Kasus IBD Terus Meningkat, Pakar Ingatkan Pentingnya Diagnosis Dini dan Terapi Tepat
Inflammatory Bowel Disease (IBD) semakin menjadi perhatian dunia medis seiring dengan meningkatnya jumlah kasus. (istimewa)
16:54
26 Januari 2026

Kasus IBD Terus Meningkat, Pakar Ingatkan Pentingnya Diagnosis Dini dan Terapi Tepat

 

- Inflammatory Bowel Disease (IBD) semakin menjadi perhatian dunia medis seiring dengan meningkatnya jumlah kasus, baik secara global maupun di Indonesia. Sayangnya, pemahaman masyarakat mengenai penyakit ini masih terbatas. Banyak pasien tidak menyadari gejala awal yang muncul, sehingga diagnosis sering kali baru ditegakkan saat penyakit sudah berada pada fase yang lebih lanjut.

IBD ini sendiri merupakan penyakit inflamasi kronis dengan mekanisme yang kompleks, melibatkan kombinasi faktor genetik, respons imun, lingkungan, serta peran mikrobiota usus. Dua bentuk utama IBD, yaitu Crohn’s disease dan ulcerative colitis, kerap memiliki manifestasi klinis yang menyerupai penyakit lain, seperti infeksi saluran cerna atau tuberkulosis usus.

Kondisi ini menuntut ketelitian tinggi dalam proses diagnosis melalui pendekatan komprehensif yang mencakup evaluasi klinis, pemeriksaan endoskopi, analisis histopatologi, serta pemeriksaan penunjang lainnya, guna menghindari keterlambatan diagnosis maupun kesalahan terapi.

Dalam sambutannya, dr. Marcellus Simadibrata, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi RS Abdi Waluyo, menyoroti bahwa tantangan utama pada IBD tidak berhenti pada penegakan diagnosis, melainkan berlanjut pada pemilihan strategi terapi sejak tahap awal.

Menurutnya, setelah diagnosis IBD ditegakkan, tantangan terbesar berikutnya adalah menentukan strategi penanganan yang tepat sejak dini. Keterlambatan diagnosis maupun inisiasi terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan, obstruksi usus, fistula, dan peningkatan risiko kanker kolorektal.

"Oleh karena itu, penilaian aktivitas dan derajat keparahan penyakit menjadi langkah krusial sebelum menentukan terapi yang paling sesuai," jelas Marcel dalam forum ilmiah IBD Update 2026: Updates on Diagnosis and Management of Inflammatory Bowel Disease (IBD) beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Marcel menekankan bahwa penanganan IBD harus bersifat individual dan tidak bisa disamaratakan. Evaluasi lanjutan setelah diagnosis harus mencakup penilaian aktivitas penyakit, penyingkiran infeksi tersembunyi, serta penetapan target terapi yang jelas.

"Pendekatan treat-to target harus menjadi bagian dari praktik klinik, dengan tujuan tidak hanya mengendalikan gejala, tetapi juga mencapai penyembuhan mukosa dan mencegah kerusakan jangka panjang," jelasnya.

Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan prevalensi penyakit infeksi yang masih tinggi, aspek skrining infeksi menjadi sangat krusial.

"Beberapa infeksi, khususnya tuberkulosis dan infeksi saluran cerna tertentu, dapat menyerupai atau memperberat perjalanan IBD. Karena itu, skrining menyeluruh sebelum memulai atau mengeskalasi terapi sangat penting untuk menghindari kesalahan diagnosis dan komplikasi yang tidak diinginkan," jelasnya.

Sejalan dengan kompleksitas tersebut, RS Abdi Waluyo mengembangkan pendekatan khusus dalam menangani IBD sebagai penyakit kronis. Bahkan, terdapat pula IBD Center sebagai one-stop service dengan pendekatan holistik oleh tim multidisiplin spesialis dan subspesialis, yang mengintegrasikan layanan diagnosis, terapi, pemantauan jangka panjang, hingga dukungan multidisiplin sesuai kebutuhan pasien.

"RS Abdi Waluyo IBD Center merupakan pusat IBD pertama di Indonesia. Selain itu, RS Abdi Waluyo juga telah menyediakan layanan Intestinal Ultrasound (IUS) sebagai bagian dari pendekatan diagnostik dan monitoring non-invasif, yang berperan penting dalam menilai aktivitas penyakit secara lebih aman dan berulang, serta mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat dalam tata laksana pasien IBD,” jelasnya.

Sementara itu, dr. Ari Fahrial Syam, Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi sekaligus Ketua Umum PB PGI mengungkapkan bahwa meskipun prevalensi IBD di Asia Tenggara masih lebih rendah dibandingkan negara Barat, tren peningkatannya terus terlihat dari tahun ke tahun.

“Studi di berbagai negara Asia menunjukkan insidensi IBD berkisar antara 0,54 hingga 3,44 per 100.000 penduduk, dengan kecenderungan meningkat seiring perubahan lingkungan dan gaya hidup. Data dari rumah sakit rujukan di Indonesia juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah pasien IBD yang memerlukan penanganan jangka panjang. Kondisi ini, menurutnya, menuntut kesiapan sistem layanan kesehatan serta peningkatan kewaspadaan klinis dalam mengenali dan menangani IBD secara lebih dini dan tepat," kata Ari.

Ia menambahkan bahwa pemahaman terhadap IBD harus melampaui sekadar gejala klinis. Menurutnya, IBD perlu dipahami secara komprehensif sebagai penyakit dengan mekanisme yang kompleks, dimana penyakit ini tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh gangguan toleransi imun yang memicu inflamasi kronis dan perjalanan penyakit yang berulang.

"Oleh karena itu, pendekatan diagnosis dan tata laksana IBD harus bersifat terintegrasi, tidak hanya berfokus pada gejala klinis, tetapi juga pada mekanisme dasar penyakit," ungkapnya.

Editor: Estu Suryowati

Tag:  #kasus #terus #meningkat #pakar #ingatkan #pentingnya #diagnosis #dini #terapi #tepat

KOMENTAR