, misalnya, memiliki ATMR sekitar 20 persen, sementara KPR non-subsidi sekitar 30 persen.

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kredit korporasi yang ATMR-nya bisa mencapai 100 persen.

Dengan profil risiko tersebut, Nixon menilai BTN mampu memperbesar aset dan kredit tanpa harus menambah modal secara signifikan hingga masuk kategori KBMI IV.

"Kalau kita tidak terlalu pengen ekspansi internasional kayak BTN ngapain kan (naik kelas jadi KBMI IV). Kita mayoritas marketnya di Indonesia gede juga, jadi ATMR-nya juga rendah. Kan yang membedakan ini ATMR kita dengan bank lain-lain, kita paling irit pakai modal. Kalau kita boros kayak bank lain mungkin kita memang betul butuh KBMI IV," jelasnya.

Kendati demikian, Nixon mengakui perseroan tetap ada keinginan untuk naik kelas jadi KBMI IV. Namun bukan menjadi tujuan yang harus dikejar secara agresif.

BTN memilih membiarkan pertumbuhan modal terjadi secara natural seiring perkembangan bisnis.

"Kalau ditanya, pengen ya pengen, tapi tidak diniatin amat-amat lah, nanti natural saja tumbuhnya ke sana. Ngapain saya minta hari ini modal kita naik, kalau ATMR-nya juga masih rendah?" ucapnya.

Nixon juga menegaskan, tidak akan menghalangi BSI jika memang menargetkan untuk naik kelas menjadi bank KBMI IV seperti tiga Bank BUMN lainnya. "Kalau new kids on the block pengen ya tidak apa-apa juga kan, kita tidak mungkin menghalangi," tukasnya.

Baca juga: Bos BTN Bocorkan Pembagian Dividen 2025: 25-30 Persen dari Laba Bersih

Tag:  #kata #soal #naik #kelas #kbmi

KOMENTAR