Zuckerberg Dorong Meta Menjadi Kekuatan Infrastruktur AI Global dengan Investasi Data Center Skala Gigawatt
— Meta Platforms Inc. mengambil langkah strategis besar untuk memosisikan diri sebagai salah satu kekuatan utama infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dunia.
Melalui pembentukan organisasi baru bernama Meta Compute, Mark Zuckerberg menegaskan bahwa Meta tidak lagi sekadar membangun teknologi AI, melainkan juga menguasai fondasi fisik dan energi yang menopang revolusi tersebut.
Dilansir dari Fortune, Senin (26/1/2026), Zuckerberg mengumumkan inisiatif tersebut melalui jejaring sosial Threads.
“Meta berencana membangun pusat data dan infrastruktur komputasi dengan kapasitas listrik puluhan gigawatt dalam dekade ini, dan ratusan gigawatt atau lebih seiring waktu.
Cara kami merekayasa, berinvestasi, dan bermitra untuk membangun infrastruktur ini akan menjadi keunggulan strategis,” tulis Zuckerberg. Sebagai informasi, kapasitas satu gigawatt setara dengan daya listrik yang dapat menyuplai ratusan ribu rumah.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal tegas bahwa Meta tidak ingin tertinggal dalam perlombaan pembangunan pusat data yang didominasi oleh Microsoft, Google, OpenAI, Oracle, dan xAI. Patrick Moorhead, pendiri sekaligus analis utama Moor Insights and Strategy, mengatakan pengumuman Meta Compute awalnya menimbulkan tanda tanya di kalangan pengamat. “Pada awalnya pengumuman ini terasa membingungkan, tetapi pada akhirnya ini adalah cara Meta menjelaskan secara terbuka strategi mereka dalam membangun dan menggulirkan infrastruktur AI,” ujarnya.
Dalam struktur baru tersebut, Santosh Janardhan—eksekutif senior Meta—tetap memimpin arsitektur teknis, perangkat lunak, chip khusus, serta operasional jaringan pusat data global Meta. Sementara itu, Daniel Gross, mantan pendiri Safe Superintelligence, ditugaskan memikirkan kebutuhan komputasi jangka panjang, lokasi pembangunan, pengamanan pasokan chip dan energi, hingga dampak bisnis dari keputusan tersebut.
Zuckerberg juga menunjuk Dina Powell McCormick sebagai presiden dan wakil ketua Meta untuk memperkuat kerja sama dengan pemerintah dalam pembiayaan dan percepatan pembangunan pusat data di berbagai negara. Menurut investor dan anggota dewan berpengalaman, Umesh Padval, peran ini krusial. “Para hyperscaler—perusahaan teknologi raksasa yang mengoperasikan pusat data berskala sangat besar—kini fokus pada bagaimana mendapatkan pasokan listrik. Dengan latar belakang perbankan dan politiknya, dia dapat membantu mempercepat pembiayaan dan perizinan kapasitas komputasi,” katanya.
Meski demikian, strategi padat modal ini memicu kritik. Investor terkenal Michael Burry memperingatkan potensi dampak finansialnya melalui media sosial. “Meta telah mengorbankan keunggulan utamanya. Langkah ini berisiko menekan tingkat pengembalian atas modal yang diinvestasikan,” tulis Burry. Pernyataan tersebut merujuk pada kekhawatiran bahwa investasi besar pada pusat data dan infrastruktur fisik dapat menurunkan return on invested capital Meta.
Namun, di luar kritik tersebut, sebagian pengamat menilai arah strategi Meta justru sudah sangat jelas. Lane Dilg, mantan kepala kebijakan infrastruktur OpenAI, menyebut Meta kini memperlakukan pusat data, GPU, kontrak energi, dan chip khusus sebagai aset strategis. “Meta menggandakan taruhan pada infrastruktur sebagai portofolio investasi, bukan sekadar pusat biaya,” ujarnya.
Sejalan dengan pandangan tersebut, belanja modal Meta untuk infrastruktur AI pada tahun lalu telah menembus puluhan miliar dolar AS. Perusahaan bahkan memproyeksikan komitmen hingga 600 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 10.092 triliun dengan kurs Rp 16.820 per dolar AS, dalam beberapa tahun ke depan untuk pembangunan pusat data dan pengamanan pasokan energi guna mendukung ambisi pengembangan model AI berkemampuan “superintelligence.”
Dari perspektif pasar, Rick Pederson dari Bow River Capital menilai langkah ini sebagai respons atas persepsi bahwa Meta tertinggal dalam perlombaan komputasi AI. “Ini adalah cara Meta menunjukkan fokus dan keseriusannya dalam membangun kapasitas komputasi dan infrastruktur AI,” ujarnya.
Dengan strategi ini, Meta tidak hanya menata ulang prioritas bisnisnya, tetapi juga mencerminkan pergeseran lanskap teknologi global. Infrastruktur fisik—listrik, pusat data, dan chip—kini menjadi arena utama persaingan, menjadikan kekuatan komputasi sebagai instrumen strategis baru dalam perebutan kepemimpinan AI dunia.
Tag: #zuckerberg #dorong #meta #menjadi #kekuatan #infrastruktur #global #dengan #investasi #data #center #skala #gigawatt