Inflasi Januari 2026 3,55 Persen, Dipicu Tarif Listrik hingga Beras
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi secara tahunan atau year on year (yoy) Januari 2026 sebesar 3,55 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,75.
“Pada Januari 2026, terjadi inflasi year on year (yoy) sebesar 3,55 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,75,” tulis BPS dalam laporannya.
Secara spasial, inflasi tahunan tertinggi di tingkat provinsi terjadi di Aceh sebesar 6,69 persen dengan IHK sebesar 114,23. Sebaliknya, inflasi tahunan terendah di tingkat provinsi terjadi di Lampung sebesar 1,90 persen dengan IHK sebesar 109,71.
Baca juga: BI Optimistis Inflasi Turun Meski Awal 2026 Sentuh 3,55 Persen
Ilustrasi inflasi.
Adapun di tingkat kabupaten/kota, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 8,68 persen dengan IHK sebesar 116,41, sedangkan yang terendah terjadi di Kabupaten Minahasa Selatan sebesar 0,99 persen dengan IHK sebesar 109,67.
Deflasi bulanan dan tahun kalender
Meski secara tahunan terjadi inflasi 3,55 persen, pada Januari 2026 BPS mencatat terjadi deflasi secara bulanan (month to month/mtm) dan secara tahun kalender (year to date/ytd) masing-masing sebesar 0,15 persen.
Dalam tabel IHK nasional menurut kelompok pengeluaran, tercatat IHK Januari 2025 sebesar 105,99, meningkat menjadi 109,92 pada Desember 2025, dan sedikit turun menjadi 109,75 pada Januari 2026.
Penurunan dari Desember 2025 ke Januari 2026 tersebut tercermin dalam deflasi bulanan sebesar 0,15 persen.
Baca juga: Airlangga Ungkap Penyebab Inflasi Tahunan Januari 2026
Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi
Ilustrasi inflasi. Inflasi adalah. Penyebab inflasi. Inflasi menyebabkan apa.
Inflasi tahunan Januari 2026 terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 1,54 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki naik 0,56 persen.
Lalu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat kenaikan 11,93 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 0,16 persen.
Kemudian, kelompok kesehatan naik 1,62 persen. Kelompok transportasi naik 0,58 persen serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik 1,05 persen.
Baca juga: Inflasi Januari Naik ke 3,55 Persen, Pemerintah Nilai Bersifat Sementara
Selanjutnya, kelompok pendidikan naik 1,11 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 1,36 persen.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan tertinggi sebesar 15,22 persen.
Sebaliknya, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami penurunan indeks atau deflasi tahunan sebesar 0,19 persen.
Dari sisi andil terhadap inflasi tahunan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan kontribusi 1,72 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 1,00 persen.
Baca juga: Inflasi Januari Jadi Ujian Psikologis Pasar Keuangan Indonesia
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau berkontribusi 0,46 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,14 persen.
Kelompok pendidikan sebesar 0,06 persen. Kelompok kesehatan sebesar 0,05 persen. Lalu, kelompok transportasi sebesar 0,07 persen.
Kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,03 persen. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen.
Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
Ilustrasi beras, bahan pangan yang bisa diberikan untuk fakir miskin. Salah satu cara membayar kafarat adalah dengan memberi makan fakir miskin
Baca juga: Inflasi Tahunan Januari 2026 Capai 3,55 Persen, Ini Penyebabnya
Komoditas penyumbang utama inflasi
BPS mencatat sejumlah komoditas yang dominan memberikan andil inflasi tahunan Januari 2026.
Komoditas tersebut antara lain beras, ikan segar, daging ayam ras, bawang merah, kopi bubuk, sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM), nasi dengan lauk, tarif listrik, sewa rumah, kontrak rumah, tarif air minum PAM, bahan bakar rumah tangga, upah asisten rumah tangga, sepeda motor, mobil, Uang Sekolah SD, Uang Kuliah Akademi/Perguruan Tinggi, serta emas perhiasan.
Secara lebih rinci, pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, komoditas yang memberikan andil inflasi tahunan terbesar adalah ikan segar sebesar 0,19 persen.
Kemudian, beras sebesar 0,14 persen, daging ayam ras sebesar 0,07 persen, serta sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 0,06 persen.
Baca juga: Pemerintah dan BI Antisipasi Tekanan Inflasi Awal 2026
Pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, tarif listrik menjadi penyumbang utama dengan andil 1,49 persen, disusul tarif air minum PAM sebesar 0,14 persen, sewa rumah sebesar 0,03 persen, serta bahan bakar rumah tangga dan kontrak rumah masing-masing 0,02 persen.
Sementara pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, emas perhiasan menjadi komoditas dominan dengan andil inflasi tahunan sebesar 0,93 persen.
Komoditas penyumbang deflasi
Di sisi lain, terdapat komoditas yang memberikan andil deflasi tahunan, antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang putih, tomat, kentang, daging babi, jengkol, terong, sabun detergen bubuk, pengharum cucian/pelembut, detergen cair, bensin, telepon seluler, serta Uang Sekolah SMA.
Ilustrasi cabai merah, cabai merah keriting. Harga cabai merah keriting naik di hampir semua wilayah Jakarta, kecuali Jakarta Selatan. Harga cabai merah keriting di Pasar Slipi sampai Rp 70 ribu per kg.
Untuk deflasi bulanan Januari 2026, komoditas yang dominan memberikan andil deflasi antara lain cabai merah sebesar 0,16 persen, cabai rawit sebesar 0,08 persen, bawang merah sebesar 0,07 persen, daging ayam ras sebesar 0,05 persen, telur ayam ras sebesar 0,03 persen, serta bensin sebesar 0,03 persen.
Baca juga: Emas, Inflasi yang Tak Terasa tapi Menggerus Kelas Menengah
Inflasi komponen inti dan harga diatur pemerintah (administered prices)
Pada Januari 2026, inflasi tahunan komponen inti tercatat sebesar 2,45 persen, dengan inflasi bulanan dan tahun kalender masing-masing sebesar 0,37 persen.
Sementara itu, komponen yang harganya diatur pemerintah mengalami inflasi tahunan sebesar 9,71 persen dan komponen yang harganya bergejolak sebesar 1,14 persen.
Dari sisi andil terhadap inflasi tahunan, komponen inti menyumbang 1,59 persen, komponen harga diatur pemerintah menyumbang 1,77 persen, dan komponen bergejolak menyumbang 0,19 persen.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso menyatakan, inflasi administered prices Januari 2026 diakibatkan oleh faktor base effect seiring implementasi kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50 persen pada Januari-Februari 2025.
Baca juga: Kilau Emas Tak Tertahankan, Jadi Penentu Inflasi RI Sepanjang 2025
Inflasi komponen energi dan bahan makanan
Komponen energi pada Januari 2026 mengalami inflasi tahunan sebesar 14,94 persen, dengan kenaikan indeks dari 93,36 pada Januari 2025 menjadi 107,31 pada Januari 2026.
Komponen ini memberikan andil terhadap inflasi tahunan sebesar 1,49 persen, meskipun secara bulanan dan tahun kalender mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,33 persen.
Sementara itu, komponen bahan makanan mengalami inflasi tahunan sebesar 1,19 persen, dengan kenaikan indeks dari 112,06 pada Januari 2025 menjadi 113,39 pada Januari 2026.
Komponen ini memberikan andil terhadap inflasi tahunan sebesar 0,25 persen, dan mengalami deflasi bulanan serta tahun kalender masing-masing sebesar 1,55 persen.
Ilustrasi inflasi.
Baca juga: Membaca Ulang Angka Inflasi BPS, Lonjakan Harga Emas hingga Bencana Sumatera
Perbandingan dengan Januari tahun sebelumnya
BPS mencatat, tingkat inflasi tahunan Januari 2026 sebesar 3,55 persen lebih tinggi dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 0,76 persen dan Januari 2024 yang sebesar 2,57 persen.
Sementara itu, tingkat deflasi tahun kalender Januari 2026 sebesar 0,15 persen. Sebagai perbandingan, tingkat deflasi tahun kalender Januari 2025 sebesar 0,76 persen dan tingkat inflasi tahun kalender Januari 2024 sebesar 0,04 persen.
BI prediksi inflasi tahunan 2026 dan 2027 akan menurun
Denny menyebut, inflasi tahunan Januari 2026 sedikit meningkat dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,92 persen (yoy).
"Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi 2026 dan 2027 secara tahunan akan menurun sehingga tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen," tutur Denny.
Baca juga: Inflasi Tampak Jinak, Biaya Hidup Kota Justru Kian Mencekik
Menurut dia, prediksi ini didukung oleh konsistensi kebijakan moneter dan eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional, dan berakhirnya pengaruh base effect akibat rendahnya inflasi Januari 2025 karena implementasi kebijakan diskon tarif listrik.
Tag: #inflasi #januari #2026 #persen #dipicu #tarif #listrik #hingga #beras