Visa Catat Lonjakan Penggunaan AI dalam Penipuan Digital
Lonjakan penggunaan kecerdasan buatan mulai mengubah peta risiko pembayaran digital di Indonesia.
Visa mencatat penyebutan istilah AI Agent meningkat 477 persen, menandai percepatan taktik penipuan berbasis AI di tengah pertumbuhan pesat transaksi digital nasional.
Isu tersebut mengemuka dalam Industry Risk and Digital Forum yang digelar Visa bersama pelaku perbankan, perusahaan teknologi finansial, penyedia layanan pembayaran, serta regulator.
Forum ini membahas perubahan pola kejahatan siber seiring meluasnya adopsi kartu, dompet digital, QRIS, hingga pembayaran real time antar rekening.
Baca juga: Pembayaran Digital Tumbuh Cepat, Visa Ingatkan Perlunya Penguatan Sistem Keamanan
Pertumbuhan transaksi digital Indonesia berlangsung agresif. Nilai transaksi kartu, dompet digital, QRIS, mobile banking, dan internet banking tumbuh 26 persen secara tahunan hingga Rp 7.000 triliun. Pembayaran real time account to account meningkat lebih tinggi, naik 37 persen menjadi Rp 12.000 triliun.
Di balik ekspansi tersebut, risiko penipuan ikut meningkat. Indonesia Anti Scam Center Otoritas Jasa Keuangan mencatat lebih dari 400.000 laporan penipuan online sepanjang tahun lalu dengan total kerugian Rp 9,1 triliun.
Visa menilai kejahatan siber kini bergerak lebih cepat dan terstruktur. Jaringan kriminal memanfaatkan botnet, otomasi, serta kecerdasan buatan untuk menjalankan serangan berskala besar secara bersamaan.
Kenaikan tajam penggunaan AI Agent mencerminkan maraknya rekayasa sosial berbasis AI dan ekstraksi data otomatis.
“Indonesia adalah salah satu pasar pembayaran digital paling dinamis di Asia Pasifik. Inovasi tumbuh cepat, tetapi ancaman berbasis AI berkembang sama cepatnya. Ekosistem harus selalu selangkah di depan,” kata Head of Risk Regional Southeast Asia Visa Abdul Rahim, dalam keterangan yang diterima, Selasa (3/2/2025).
Baca juga: Perluas Akses Transaksi Global, Bank Jakarta Luncurkan Kartu Debit Visa
Country Manager Visa Indonesia Vira Widiyasari menegaskan penguatan keamanan menjadi syarat utama keberlanjutan ekonomi digital. Menurut dia, pertumbuhan transaksi perlu ditopang fondasi kepercayaan.
“Visa membawa wawasan global dan kapabilitas keamanan kepada mitra lokal agar pengalaman transaksi masyarakat tetap aman dan mulus,” ujar Vira.
Head of Risk Visa Indonesia Nitia menyebut keamanan menjadi fondasi utama pembayaran digital, terutama ketika QRIS, dompet digital, dan pembayaran real time semakin meluas. Ia menekankan pentingnya deteksi dini terhadap pola penipuan baru.
Visa menyatakan kapabilitas globalnya mencakup deteksi risiko berbasis AI, tokenisasi, autentikasi modern, serta program Visa Scam Disruption untuk mengidentifikasi dan membongkar jaringan penipuan sebelum meluas. Langkah ini disebut sejalan dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025.
Tag: #visa #catat #lonjakan #penggunaan #dalam #penipuan #digital