Salah Kaprah Orangtua, Menu MPASI Bukan Makanan Khusus Bayi
Ilustrasi bayi saat diberikan MPASI.(UNSPLASH/HUI SANG)
18:35
26 Januari 2026

Salah Kaprah Orangtua, Menu MPASI Bukan Makanan Khusus Bayi

- Banyak orangtua menganggap periode pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI) sebagai fase yang rumit karena harus membeli bahan makanan khusus yang relatif mahal.

Ahli gizi masyarakat DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum menyoroti bagaimana sebagian orangtua mengira, jenis makanan yang diberikan untuk anak saat memasuki usia enam bulan harus “makanan khusus bayi”.

“Ibu-ibu berpikir bahwa MPASI itu makanan bayi khusus. Harus pakai salmon, butter, keju bayi, harus pakai minyak khusus bayi. Itu yang akhirnya bikin kita pusing,” ungkap dr. Tan di acara "1000 Hari Cinta -- Ibu Sehat, Anak Cerdas" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Minggu (25/1/2026).

Adapun "1000 Hari Cinta -- Ibu Sehat, Anak Cerdas" adalah gerakan yang digelar oleh Yayasan Komunitas Perempuan Peduli dan Berbagi (KPPB) untuk merayakan Hari Gizi Nasional pada Minggu.

Menurut dr. Tan, tidak ada istilah makanan khusus bayi, yaitu yang bahan makanannya berbeda total dari makanan keluarga. Yang membedakan adalah cara pengolahan, tekstur, serta metode pemberian makannya.

Dengan kata lain, tidak masalah apabila anak berusia delapan bulan mengonsumsi makanan keluarga seperti opor, dan bayi berusia enam bulan mengonsumsi bubur Betawi.

“Yang membedakan adalah teksturnya, cara pemberian makannya, responsive feeding-nya. Itu yang paling penting,” tegas dr. Tan.

Lebih lanjut, fase MPASI justru menjadi momen penting pembentukan kebiasaan makan anak yang dimulai dari pola makan keluarga sehari-hari.

Dimulai dari pola makan orangtua

Ilustrasi nasi tim ayam mpasi.DOK.SHUTTERSTOCK/Ika Rahma H Ilustrasi nasi tim ayam mpasi.

Kualitas MPASI tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan makan orangtua di rumah. Menu keluarga menjadi fondasi utama karena anak pada akhirnya akan mengikuti pola makan yang sama.

Menurut dr. Tan, tidak masuk akal jika orangtua berharap anak makan sehat sementara menu harian keluarga justru didominasi makanan instan atau rendah gizi. Kondisi ini, menurut dia, kerap luput disadari.

“Kalau ibunya makan seblak, bapaknya makan mi instan, anaknya apa kabar? Ini yang menarik. Jadi, kalau mau anaknya sehat, tentu dimulai dari orangtuanya,” ucap dia.

Hindari pemberian makanan kemasan

Pemberian MPASI adalah periode krusial dalam pembentukan referensi dan preferensi makan anak. Pada fase ini, anak mulai mengenal rasa, tekstur, dan jenis makanan yang kelak memengaruhi pilihan makannya di masa depan.

Ia mengingatkan agar orangtua tidak terjebak pada preferensi instan anak terhadap makanan olahan seperti nugget atau sosis, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang kebiasaan tersebut.

“Jangan sampai nanti kejadian, ada orangtua yang diberikan MBG (makanan bergizi gratis), lalu orangtuanya protes ‘MBG-nya kok kayak begitu? Bukannya anak senangnya nugget, sosis?’,” kata dr. Tan.

Menurut dia, paparan berlebihan terhadap produk kemasan sejak dini, dapat membentuk kebiasaan makan yang bertahan hingga remaja dan dewasa.

Ilustrasi gadon sapi untuk MPASI. DOK.SHUTTERSTOCK/sri widyowati Ilustrasi gadon sapi untuk MPASI.

Pola makan serba instan juga membuat anak menjadi “lebih akrab” dengan makanan yang mudah ditemukan di pasar swalayan dibandingkan bahan pangan segar lokal.

Ia menilai kondisi ini ironis, mengingat Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pangan. Jika anak terbiasa dengan makanan kemasan, potensi pangan lokal justru tidak dimanfaatkan secara optimal oleh generasi sendiri.

“Jadi ikan kita siapa yang makan? Orang luar negeri. Kita makannya kerupuk ikan, itu kan sedih,” ucap dr. Tan.

Melalui MPASI berbasis menu keluarga, anak tidak hanya mendapatkan asupan gizi, tetapi juga diperkenalkan pada keragaman pangan lokal. Proses ini menjadi bagian dari pembelajaran jangka panjang mengenai pola makan sehat sekaligus identitas pangan.

Tag:  #salah #kaprah #orangtua #menu #mpasi #bukan #makanan #khusus #bayi

KOMENTAR